TRIBUNWOW.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren pelemahan dan ditutup di zona merah pada perdagangan sesi kedua. Laju indeks melemah 0,64 persen dan tertahan di level 6.091.
Sepanjang hari, pergerakan IHSG terpantau fluktuatif. Indeks sempat menguat dan menyentuh level tertinggi di 6.174 pada pembukaan perdagangan, namun akhirnya berbalik melemah dan mencatatkan level terendah intraday di 6.029.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diovanda, menilai bahwa tekanan yang dialami IHSG selama enam hari berturut-turut ini dipicu oleh sikap wait and see dari para pelaku pasar. Investor saat ini tengah menantikan rilis hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
"Salah satu data yang perlu dicermati oleh para investor adalah FOMC dari The Fed. Yang menjadi perhatian dari pasar adalah forward guidance, dot plot-nya, dan juga pernyataan dari ketua The Fed, apakah ada prospek penurunan suku bunga di akhir tahun 2026," jelas Reza.
Sikap kehati-hatian investor ini juga sejalan dengan sentimen penguatan dolar AS yang membuat nilai tukar rupiah kembali melemah ke angka Rp18.000. Secara teknikal, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diproyeksikan akan menguji level support penting di kisaran 6.000 hingga 6.050.
Di tengah kondisi pasar yang penuh tekanan, beberapa saham terpantau menarik perhatian analis. Salah satunya adalah saham AYAM yang direkomendasikan dengan strategi buy on breakout jika mampu menembus level psikologis 400. Selain itu, analis juga menyarankan untuk melakukan hold (tahan) pada saham AISA dan SRTG (Saratoga) mengingat tren pergerakan keduanya secara teknikal mulai menunjukkan perbaikan.
Sumber: IDX CHANNEL
(TribunWow.com/Ghozi Luthfi Romadhon)