Indonesia Dekat dengan Neraka
Sudirman July 30, 2026 10:21 AM

Oleh: Amir Muhiddin

Wakil Ketua HIPIIS Sulsel / Dewan Pakar CIDES ICMI Sulsel / Sekretaris KKI Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - TULISAN ini terinspirasi dari cerita saat Presiden Soeharto berkunjung ke Amerika Serikat (AS) tahun 90-an menemui Presiden Bill Clinton.

Meskipun beda generasi tetapi keduanya menjabat sebagai kepala negara pada garis waktu yang beririsan.

Soeharto menjadi presiden Indonesia selama 31 tahun (1967–1998), sementara Bill Clinton jadi presiden selama 8 tahun (1993 – 2001).

Keduanya berinteraksi secara intensif sebagai sesama kepala negara pada tahun 1993 hingga 1998.

Momen-momen penting yang melibatkan keduanya terjadi saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT APEC tahun 1994 di Bogor dan KTT APEC di Vancouver-Kanda tahun 1997.

Selain itu, terutama saat Krisis Moneter 1997-1998, Bill Clinton adalah salah satu tokoh kunci yang menghubungi Soeharto via telepon untuk mendesak Indonesia menandatangani perjanjian bantuan dengan IMF.

Di akhir-akhir jabatannya tahun 90-an, Presiden Soeharto melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat dan menemui Presiden Bill Clinton di Gedung Putih.

Saat masuk ke ruang kerja Clinton, Soeharto sedang penasaran melihat dua buah telepon bersepuh emas, berkilau menampakkan kemewahan.

Karena penasaran, Pak Harto bertanya, “Clinton, telepon apa ini dan untuk menghubungi siapa?” Clinton menjawab. Oh anda rupanya penasaran, baik.

Ini sebelah kiri adalah telepon khusus langsung ke Neraka, dan yang kanan adalah untuk ke Sorga, dan biasanya saya gunakan di kanan ini untuk menghubungi para vetran pejuang AS yang gugur saat perang Vietnam.

Mendengar kata “Sorga”, Pak Harto tambah penasaran karena teringat mendiang istri tercintanya Ibu Tien Soeharto, dihatinya Ibu Tien adalah pahlawan dan sangat berjasa mendirikan “Taman Mini Indonesia Indah” yang dikunjungi banyak touris, termasuk manca negara.

Pak Harto berkata, “Mister Clinton, kalau boleh, saya ingin meminjam telepon yang sebelah kanan. Saya sangat rindu dan ingin berbicara sebentar dengan Ibu Tien di Sorga.”

Clinton yang merasa iba kemudian memperbolehkannya, “Silakan, Pak Harto.”

Pak Harto pun mengangkat gagang telepon emas kanan tersebut lalu bicara dengan Ibu Tien. Pak Harto bercerita tentang, anak dan cucu, dan hangat sekali selama 10 menit.

Setelah selesai, sambil berkaca-kaca Pak Harto meletakkan telepon dan bertanya berapa biaya pulsa yang harus ia bayar.

Clinton mengecek mesin argonya lalu berkata, biayanya 20.000 Dolar AS (sekitar ratusan juta rupiah).

Tanpa ragu, Pak Harto langsung melunasi pembayaran tersebut demi bisa mendengar kabar sang istri di Sorga.

Beberapa bulan kemudian, giliran Presiden Bill Clinton melakukan kunjungan balasan ke Indonesia dan dijamu oleh Soeharto di Istana Negara.

Saat masuk ke ruang kerja Soeharto, Clinton terkejut karena melihat ada dua telepon yang bersepuh emas sama persis dengan yang ada di Gedung Putih.

Clinton pun bertanya, “Pak Harto, apakah Anda juga punya telepon ke Neraka dan Sorga di sini?” Soeharto menjawab sambil tersenyum, “Iya, Mister Clinton. Saya juga baru memasangnya. Silakan kalau Anda mau mencoba.”

Clinton yang penasaran langsung menggunakan telepon tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, Clinton berbicara sangat lama, bahkan hingga 2 jam untuk mengetahui bagaimana suasana di Sorga yang dialami oleh para veteran yang gugur saat perang Vietnam.

Setelah selesai, dengan perasaan cemas Clinton bertanya, “Pak Harto, saya tadi menelepon lama sekali sampai 2 jam.

Di Amerika saja 10 menit harganya 20.000 Dolar AS. Berapa ratus ribu Dolar yang harus saya bayar sekarang?”

Soeharto melihat catatan di mejanya, lalu tersenyum santai, “Oh, murah Mister Clinton. Cuma 5 Dolar AS saja.”

Clinton langsung melotot kebingungan, “Hah?! Bagaimana bisa? Di Amerika sangat mahal, kenapa di Indonesia menelepon ke Sorga selama 2 jam bisa semurah itu?!”

Dengan tenang dan senyum khasnya, Soeharto menjawab: “Ya jelas murah, Mister Clinton, Sebab dari Indonesia ke Sorga itu lebih jauh, dibanding di AS.

Malah sebaliknya di Indonesia lebih dekat dengan neraka, kenapa?, karena di Indonesia banyak “koruptor”. Ha ha, keduanya, baik Clinton maupun pak Harto tertawa terbahak-bahak.

Cerita di atas adalah anekdot politik, sering ditulis dan diceritrakan kepada orang dan publik tahun 90-an untuk menggambarkan bagaimana maraknya korupsi di Indonesia di masa orde baru.

Tidak mengherankan kalau korupsi ini pula yang kemudian menjatuhkan Soeharto yang jadi presiden selama 31 tahun (1967 – 1998).

Tapi naas dan tentu saja kita perihatin, sebab korupsi masih tetap ada, malah menurut banyak ahli bahwa korupsi di era Reformasi ini lebih gila dibanding di masa orde baru.

Kata “Gila” menggambarkan betapa korupsi semakin menggurita.

Kalau di masa orde baru korupsi lebih banyak dilakukan oleh Eksekutif, sekarang ini, korupsi sudah menjalar sampai ke Legislative dan Yudikatif, dari Pusat sampai ke Daerah. Pelakunya pun di sektor publik sampai di sektor Privat.

Alih-alih memberantas korupsi, penegak hukum pun tak kalah bobroknya, diharapkan terjadi kolaborasi menyelamatkan uang negara, malah sebaliknya bersaing merampok rampasan uang haram para koruptor.

Bukan hanya itu, para penegeak hukum, termasuk juga para elit politik, saling menyandra, baik secara personal maupun kelembagaan.

Akibatnya, banyak kasus korupsi yang tidak bisa terungkap meskipun masyarakat umum sudah mengetahuinya.

Mari kita berdoa semoga penegak hukum dan para elit politik, diberi petunjuk dan ampunan oleh Allah SWT, sehingga segera bertobat, kembali ke jalan yang lurus, sehingga bangsa ini bisa lebih dekat ke Sorga dan jauh dari Neraka.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.