SURYA.CO.ID, SURABAYA - Memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melumpuhkan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz kini memukul telak para pelaku usaha ekspor di Jawa Timur hingga terpaksa melakukan tindakan darurat re-impor.
Sejumlah kargo barang yang telah dikirimkan gagal mencapai negara tujuan akibat kapal tak mampu menembus wilayah konflik.
Kondisi itu tidak hanya menghambat rantai pasok global, tetapi juga membayang-bayangi pengusaha lokal dengan rentetan beban fiskal yang tak terduga.
Baca juga: Duduk Perkara Wanita di Surabaya Robohkan Rumah Dinas Bea Cukai: Klaim Sudah Beli Rp 500 Juta
Situasi di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, dirasakan para Eksportir di Jawa Timur.
Hal itu disampaikan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Perak, melalui Forum Konsultasi Publik, di Auditorium Rabu siang (29/7/2026).
Bea Cukai Tanjung Perak mencatat sejumlah Eksportir, harus melakukan Re-Impor karena barang tidak dapat melanjutkan perjalanan ke negara tujuan.
Menurut Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Tanjung Perak, Navy Zawariq, beberapa perusahaan mengeluh bahwa barang mereka tidak bisa sampai di tujuan, hingga akhirnya harus dikembalikan ke Indonesia.
“Selama kami melakukan pelayanan, beberapa perusahaan eksportir mengakui mengandalkan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz,” ujar Navy Zawariq.
Ia menilai, kondisi perang yang melibatkan Amerika-Israel dan Iran, sangat berpengaruh terhadap pengguna jasa ekspor, yang pengirimannya kerap melewati jalur itu, sehingga terpaksa diberlakukan Re Impor.
“Re Impor dilakukan karena kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju negara tujuan,” terangnya.
Baca juga: Mendag Budi Santoso Dukung Penguatan Ekspor Ban, Siap Bantu Atasi Hambatan Industri
Kondisi itu, dinilai Navy, tidak hanya menghambat distribusi barang, tetapi juga menimbulkan konsekuensi fiskal yang harus dipenuhi eksportir sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pengaruhnya terasa bagi khususnya pengguna jasa di bidang ekspor, yang notabene mungkin sebagian barang mereka ya diekspor melalui Selat Hormuz terpaksa tidak bisa sampai sana. Re Impor berpengaruh bagi produsen yang tujuannya ke luar negeri,” jelasnya.
Navy mengungkapkan salah satu perusahaan asal Jawa Timur yang sempat terdampak adalah produsen kopi Kapal Api. Namun, ia belum dapat menyebutkan nilai kerugian maupun total barang yang terdampak karena masih dilakukan pendataan.
"Nilainya masih kami rekap karena ada perusahaan yang berkomunikasi langsung dengan kami, ada juga yang menyampaikan melalui sistem. Yang jelas dampaknya cukup signifikan bagi perusahaan," ungkapnya.
Ia menjelaskan, apabila situasi keamanan di Selat Hormuz kembali normal, barang-barang itu berpotensi dikirim kembali ke negara tujuan.
"Kalau nanti jalur itu sudah bisa dilalui lagi, tentu kemungkinan besar barang akan dikirim kembali," katanya.
Baca juga: Serangan Balasan Iran untuk AS Makin Memanas: Selat Hormuz Ditutup, Rudal dan Drone Berseliweran
Kendati demikian, Navy memastikan gangguan itu tidak memengaruhi proses perizinan ekspor di Bea Cukai.
Pihaknya tetap memberikan pelayanan sesuai ketentuan, termasuk memfasilitasi proses Re Impor bagi barang yang gagal mencapai negara tujuan.
"Kalau dari sisi perizinan ekspor sebenarnya tidak ada pengaruh. Kami tetap memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tandas Navy.