Bukan Melarang, Ini Cara SMP Bumi Cendekia Yogyakarta Alihkan Siswa dari Penggunaan Gawai
Mursal Ismail July 30, 2026 01:03 AM

SERAMBINEWS.COM - SMP Bumi Cendekia Yogyakarta menerapkan pembatasan penggunaan gawai sebagai upaya mengurangi ketergantungan siswa terhadap perangkat digital. 

Sekolah tidak melarang siswa membawa laptop maupun telepon genggam, tetapi mengatur penggunaannya secara jelas.

Laptop hanya digunakan satu hari dalam sepekan, sedangkan telepon genggam digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran di bawah pengawasan guru.

Setelah kebijakan tersebut diterapkan, siswa dinilai lebih siap mengikuti pelajaran, lebih aktif berinteraksi, berolahraga, dan membaca buku.

Teknologi tetap dimanfaatkan sebagai sumber belajar, termasuk melalui YouTube dan penggunaan AI secara terarah.

Guru menekankan pentingnya kemampuan mengolah informasi dan menyampaikan pendapat secara mandiri.

Baca juga: Kementan dan Pemkab Nagan Perkuat Swasembada Pangan, dengan Penerapan Pertanian Modern PM-AAS

Kebijakan ini sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.

Pemerintah berharap pembatasan tersebut dapat membentuk kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat serta mendukung kesehatan mental siswa sejak dini.

SMP Bumi Cendekia Yogyakarta memberikan alternatif cara untuk mengalihkan siswa dari penggunaan gawai yang berlebihan di sekolah. 

Antara lain dengan membiasakan siswa berkumpul dengan teman, bermain bola, atau membaca buku.

Kepala SMP Bumi Cendekia, Wisnu Utomo, mengatakan sekolahnya tidak melarang siswa membawa gawai.

Pengoperasiannya Diatur dengan Jelas

Baca juga: VIDEO - Iskandar Mahmud Dorong Implementasi Qanun Kota Layak Anak di Banda Aceh

Ia menegaskan bahwa laptop dan telepon genggam tetap boleh dibawa ke sekolah, tetapi pengoperasiannya diatur dengan jelas.

Laptop kini hanya digunakan satu hari dalam sepekan, sedangkan telepon genggam digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran di bawah pengawasan guru.

"Dulu, saat murid bisa menggunakan laptop hampir setiap hari, konsentrasi belajar justru mudah terpecah. Guru juga membutuhkan waktu lebih lama untuk menyiapkan pembelajaran karena murid masih sibuk dengan perangkatnya," kata Wisnu, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).

Wisnu menegaskan bahwa pihaknya mendukung Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.

Kini, setelah sekolah membatasi penggunaan laptop dan telepon genggam, perubahan mulai terlihat.

"Murid lebih siap saat guru masuk kelas, lebih banyak berinteraksi dengan teman, lebih aktif berolahraga, dan semakin sering memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku,"

Sementara itu, Guru Bahasa Indonesia Triana Ratnasari mengatakan bahwa meski ada pembatasan penggunaan gawai, teknologi tetap menjadi bagian dari proses belajar.

Anak-anak Tetap Memanfaatkan Teknologi sebagai Sumber Belajar

"Anak-anak tetap memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar. Yang kami latih adalah bagaimana mereka mengolah informasi dan menyampaikan pendapatnya sendiri, bukan bergantung pada teknologi," kata Triana.

Triana juga menambahkan bahwa siswa sudah mengenal kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Namun, kata Triana, karena sekolah membatasi penggunaan gawai dan menyelesaikan sebagian besar tugas di sekolah, pemanfaatan AI menjadi lebih terarah sebagai pendukung pembelajaran, bukan sekadar untuk menyelesaikan tugas secara instan.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa kebijakan penggunaan gawai bertujuan membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat sejak dini.

Selain itu, kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Oleh karena itu, keberhasilan kebijakan tersebut membutuhkan dukungan seluruh ekosistem pendidikan.

“Kami di Kementerian telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai.

Tujuannya agar murid terkontrol dan dibiasakan tidak bergantung pada handphone.

Sehingga sejak usia dini mereka terbiasa bahwa handphone itu hanya sebagai alat pendukung, sehingga tidak ada ketergantungan yang berlebihan terhadap penggunaan handphone,” ujar Wamen Fajar di Yogyakarta, Jumat (24/7/2026). (*)

Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2026/07/29/194243071/bukan-melarang-ini-cara-sekolah-alihkan-siswa-dari-penggunaan-gawai

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.