TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Sebanyak 8,2 persen anak usia 7-17 tahun di Kabupaten Wonosobo terindikasi mengalami gangguan penglihatan berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025. Sementara pada kelompok usia 18 tahun ke atas, angkanya mencapai 17,4 persen.
Temuan tersebut menjadi salah satu alasan Pemerintah Kabupaten Wonosobo meluncurkan Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE), sebuah program penguatan layanan kesehatan mata yang akan berlangsung selama lima tahun dengan dukungan Australia Aid.
Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), serta Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara YSKK dan Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo di Pendopo Selatan Kabupaten Wonosobo, Rabu (29/7/2026).
Baca juga: 4 Pemuda Jadi Tersangka Pengeroyokan di Wonosobo, Dipicu Cemburu hingga Mobil Korban Dibawa Kabur
Melalui program tersebut, Wonosobo ditetapkan sebagai satu dari tiga kabupaten percontohan (pilot project) di Jawa Tengah bersama Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Purbalingga.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, mengatakan terpilihnya Wonosobo sebagai lokasi pelaksanaan program menjadi bentuk perhatian terhadap tingginya persoalan kesehatan mata di daerah tersebut.
"Dengan ini artinya Wonosobo diperhatikan, karena memang persoalan kesehatan mata di daerah ini masih cukup tinggi," ujarnya.
Afif menilai gangguan penglihatan tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak pada pendidikan, ekonomi, hingga pembangunan daerah.
Karena itu, penanganan harus dimulai dari upaya promotif dan preventif, bukan hanya ketika masyarakat sudah mengalami gangguan.
Ia menekankan pentingnya edukasi kepada guru dan orang tua agar gangguan penglihatan pada anak dapat dideteksi sejak dini.
"Jangan sampai anak baru masuk SD sudah menggunakan kacamata dengan minus tinggi. Ketika gangguan penglihatan terlambat diketahui, kecenderungannya akan terus bertambah. Pencegahan harus dimulai dari hulu," katanya.
Menurut Afif, program tersebut akan menjangkau seluruh 265 desa dan kelurahan, termasuk satuan pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs hingga sekolah luar biasa (SLB).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, mengungkapkan hasil CKG 2025 menunjukkan sebanyak 7.474 dari 91.306 anak usia 7-17 tahun yang menjalani skrining terindikasi mengalami gangguan penglihatan.
Sementara itu, pada kelompok usia 18 tahun ke atas, sebanyak 10.003 dari 57.579 orang yang diperiksa juga menunjukkan indikasi gangguan penglihatan. Kondisi tersebut masih terlihat konsisten pada data Semester I 2026.
"Data ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan mata harus diperkuat dari hulu. Jangan menunggu masyarakat datang ketika sudah mengalami gangguan berat. Deteksi dini menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat," ucap Jaelan.
Ia menjelaskan kerja sama dengan YSKK tidak hanya berupa bantuan jangka pendek, melainkan penguatan sistem layanan kesehatan mata secara menyeluruh.
Program I-SEE mencakup pelatihan kader Posyandu, guru, tenaga kesehatan Puskesmas hingga dokter spesialis mata, penguatan sarana dan prasarana layanan, penyediaan beasiswa bagi dokter spesialis mata putra daerah untuk menempuh pendidikan subspesialis, penguatan sistem skrining dan rujukan, serta pendampingan bagi masyarakat yang mengalami kendala transportasi maupun lansia tanpa pendamping.
Direktur YSKK, Iwan Setiyoko, mengatakan Wonosobo dipilih sebagai wilayah percontohan setelah melalui asesmen di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Menurutnya, terdapat dua pertimbangan utama, yakni tingginya angka gangguan kesehatan mata dan kuatnya komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam memperkuat layanan kesehatan mata.
Berdasarkan data awal dari 24 Puskesmas di Wonosobo, rata-rata kasus gangguan kesehatan mata mencapai lebih dari 100 kasus setiap tahun. Bahkan, di salah satu puskesmas tercatat sekitar 364 kasus dalam setahun.
"Kami tidak membangun sistem baru, tetapi memperkuat sistem yang sudah ada agar menjadi lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan. Setelah lima tahun program berjalan, kami berharap sistem tersebut mampu berdiri sendiri dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Iwan.
Program I-SEE mengusung pendekatan promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif. Selain menyasar desa, puskesmas, rumah sakit, dan sekolah, program ini juga akan membentuk Desa Sehat Mata sebagai model pemberdayaan masyarakat.
Baca juga: Netizen Sempat Murka, Akhir Cerita Video Viral Tangkap Ikan di Sungai Wonosobo Kini Terungkap
YSKK juga melibatkan organisasi penyandang disabilitas sejak tahap asesmen untuk memastikan layanan kesehatan mata di fasilitas kesehatan semakin inklusif.
Evaluasi tingkat aksesibilitas akan dilakukan setiap tahun agar seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh layanan tanpa diskriminasi.
Selama lima tahun pelaksanaan, Program I-SEE akan difokuskan pada empat strategi utama, yakni pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan deteksi dini, penguatan layanan kesehatan, penguatan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, serta tata kelola layanan kesehatan mata yang inklusif. (ima)