Di Balik Ancaman Trump Serang Gunung Pickaxe: Benteng Nuklir Iran Sedalam Puluhan Meter
Hasiolan Eko P Gultom July 29, 2026 10:35 PM

Di Balik Ancaman Trump Serang Gunung Pickaxe: Benteng Nuklir Iran Sedalam Puluhan Meter

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan memperingatkan bahwa Washington siap menyerang fasilitas nuklir bawah tanah Gunung Pickaxe apabila perundingan mengenai program nuklir Teheran gagal mencapai kesepakatan.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (28/7/2026), menjelang pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump mengatakan AS memahami situasi di fasilitas tersebut dan tidak membutuhkan tambahan informasi intelijen untuk mengambil keputusan.

Baca juga: Bos Mossad dan Bos CIA Berbagi Intelijen Soal Nuklir di Gunung Pickaxe, Iran: Dalih Buat Menyerang

Trump menegaskan bahwa jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama, tetapi jika Iran tidak memberikan kemajuan dalam pembicaraan, fasilitas nuklir bawah tanah itu harus dihancurkan.

“Kami tahu persis apa yang ada di sana,” ujar Trump, seraya kembali membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap fasilitas yang disebut menjadi salah satu lokasi nuklir paling terlindungi milik Iran.

Pernyataan tersebut menjadi kali kedua dalam satu pekan Trump secara terbuka menyebut Gunung Pickaxe sebagai target potensial. Sebelumnya pada 21 Juli, Trump juga memperingatkan bahwa tindakan militer dapat dilakukan jika Iran tidak menunjukkan perkembangan dalam negosiasi nuklir.

Benteng Nuklir di Dalam Gunung

Gunung Pickaxe berada di dekat kompleks nuklir Natanz, Provinsi Isfahan, Iran tengah.

Berdasarkan analisis citra satelit dan laporan sejumlah lembaga internasional, lokasi tersebut diyakini sebagai salah satu fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang paling sulit ditembus.

Fasilitas itu dibangun jauh di bawah permukaan gunung dengan perlindungan lapisan batuan tebal, sehingga dirancang untuk bertahan dari serangan udara konvensional.

Kedalaman dan struktur pertahanannya membuat Gunung Pickaxe menjadi target yang jauh lebih kompleks dibanding fasilitas nuklir terbuka.

Bahkan bom penghancur bunker konvensional disebut memiliki keterbatasan dalam menembus perlindungan alami maupun struktur beton berlapis yang mengelilinginya.

Karena karakteristik tersebut, fasilitas seperti Gunung Pickaxe menjadi salah satu alasan mengapa kemampuan bom penghancur bunker berukuran besar seperti GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP) milik AS menjadi perhatian dalam skenario serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

FASILITAS NUKLIR - Gunung Pickaxe terletak di dekat fasilitas nuklir Natanz di provinsi Isfahan, Iran tengah. Wilayah gunung bebatuan ini disebut-sebut menjadi jantung dari fasilitas nuklir Iran. (Tribunnews.com/Foto: CCTV)

Belum Pernah Diperiksa IAEA

Salah satu faktor yang meningkatkan perhatian negara-negara Barat adalah status fasilitas tersebut yang belum pernah menjalani pemeriksaan langsung oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Para pejabat Barat sebelumnya menyatakan kekhawatiran bahwa lokasi bawah tanah seperti itu dapat memberikan ruang bagi Iran untuk mengembangkan aktivitas nuklir yang sulit dipantau.

Namun, Teheran selama ini menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, termasuk untuk kebutuhan energi dan penelitian.

Ketegangan Meluas ke Selat Hormuz

Selain isu nuklir, Trump juga kembali menyinggung situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Trump menyatakan Iran tidak menguasai Selat Hormuz dan mengatakan AS memiliki kemampuan untuk menjaga keamanan kawasan tersebut.

Meski demikian, ia mengakui Iran tetap memiliki kemampuan untuk mengganggu pelayaran, termasuk melalui ancaman ranjau laut.

Iran pada saat yang sama menegaskan masih memiliki kendali atas lalu lintas maritim di Selat Hormuz dan membantah laporan bahwa Teheran telah menawarkan pembicaraan baru dengan Washington setelah Trump menghentikan kampanye serangan udara selama dua pekan.

Diplomasi atau Eskalasi Baru?

Ancaman Trump terhadap Gunung Pickaxe muncul ketika hubungan Washington-Teheran berada dalam kondisi rapuh.

Di satu sisi, kedua pihak disebut masih membuka peluang diplomasi, tetapi di sisi lain ancaman militer terus dikemukakan secara terbuka.

Jika AS benar-benar menyerang fasilitas tersebut, langkah itu berpotensi menjadi salah satu operasi militer paling kompleks terhadap infrastruktur nuklir Iran, sekaligus berisiko memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.

 

 

(oln/cnn/cctv/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.