Belajar dari Jalan Veteran, Pembangunan Kota Rawa Membutuhkan Perspektif Ekosistem
Irfani Rahman July 30, 2026 07:52 AM

Oleh: Difo Miftahul Faridl, ST, M.Ling

Kaprodi/Dosen Sains Lingkungan, Universitas PGRI Kalimantan

BANJARMASINPOST.CO.ID- PERISTIWA amblesnya salah satu ruas Jalan Veteran Banjarmasin beberapa waktu yang lalu kiranya bukan sekadar musibah teknis atau gangguan infrastruktur biasa.

Bagi siapa saja yang tumbuh, menetap, dan mencintai kota ini, peristiwa tersebut terasa seperti teguran yang amat lembut sekaligus sebuah “alarm ekologis” yang nyaring. 

Ia hadir untuk mengingatkan kita kembali pada hakikat paling mendasar dari jati diri geografis Banjarmasin: sebuah ruang hidup yang lahir, tumbuh, dan bernapas di atas hamparan tanah rawa.

Ketika bagian badan jalan mendadak retak, terperosok ambles, dan merusak kenyamanan tempat usaha serta aktivitas harian warga di sekitarnya, respons pertama masyarakat tentu sangat wajar.

Perhatian publik dengan cepat tertuju pada kualitas aspal yang terhampar, ketahanan konstruksi fondasi di bawahnya, hingga pertanyaan mengenai seberapa cepat pihak berwenang dapat menyelesaikan perbaikan. Hal tersebut tentu sepenuhnya sah sebagai bentuk kepedulian warga.

Tapi, jika kita bersedia mengambil jarak sejenak dan melangkah sedikit lebih dalam untuk memandangnya melalui kacamata Sains Lingkungan, ada narasi mendasar yang tak kalah penting untuk kita renungkan bersama.

Ada kisah tentang ketidakseimbangan yang perlahan menumpuk antara gempuran aktivitas manusia dengan daya dukung alami ekosistem lahan basah (wetland) yang rapuh.

Memahami Karakter dan Bahasa Tanah Rawa

Secara geologis dan bentang alam, bumi Kayutangi dan kawasan Banjarmasin pada umumnya berdiri di atas endapan aluvial lunak serta lapisan tanah rawa atau gambut dengan kadar air yang sangat tinggi. Karakteristik paling khas dari tanah jenis ini adalah sifatnya yang luwes namun sekaligus amat ringkih.

Ia memiliki daya dukung (bearing capacity) yang relatif rendah serta tingkat kompresibilitas atau kemudahan memadat yang sangat tinggi. Dalam bahasa awam yang lebih mudah dipahami, tanah rawa tempat kota kita berdiri sejatinya bekerja layaknya sebuah spon alami berukuran raksasa. Ia akan memuai dan mengembang ketika menyerap pasokan air, lalu akan menyusut serta memadat saat mengering atau tatkala terus-menerus menahan beban berat yang bertengger di atasnya.

Fenomena amblesnya Jalan Veteran pada dasarnya dapat kita pahami secara jernih melalui dua pendekatan Sains Lingkungan yang saling berkaitan erat, yaitu dinamika pergerakan air tanah dan gempuran beban di atas permukaan.

Pertama, mengenai dinamika hidrologi alami. Pasang surut air sungai serta fluktuasi naik turunnya muka air tanah adalah irama alam yang sangat wajar di Banjarmasin.

Namun, persoalan mulai timbul ketika saluran-saluran air alami, parit, atau anak-anak sungai yang berada di sepanjang koridor jalan perlahan mulai menyempit, mengalami pendangkalan masif, atau bahkan tertutup total akibat alih fungsi lahan.

Ketika ruang gerak air terhalang, alirannya menjadi tersumbat dan terjebak di bawah struktur fondasi jalan.

Kedua, terjadi fenomena yang dalam dunia keteknikan dan lingkungan dikenal sebagai konsolidasi tanah berlebihan.

Setiap hari, koridor Jalan Veteran dilintasi oleh ribuan kendaraan dengan beragam bobot, mulai dari kendaraan roda dua hingga angkutan bermuatan berat. Tekanan mekanis yang berlangsung secara terus-menerus ini memberikan beban statis dan dinamis yang sangat tinggi.

Lama-kelamaan, beban tersebut melampaui batas elastisitas dan kapasitas plastisitas tanah rawa di bawahnya. Ketika tanah tak sanggup lagi menopang tekanan tersebut, struktur porsinya runtuh.

Langkah penambalan aspal yang kerap dilakukan berulang kali sebagai solusi cepat, tanpa terlebih dahulu merenungi atau merekayasa kondisi fondasi tanah lunak di bawahnya, tanpa disadari justru memberikan tambahan “beban mati” baru yang pada akhirnya justru mempercepat proses penurunan tanah.

Bersahabat dengan Alam

Dalam dinamika perjalanan pembangunan kota selama beberapa dekade terakhir, kita sering kali tanpa sadar masih terjebak pada paradigma pola pikir hard engineering. Ini adalah sebuah kecenderungan untuk senantiasa berusaha “menaklukkan” alam dengan cara menyamaratakan teknik konstruksi daratan tanah keras ke atas lanskap tanah rawa.

Padahal, ekosistem lahan basah memiliki hukum alamnya sendiri. Ia senantiasa merindukan pendekatan pembangunan yang jauh lebih ramah, bijaksana, dan adaptif.

Membangun kota rawa secara berkelanjutan menuntut hadirnya kesadaran kolektif untuk memadukan antara kemajuan ilmu keteknikan dengan kearifan ekologi lokal. Ada beberapa pemikiran yang sekiranya dapat menjadi bahan perenungan dan diskusi bersama.

Pertama, pentingnya audit daya dukung dan daya tampung lingkungan (DDDTL). Penentuan kapasitas beban jalan, pengawasan izin mendirikan bangunan, serta perencanaan kawasan di sepanjang koridor lahan basah sebaiknya selalu berlandaskan pada studi geoteknik-ekologis yang komprehensif, bukan semata-mata didorong oleh kebutuhan kelayakan arus lalu lintas atau nilai ekonomi lahan jangka pendek.

Kedua, pengembangan infrastruktur adaptif lahan basah. Sudah saatnya perencanaan kota kita melangkah lebih berani untuk mengarusutamakan teknologi konstruksi yang benar-benar bersahabat dengan karakter rawa.

Penggunaan sistem panggung yang minim urukan tanah, pemanfaatan teknik matras bambu yang dikombinasikan dengan geotekstil, hingga penggunaan material berbobot ringan adalah contoh nyata rekayasa yang bijak. Teknologi ini mampu membagi beban bangunan secara merata ke permukaan tanah tanpa harus menekan pori-pori air tanah secara ekstrem.

Ketiga, merawat dan menghidupkan kembali koridor air. Sungai dan saluran air di samping jalan sejatinya adalah paru-paru dan ruang bernapas bagi sistem hidrologi kota.

Air sebaiknya tidak diisolasi, disumbat, apalagi dianggap sebagai musuh pembangunan, melainkan dialirkan dan dikelola secara harmonis agar dapat hidup berdampingan dengan infrastruktur darat.

Kota Banjarmasin akan selalu menjadi rumah yang hangat, aman, dan nyaman apabila kita mau menurunkan sedikit ego pembangunan dan bersedia menyelaraskan diri dengan karakter alamnya.

Sebab pada akhirnya, pembangunan yang sejati dan bertahan lama bukanlah pembangunan yang berhasil menaklukkan alam, melainkan pembangunan yang mampu berjalan berdampingan, saling menjaga, dan hidup harmonis bersama lingkungannya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.