Oleh: Muhammad Yusuf Bombang/Apa Kaoy *)
Air datang menjelang subuh, lebih cepat dari yang sempat dipahami orang-orang. Tidak hanya dari langit, tetapi juga dari arah hulu yang selama ini hanya disebut dalam percakapan—tanpa pernah benar-benar diperhatikan.
Malam itu hujan turun tanpa suara petir. Hanya deras, dan lama sekali. Seolah langit sedang mengosongkan sesuatu.
Sebelum azan Subuh terdengar, jalan kampung sudah berubah menjadi aliran keruh. Pagar rumah roboh satu per satu. Ayam, kambing, sapi, kerbau, babi, gajah, kayu bakar, ember, kasur, periuk, seng, semua hanyut.
Baca juga: Malelang Dan Madiyon
Semuanya digulung air yang bercampur aduk dengan lumpur dan kayu gelondongan yang terjun dari gunung. Orang-orang berteriak memanggil nama keluarga mereka sendiri.
Listrik padam tepat ketika arus mulai masuk ke rumah-rumah. Gelap turun bersamaan dengan air. Aku sempat melihat cahaya senter bergerak liar di antara arus sebelum akhirnya hilang. Setelah itu, yang terdengar hanya gemuruh air dan suara dari benda-benda yang dihantamnya.
Dari arah gunung, sesuatu datang bersama gemuruh panjang. Batang-batang kayu besar. Gelondongan. Sebagian masih utuh, sebagian patah, menghantam apa saja di depannya. Tiang rumah. Dinding papan. Jembatan. Dan warung-warung di tikungan jalan.
Di sela arus itu aku melihat angka-angka tercetak pada kayu besar. Rapi dan lurus. Terlalu jelas untuk disebut kebetulan.
“Itu kayu tebangan,” bisik seorang lelaki di dekatku.
Aku belum sempat menjawab ketika terdengar suara lain dari belakang.
“Air tidak datang sendiri.”
Aku menoleh. Pawang Leman berdiri di bawah hujan, memandangi ke arah hulu. Tubuhnya kurus. Sarungnya digulung sampai lutut. Wajahnya setengah gelap. Ia dikenal sebagai orang yang paling lama hidup di kampung itu.
Baca juga: Kementan dan Pemkab Nagan Perkuat Swasembada Pangan, dengan Penerapan Pertanian Modern PM-AAS
Dulu ia sering masuk hutan berhari-hari untuk mencari rotan dan damar. Orang-orang menyebutnya pawang bukan karena ilmu aneh, melainkan karena ia tahu jalan-jalan lama di gunung, bahkan lebih baik daripada siapa pun.
“Hutan di atas sana sudah lama berubah,” katanya pelan. Lalu ia pergi membantu warga yang berusaha menyelamatkan seorang anak kecil dari arus.
Pagi datang tanpa benar-benar menghadirkan terang. Air masih tinggi. Lumpur menutupi halaman. Bau kayu basah bercampur solar dan tanah longsor memenuhi udara. Orang-orang berdiri di sisa jalan yang masih terlihat, memandangi kampung mereka seperti memandangi tempat asing.
Di belakang meunasah, seorang perempuan duduk memeluk tas sekolah anaknya yang ditemukan tersangkut di batang pisang. Anak itu belum ditemukan sampai siang. Tak ada yang berani bertanya terlalu banyak kepadanya.
Baca juga: MAA Aceh Utara Latih Pemuda Pelopor dan Duta Adat untuk Lestarikan Warisan Indatu
Menjelang siang, beberapa mobil datang dari kota, ke tempat kami mengungsi sementara. Sepatu orang-orang yang turun dari mobil itu bersih. Pakaian mereka rapi. Wajah mereka tampak siap sebelum benar-benar melihat keadaan.
“Kami sudah melakukan langkah cepat,” kata salah seorang di antara mereka di depan kamera. “Semuanya sedang dalam penanganan.”
Tak jauh dari situ, seorang warga menunjuk ke arah gelondongan kayu besar yang menyangkut di bekas jembatan.
“Itu dari mana, Pak?”
Pejabat itu menoleh sebentar.
“Itu alami,” jawabnya tenang. “Angka-angka pada kayu itu bisa saja terbentuk karena jamur. Dan bekas potongan yang tampak rapi itu akibat dari tekanan air.”
Baca juga: VIDEO - Iskandar Mahmud Dorong Implementasi Qanun Kota Layak Anak di Banda Aceh
Beberapa orang saling pandang. Tidak ada yang langsung membantah. Tetapi kalimat itu terdengar seperti baju yang dipaksakan pada tubuh yang bukan ukurannya. Pawang Leman tanpa bicara, sedang berdiri agak jauh sambil memandangi kayu-kayu itu.
Hari berikutnya, beberapa warga mencoba menarik satu batang kayu ke tepi menggunakan tali tambang. Belum sempat selesai, seorang petugas datang.
“Jangan diambil.”
“Kenapa?” tanya seorang warga.
“Itu milik negara.”
Orang-orang terdiam sesaat.
“Itu kayu-kayu yang menghantam rumah kami,” sahut seorang lelaki yang rumahnya hilang terbawa arus.
“Yang hampir membunuh kami juga milik negara?” timpal yang lain.
Petugas itu tampak ragu beberapa detik sebelum menjawab pendek,
“Aturannya begitu.”
Kayu itu tetap di situ—setengah tertanam lumpur—seperti sesuatu yang tidak diakui asalnya tetapi dijaga kepemilikannya.
Malamnya, genset kecil meraung di beberapa sudut kampung, lalu mati satu per satu karena kehabisan bahan bakar. Gelap kembali memenuhi semuanya. Aku duduk di sisa beranda rumah bersama Pawang Leman.
Dari kejauhan terdengar suara orang-orang di pengungsian batuk dan menangis bergantian.
“Hulu dulu tidak seperti sekarang,” katanya tiba-tiba. Aku diam mendengarkan.
“Dulu kalau hujan besar, air tetap tahu jalannya. Sekarang?” Ia memandang gelap, “Sekarang hutan tidak lagi menyimpan apa-apa.”
Beberapa hari kemudian, pembicaraan tentang status bencana mulai terdengar. Gagah, tegas, dan penuh percaya diri.
“Ini tidak perlu jadi bencana nasional,” kata seorang pejabat di televisi kecil milik posko pengungsian. “Kita mampu menangani sendiri.”
Baca juga: Kapolres Nagan Raya Minta Samsat dan Satpas Wujudkan Pelayanan Publik Maksimal ke Masyarakat
Orang-orang mendengarnya sambil antre sebungkus mi instan dan sebotol air bersih. Seorang lelaki tertawa pendek,
“Menangani apa?” Tak ada yang menjawab.
Di hari-hari berikutnya, bantuan mulai berdatangan. Makanan, selimut. obat-obatan. Tetapi tidak semuanya sampai.
Ada kardus yang hilang di perjalanan. Ada bantuan yang entah berpindah ke mana. Ketika beberapa warga bertanya, jawabannya datang cepat.
“Itu bukan hilang, tetapi diamankan.”
“Diamankan di mana?”
“Di tempat yang aman.” Percakapan selalu berhenti di situ.
Beberapa minggu kemudian, seorang pejabat lain muncul di layar ponsel warga yang sesekali mendapat sinyal.
“Listrik akan pulih paling lambat minggu depan. Sembilan puluh persen wilayah sudah menyala.”
Orang-orang ingin percaya. Mereka memang membutuhkan sesuatu untuk dipercaya. Tetapi minggu berikutnya datang tanpa perubahan. Tiang listrik masih rebah. Kabel masih terendam lumpur. Malam tetap gelap. Janji itu perlahan hilang seperti suara radio yang kehabisan baterai.
Suatu sore, jembatan darurat di jalan lintas nasional akhirnya selesai dibangun. Orang-orang mulai berharap setidaknya kendaraan sudah bisa lewat.
Namun beberapa hari kemudian jembatan itu roboh. Antrean panjang kendaraan tertahan dari dua arah. Orang-orang berdiri memandang rangka besi yang miring ke sungai.
Tak lama setelah itu, seorang pejabat kembali muncul di depan kamera.
Baca juga: 386 Ha Sawah di Aceh Jaya Kekeringan, Pemkab Kerahkan Pompa Brigade Pangan
“Jembatan itu roboh karena ada baut yang dicuri. Aku sampai tak bisa tidur malam karena memikirkan itu”
Aku memandangi jembatan itu. Sejak dibangun, tempat itu dijaga siang-malam. Kendaraan tidak pernah sepi. Orang berlalu-lalang tanpa henti. Di sampingku, seorang pengendara motor berbisik pelan,
“Begini ramai orang, baut jembatan kok bisa dicuri?”
“Untuk apa pula sebiji baut itu dicurinya?” sambung yang lain. Tidak ada yang menjawab.
Orang-orang mulai terbiasa dengan jawaban-jawaban yang terdengar lengkap tetapi tidak benar-benar menjelaskan apa pun.
Bulan demi bulan lewat perlahan. Air sudah lama surut, tetapi lumpur belum selesai. Banyak rumah masih tertimbun hampir setinggi atap.
Sawah berubah menjadi lapisan tanah keras yang belum bisa ditanami. Tambak rusak, bahkan ada yang tertimbun tak lagi berbentuk tambak. Sumur keruh, dan ada juga yang sudah tertimbun lumpur.
Seolah semuanya sudah selesai. Padahal tenda-tenda masih berdiri. Yang hilang belum semuanya ditemukan. Dan banyak orang mulai memilih diam. Bukan karena tidak ingin bicara, tetapi karena merasa tidak ada lagi yang benar-benar mendengar.
Pada suatu malam, aku kembali duduk bersama Pawang Leman di sisa beranda rumah. Angin membawa bau lumpur yang belum sepenuhnya hilang.
Baca juga: Kunjungi Poltekpel Malahayati, HRD Perjuangkan Kuota Khusus Sekolah Pelayaran untuk Anak Aceh
“Hutan itu sudah lama berubah,” katanya lagi.
Aku mengangguk. “Kita tahu.”
Pawang Leman menoleh pelan. “Bukan cuma kita. Banyak yang tahu.” Aku terdiam.
“Bedanya,” lanjutnya, “ada yang memilih diam… dan ada yang memilih bicara, tapi tidak mengatakan apa-apa.”
Aku teringat pada suara-suara di televisi. Pada kalimat-kalimat rapi yang terus diulang. Pada penjelasan yang terdengar tenang tetapi selalu meninggalkan sesuatu yang kosong.
Dan perlahan aku mulai mengerti bahwa yang paling menakutkan bukan hanya air yang datang dari gunung. Melainkan bagaimana kenyataan itu bisa berubah hanya karena cara ia disebutkan.
Kayu tebangan menjadi “alami”.
Keterlambatan menjadi “proses, sedang dalam penangan”.
Kehilangan harta benda menjadi “pendataan”.
Bantuan yang hilang disebut “diamankan”.
Dan janji berubah menjadi sesuatu yang tidak perlu diingat terlalu lama.
Baca juga: Kemarau Panjang, 386 Hektare Sawah di Aceh Jaya Mulai Kekeringan
Malam makin larut. Aku memandang ke arah hulu yang gelap. Di antara sisa-sisa kayu yang masih tersangkut di tepian sungai, angka-angka itu tetap terlihat samar terkena cahaya bulan. Tidak hilang. Seperti sesuatu yang tetap ada meskipun tak pernah benar-benar diakui.
Dan di situlah akhirnya aku merasa paham: bahwa setelah bencana lewat, yang tersisa bukan hanya lumpur, kayu, atau reruntuhan rumah—melainkan jarak panjang antara apa yang terjadi dan apa yang dikatakan.(*)
Banda Aceh, Februari 2026
Biodata Penulis:
Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy) adalah seniman dan budayawan Aceh yang aktif dalam bidang teater, sastra, dan pelestarian seni tradisi Aceh. Ia telah menerbitkan buku Hikayat Cangguek Pong Pajoh Kapai (2022) dan karya-karyanya banyak mengangkat kehidupan masyarakat serta kebudayaan Aceh. Saat ini menetap di Banda Aceh.