Hamparan Batu Alam di Bendung Sungai Tajum saat Air Surut Memikat Warga, Kini Jadi Wisata Dadakan
M Syofri Kurniawan July 30, 2026 05:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Awalnya hanya karena penasaran melihat unggahan status temannya di media sosial, Farida Zain akhirnya memutuskan mampir ke Bendung Sungai Tajum di Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

Usai mengikuti senam bersama, keputusan spontan itu ternyata tidak mengecewakannya.

Hamparan batu alam yang muncul akibat surutnya debit air, dipadu aliran sungai yang jernih dan udara sejuk, menghadirkan pengalaman wisata sederhana namun berkesan di tengah musim kemarau.

"Saya lihat status media sosial teman, kok menarik sekali sih. Saya selesai senam sama teman-teman janjian ke sini. Ternyata menarik sekali pemandangan sungai Tajum di kala surut," ujar Farida kepada TribunJateng.com, saat ditemui di Bendung Tajum, Selasa (28/07/2026).

Menurutnya, wisata singkat setelah berolahraga menjadi cara yang menyenangkan melepas penat tanpa harus pergi jauh dari rumah.

"Jadi habis olahraga senam bersama langsung berwisata tipis-tipis," katanya.

Musim kemarau memang menghadirkan wajah berbeda di Bendung Sungai Tajum.

WISATA DADAKAN - Farida Zain dan kawannya saat berfoto di aliran Bendung Sungai Tajum di Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Selasa (28/07/2026). Hamparan batu alam yang muncul akibat surutnya debit air, dipadu aliran sungai yang jernih dan udara sejuk, menghadirkan pengalaman wisata sederhana.
WISATA DADAKAN - Farida Zain dan kawannya saat berfoto di aliran Bendung Sungai Tajum di Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Selasa (28/07/2026). Hamparan batu alam yang muncul akibat surutnya debit air, dipadu aliran sungai yang jernih dan udara sejuk, menghadirkan pengalaman wisata sederhana. (TRIBUN JATENG/Fajar Bahruddin Achmad)

Debit air yang perlahan menyusut justru membuka panorama yang selama ini tersembunyi di balik derasnya arus sungai. Hamparan bebatuan alami tampak membentang di dasar sungai.

Air yang mengalir terlihat bening memantulkan cahaya matahari, sementara perbukitan hijau di sekeliling kawasan menciptakan suasana yang asri dan menenangkan.

Pemandangan tersebut membuat Bendung Tajum kembali ramai didatangi warga.

Banyak pengunjung datang bersama keluarga bermain air di tepian sungai, memancing, berburu foto, hingga sekadar duduk menikmati semilir angin sore.

Fenomena musiman itu bahkan membuat Bendung Tajum seolah berubah menjadi destinasi wisata alam dadakan yang selalu ramai setiap musim kemarau tiba.

Warga lain yaitu Ciptaning Dasyandani, mengatakan, keindahan Bendung Tajum memang selalu muncul ketika debit air mulai surut.

Menurutnya, kondisi tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat menikmati pesona Sungai Tajum dari sudut yang tidak bisa dinikmati saat musim hujan.

"Saat kemarau seperti sekarang, masyarakat bisa menikmati keindahan Sungai Tajum dari dekat. Banyak warga datang bersama keluarga, menikmati suasana sore, berfoto, hingga sekadar duduk menikmati udara yang sejuk. Potensi wisata ini sangat besar apabila dikelola dengan baik," ujarnya.

Ia menilai kawasan tersebut layak dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam tanpa menghilangkan karakter aslinya.

"Pemandangannya sangat indah, dan udaranya sejuk, cocok buat melamun dan tenang.Tempat ini cocok untuk rekreasi keluarga tanpa harus pergi jauh. Semoga kebersihannya tetap dijaga agar semakin banyak orang yang berkunjung," katanya.

Di balik pesona alam yang dinikmati para pengunjung, Bendung Tajum memiliki fungsi vital sebagai infrastruktur pengairan di Kabupaten Banyumas.

Bendung yang berada di Desa Tipar Kidul itu dibangun mengatur aliran Sungai Tajum sebagai sumber irigasi bagi ribuan hektare lahan pertanian di wilayah Banyumas bagian barat.

Bendung Tajum merupakan bagian dari Daerah Irigasi Tajum yang mengairi sekitar 3.200 hektare lahan sawah.

Pasokan airnya dimanfaatkan petani di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Wangon, Jatilawang, dan Rawalo. 

Tak hanya memiliki peran penting bagi sektor pertanian, Bendung Tajum juga menyimpan nilai sejarah.

Infrastruktur tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1973 dan hingga kini masih menjadi salah satu bendung yang menopang ketahanan pangan di Banyumas.

Warga berharap potensi wisata musiman yang muncul setiap kemarau dapat dikembangkan melalui penataan kawasan, penyediaan fasilitas umum, serta pengelolaan yang lebih baik tanpa mengurangi fungsi utama bendung sebagai sarana irigasi.

Dengan penataan yang tepat, Bendung Tajum dinilai tidak hanya mampu menjaga keberlangsungan sektor pertanian, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi wisata alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. (Permata Putra Sejati)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.