UNISLA Gandeng Kampus UTHM Malaysia dan Untag Surabaya, Inisiasi Biopori di 17 Desa Rawan Banjir
Dyan Rekohadi July 29, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Ancaman banjir tahunan yang kerap melanda wilayah Lamongan kini mendapat perhatian serius melalui aksi kolaborasi lintas negara antara Universitas Islam Lamongan (UNISLA), Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Tiga perguruan tinggi itu bersinergi menerjunkan ribuan mahasiswa KKN Berdampak guna menerapkan teknologi sederhana pencegah banjir berupa lubang resapan biopori di kawasan rawan genangan.

Inovasi pengabdian masyarakat itu tidak hanya menjadi benteng mitigasi bencana, tetapi juga menjadi sorotan internasional karena dinilai sangat relevan diterapkan di negara tetangga.

Baca juga: Dandim Lamongan Tinjau Pembangunan Jembatan Merah Putih Armco di Sumberejo

 

Solusi Nyata Atasi Bencana Banjir Tahunan

Kolaborasi itu diwujudkan melalui program pembuatan lubang resapan biopori di desa-desa lokasi KKN, salah satunya di Desa Keben, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan.

Program ini diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi risiko banjir sekaligus membuka peluang riset yang bermanfaat bagi masyarakat.

Rektor UNISLA Abdul Ghofur mengatakan, kegiatan itu merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah dijalin antarkampus. Menurutnya, kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata mahasiswa di lapangan, Rabu (29/7/2026).

"Ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah disampaikan saat penandatanganan MoU di kampus, " kata Abdul Ghofur.

Muaranya nanti bisa menjadi riset karena daerah ini setiap tahun mengalami banjir. Harapannya, contoh yang sudah dibekalkan kepada mahasiswa KKN bisa ditindaklanjuti di lokasi pengabdian.

Ia menjelaskan, Kecamatan Turi dipilih karena hampir setiap tahun mengalami banjir.

Melalui penerapan teknologi sederhana berupa lubang resapan biopori, daya serap air di lingkungan permukiman diharapkan meningkat sehingga dapat mengurangi genangan.

Abdul Ghofur juga berharap masyarakat ikut berpartisipasi dalam program itu. Setiap keluarga diimbau memiliki sedikitnya satu hingga tiga lubang biopori di pekarangan rumah.

"Minimal setiap keluarga memiliki satu sampai tiga biopori. Tujuannya tentu untuk meningkatkan daya resap air sehingga dapat mengurangi genangan maupun risiko banjir," katanya.

Baca juga: Krisis Air Bersih Mengancam 89 Desa di Lamongan Saat Puncak Musim Kemarau

 

Apresiasi Tinggi dari Akademisi Malaysia


Program itu mendapat apresiasi dari Dekan Pusat Pengajian Siswazah UTHM Malaysia, Prof. Zaki Bin Noh. Ia menilai model KKN yang diterapkan UNISLA menjadi pengalaman baru yang layak diterapkan di negaranya.

Menurut Prof. Zaki, untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana perguruan tinggi dapat menjembatani kebutuhan masyarakat melalui program KKN yang memberikan solusi terhadap persoalan lingkungan.

"Ini kali pertama saya melihat usaha universiti kepada komuniti melalui program KKN seperti ini. Bagi saya, ini sesuatu yang sangat menarik dan boleh diaplikasikan di UTHM untuk program KKN di sana," ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi geografis di sejumlah wilayah Malaysia memiliki kemiripan dengan Indonesia sehingga metode biopori dinilai berpotensi diterapkan sebagai salah satu upaya mitigasi banjir.

"Persekitarannya hampir sama, geografinya juga hampir sama. Sebab itu saya melihat kaedah yang dibuat UNISLA kepada komuniti ini sangat relevan dan berpotensi diterapkan di UTHM," tuturnya.

Baca juga: Persela Lamongan Mulai Persiapan Championship 2026/2027, Trio Brasil Masih Ditunggu

 

 

Sasar Ibu Rumah Tangga di 17 Desa


Sementara itu, Ketua Litbang UNISLA Nur Azizah Afandi mengatakan, program biopori menjadi salah satu fokus utama KKN Berdampak yang dilaksanakan bersama mitra internasional dan perguruan tinggi dalam negeri.

Sebanyak 17 desa di Kecamatan Turi menjadi lokasi sosialisasi sekaligus implementasi pembuatan lubang resapan biopori oleh mahasiswa.

"Ada 17 desa yang menjadi sampel kami di Kecamatan Turi. Di masing-masing desa, mahasiswa akan memberikan sosialisasi mengenai cara pemasangan, fungsi, dan manfaat biopori kepada masyarakat," ujarnya.

Nur Azizah menjelaskan, sasaran utama program itu adalah ibu rumah tangga karena dinilai memiliki peran penting dalam pengelolaan lingkungan keluarga, termasuk pemanfaatan sampah organik yang dapat diolah melalui lubang biopori.

"Target kami memang ibu-ibu rumah tangga yang nantinya dapat memanfaatkan lubang-lubang biopori ini sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus mengelola sampah organik di rumah," katanya.

Menurutnya, manfaat biopori memang tidak dapat dirasakan secara instan. Namun, apabila dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan masyarakat, program itu diyakini mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap konservasi air dan pengurangan risiko banjir. Dukungan juga datang dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Wakil Rektor II Untag Surabaya, Supangat, menilai kolaborasi lintas perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk memperkaya pengalaman mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat.

"Kolaborasi yang ada di Untag kami coba kembangkan bersama UNISLA. Mulai dari kerja sama internasional hingga community internasional seperti ini sudah berjalan, sehingga kami membawa pengalaman tersebut kepada teman-teman di UNISLA," ujarnya.

Ia berharap sinergi itu mampu memperluas wawasan mahasiswa, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dalam membangun perspektif global saat menjalankan program pengabdian di tengah masyarakat.

"Harapannya, muatan kegiatan tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki wawasan internasional sehingga mahasiswa semakin siap menghadapi tantangan global," katanya.

Melalui kolaborasi UNISLA, UTHM Malaysia, dan Untag Surabaya, program KKN Berdampak diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan di desa, sekaligus menghasilkan inovasi berbasis riset untuk mendukung ketahanan lingkungan di wilayah yang rawan banjir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.