TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah menilai, fenomena bun upas atau embun beku turut mendongkrak angka kunjungan wisatawan di Dataran Tinggi Dieng.
Hal itu terbukti dengan naiknya angka kunjungan wisatawan selama musim kemarau atau masa munculnya bun upas di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo .
Selama musim kemarau angka kunjungan wisatawan di Dieng tercatat 290.702 orang.
Rinciannya, April 68.859 orang, Mei 89.833, dan Juni 132.010.
Namun, naiknya angka kunjungan jumlah wisatawan juga didongkrak oleh faktor lainnya seperti masa liburan sekolah.
Kepala Disbudparekraf Jateng, Hanung Triyono mengatakan, embun upas bukan sekadar fenomena alam, melainkan identitas unik Dataran Tinggi Dieng yang tidak dimiliki banyak destinasi lain di Indonesia.
Fenomena ini terbukti menjadi daya tarik kuat yang memperkuat citra Dieng sebagai destinasi pegunungan berkelas nasional.
Melihat potensi itu, Hanung mendorong bukan hanya peningkatan jumlah kunjungan, melainkan juga memperpanjang lama tinggal wisatawan.
"Hal ini dilakukan untuk meningkatkan belanja wisata agar manfaat ekonominya dirasakan secara merata oleh masyarakat Banjarnegara maupun Wonosobo," kata Hanung kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.
Paket wisata
Hanung mengungkap, sejumlah kiat untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Dataran Tinggi Dieng adalah dengan membuat paket wisata selama 2–3 hari melalui wisata budaya, penguatan desa wisata, glamping, kuliner khas Dieng,tracking, dan wellness tourism atau wisata kebugaran.
Langkah lainnya, mempromosikan bun upas sebagai bagian dari paket pengalaman (experience-based tourism) yakni dengan kampanye "Winter of Java", branding nasional bahwa setiap musim kemarau, Dieng menghadirkan pengalaman "musim dingin tropis".
Bun upas juga bagian dari wisatawan Sunrise Experience yang mengkombinasikan bun upas, Sunrise Sikunir, Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan Kopi Dieng dalam satu paket perjalanan.
Langkah lainnya, adalah menyediakan informasi suhu dan potensi kemunculan embun melalui media sosial resmi sehingga wisatawan dapat merencanakan kunjungan pada waktu terbaik.
"Kami juga mengintegrasikan dengan Calender Event, fenomena bun upas dapat menjadi bagian dari rangkaian promosi menuju Dieng Culture Festival, sport tourism, fotografi, camping, dan astro tourism," paparnya.
Merujuk data Disbudparekraf Jateng, jumlah kunjungan wisatawan tahun 2025, objek Dataran Tinggi Dieng (Banjarnegara) mencatat 137.786 pengunjung.
Jumlah kunjungan tertinggi terjadi pada bulan April 27.816 pengunjung, disusul Januari 19.843 pengunjung, dan Desember 11.965.
Sementara tahun 2026 mulai Januari-Juni tercatat 479.957 pengunjung dengan rincian Januari 69.226 pengunjung, Februari 32.989 pengunjung, Maret 87.040 pengunjung, April 68.859 pengunjung, Mei 89.833 pengunjung, dan Juni 132.010 pengunjung.
Melihat data itu, Hanung menilai, pada tahun 2025, bun upas bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan lonjakan kunjungan. Justru terdapat beberapa faktor yang lebih dominan adalah libur Lebaran (April), libur sekolah (Juni–Juli), akhir tahun, dan penyelenggaraan event.
Namun demikian, bun upas tampak memperkuat kunjungan pada musim kemarau, terutama Juni–Agustus, ketika muncul bersamaan dengan musim liburan.
"Dengan kata lain, embun upas bukan penyebab utama naiknya kunjungan, tetapi mampu meningkatkan minat wisatawan ketika didukung momentum liburan dan promosi," tuturnya.
Dampak positif
Dalam kesempatan terpisah, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Wonosobo, M Kristijadi mengatakan, kondisi cuaca yang sedang berlangsung memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata daerah.
Berdasarkan data penjualan karcis wisata yang dihimpun UPTD Pengelolaan Objek Wisata, terjadi peningkatan kunjungan wisatawan selama awal Juni 2026.
Menurutnya, banyak wisatawan datang secara khusus untuk menikmati suasana dingin khas Dieng yang hanya terjadi pada periode tertentu setiap tahun.
Selain merasakan suhu udara yang rendah, wisatawan juga berburu momen matahari terbit serta fenomena embun es yang menjadi ciri khas musim bediding.
“Banyak wisatawan yang secara khusus datang untuk merasakan suhu dingin khas Dieng, menikmati panorama alam, serta melakukan pendakian ke Sikunir dan Gunung Prau yang terkenal dengan keindahan matahari terbitnya,” ungkap Kristijadi, beberapa waktu lalu. (Iwan Arifianto/Imah Masitoh)