SURYA.co.id, JAKARTA — Misteri kematian Sutrimo (62), pria yang ditemukan tewas di depan klinik kecantikan terbengkalai di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026), masih menyisakan tanda tanya.
Meski demikian, keluarga korban memilih mengikhlaskan kepergian almarhum dan tidak menempuh jalur hukum
Keluarga Sutrimo di Banyumas, Jawa Tengah, menegaskan tidak akan menuntut siapa pun atas kematian almarhum. Kerabat korban, Sudiono, mengatakan keluarga hanya berharap Sutrimo didoakan.
“Keluarga tidak menuntut apapun dan sudah ikhlas, mohon didoakan saja,” ujarnya, dilansir YouTube KompasTV, Rabu (29/7/2026).
Sudiono menambahkan, Sutrimo memang memiliki riwayat penyakit diabetes melitus kronis. Hal itu menjadi alasan keluarga enggan mempermasalahkan kematian yang dianggap janggal oleh sebagian pihak.
Jenazah Sutrimo telah dimakamkan di TPU Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, pada Kamis malam setelah tiba dari Jakarta.
Sebelumnya, Sutrimo ditemukan tak sadarkan diri di depan bangunan bekas klinik kecantikan yang sudah lama tutup sejak pandemi Covid-19.
Korban sempat dibawa ke RS Muhammadiyah Taman Puring, namun dinyatakan meninggal saat tiba di rumah sakit.
Divisi Hukum RS Muhammadiyah Taman Puring, Ahmad, mengatakan tidak menemukan busa di mulut korban saat pemeriksaan.
“Pasien atas nama Sutrimo dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring menggunakan ambulans luar. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien dinyatakan telah meninggal dunia sebelum tiba di rumah sakit,” jelasnya, Senin (27/7/2026), dilansir Kompas.com.
Baca juga: Alasan IPW Sebut Kematian Sutrimo Karumga Eks Jampidsus Febrie Janggal, Diduga Tahu Barang Bukti
Polisi kemudian melakukan olah TKP lanjutan di lokasi penemuan jasad. Gedung tempat korban ditemukan diketahui sudah tidak beroperasi sejak masa pandemi.
Tim Inafis Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan bersama Puslabfor Polri mendatangi lokasi dan mengamankan sejumlah barang bukti.
Barang bukti yang diamankan antara lain bantal biru, botol plastik, sampel sisa makanan dan minuman, serta sepeda motor matik yang berada di lokasi.
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendesak agar kepolisian mengusut tuntas kasus ini.
“Kematian tersebut harus diungkap, dibuat terangnya peristiwa seterang-terangnya penyebab kematiannya, identitasnya, dan latar belakangnya. Termasuk mencari siapa pelakunya kalau itu memang akibat kejahatan,” kata Komisioner M Choirul Anam seperti dikutip dari Tribunnews
Anam menambahkan, kasus ini mendapat banyak sorotan publik karena dinilai tidak wajar. “Oleh karenanya Polda Metro Jaya penting untuk mengungkapkan kasus ini seterang-terangnya dengan cara profesional dan transparan,” ucapnya.
Baca juga: Misteri Kematian Sutrimo di Halaman Klinik hingga Dikaitkan Rumah Dinas Eks Jampidsus
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyatakan pihaknya masih mendalami informasi. Ia mengimbau keluarga korban membuat laporan jika merasa ada kejanggalan.
“Polda Metro Jaya pasti akan mendalami informasi sekecil apa pun, apalagi terkait hilangnya nyawa seseorang. Kami juga memberikan imbauan apabila memang keluarga korban merasa ada kejanggalan, silakan membuat laporan,” ujarnya.
Budi menambahkan, langkah penyisiran CCTV maupun ekshumasi jenazah dapat dilakukan bila diperlukan sesuai prosedur hukum.
Ia menjelaskan, ekshumasi merupakan tahapan lanjutan dalam proses penyelidikan apabila diperlukan untuk memastikan penyebab kematian.
Ketentuan mengenai ekshumasi telah diatur dalam KUHAP. Dalam kondisi tertentu, tindakan tersebut dapat dilakukan untuk mengungkap apakah kematian seseorang tergolong wajar atau tidak.
Hingga kini, Polda Metro Jaya masih melakukan pendalaman dan belum menyampaikan kesimpulan resmi terkait penyebab kematian Sutrimo.
Menurut keterangan tetangga di Banyumas, Sutrimo sudah puluhan tahun bekerja di rumah mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.
“Infonya ikut Bos Kejaksaan, kerjanya nunggu rumah. Kerja sudah puluhan tahun, mungkin sekitar 20 tahun,” ungkap tetangga, dikutip dari TribunBanyumas.com.