TRIBUNTRENDS.COM - Fiktor Harefa akhirnya mengungkap alasan di balik keputusannya menolak tawaran pekerjaan dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Satpam berusia 27 tahun itu memilih tetap melanjutkan kariernya di Jakarta meski sempat ditawari menjadi petugas keamanan di Kantor Gubernur Jawa Barat, Gedung Sate, Bandung.
Nama Fiktor sebelumnya menjadi sorotan publik setelah videonya berselisih dengan pengemudi mobil Alphard di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, viral di media sosial.
Peristiwa tersebut membuat sosoknya dikenal luas dan menarik perhatian Dedi Mulyadi.
Tawaran pekerjaan pun diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus kesempatan untuk memulai karier baru di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Namun, setelah mempertimbangkan berbagai hal, Fiktor memutuskan untuk tidak menerima tawaran tersebut.
Ia mengaku lebih memilih bertahan di Jakarta karena masih merasa nyaman dengan pekerjaan yang dijalaninya saat ini.
Selain itu, posisinya sebagai Komandan Regu (Danru) tim pengamanan proyek MRT dinilai memiliki arti penting bagi perjalanan kariernya.
Fiktor juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki keluarga di Cimahi dan pernah menetap di Jawa Barat selama beberapa tahun sebelum pindah ke Jakarta pada 2024.
Meski memiliki kedekatan dengan Jawa Barat, ia tetap mantap memilih melanjutkan pekerjaannya sebagai petugas keamanan di ibu kota.
Baca juga: Fiktor Satpam yang Diintimidasi Pengemudi Alphard Pindah ke Bandung, KDM Siapkan Tempat Istimewa
Fiktor lalu menjelaskan alasannya menolak tawaran menggiurkan dari Dedi Mulyadi.
Saat ini, Fiktor menjabat sebagai Komandan Regu (Danru) tim pengamanan proyek MRT di area depan Plaza Indonesia dan Hotel Pullman, Jakarta Pusat.
Bagi Fiktor, pekerjaan yang baru ia jalani sejak April 2026 lalu ini sangat berharga dan ia masih nyaman dengan pekerjaannya.
Apalagi, ia mengaku sempat melewati masa-masa sulit menganggur selama setahun di Ibu Kota dan hanya bertahan hidup dengan membantu menjaga konter ponsel milik saudaranya.
"Alasannya ya sudah nyaman di tempat kerja yang ini sebenarnya. Iya sudah cukup nyaman sama orang-orangnya juga, sudah enak sih di sini, mau membereskan yang di sini," ucap Fiktor.
Walaupun pada akhirnya menolak tawaran dari Dedi Mulyadi, Fiktor mengaku sangat bersyukur atas apresiasi dan undangan pertemuan tersebut.
"Saya sangat menghargai ke Pak Dedi juga, terima kasih banyak, sudah mengapresiasi saya juga," tutur Fiktor.
Baca juga: Trauma Diintimidasi di Bundaran HI, Fiktor Satpam Viral Angkat Kaki dari Jakarta, KDM Beri Pekerjaan
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta Fiktor supaya tidak dipecat.
Menurut Pramono, satpam tersebut justru menjalankan tugas dengan baik saat menegur pengendara yang melanggar aturan lalu lintas.
"Saya minta untuk tidak dipecat atau diberhentikan, yang bersangkutan menjalankan tugas dengan baik sekali, terlihat mobil Alphard itu melanggar," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Pramono beberapa kali melihat rekaman CCTV di lokasi kejadian.
Bahkan, Pemprov DKI Jakarta memiliki rekaman yang lebih lengkap dibanding video yang beredar di media sosial.
Pramono juga menerima informasi bahwa mobil tersebut diduga menggunakan pelat nomor palsu.
Ia meminta aparat penegak hukum menindak pengemudi Alphard jika persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan baik.
"Orang yang menegur (satpam) seharusnya yang diberikan sanksi, dan saya sudah minta untuk aparat penegak hukum, kalau tidak bisa diselesaika baik, seakan-akan berkuasa padahal dia salah, harus diberi sanksi," katanya.
Pramono menegaskan agar satpam tersebut tidak kehilangan pekerjaannya.
Dari rekaman CCTV petugas itu hanya menjalankan tugas menjaga ketertiban di kawasan penyeberangan orang.
Baca juga: Trauma Diintimidasi di Bundaran HI, Fiktor Satpam Viral Angkat Kaki dari Jakarta, KDM Beri Pekerjaan
Selain itu, Fiktor bercerita momen dirinya diundang Dedi Mulyadi.
Awalnya, Fiktro dihubungi oleh staf Dedi Mulyadi pada Sabtu (25/7/2026) pagi.
Ia sempat mengira undangan pertemuan tersebut adalah modus penipuan.
"Pagi-pagi kan stafnya WA saya. Saya bingung, kaget, saya pastikan dulu ini dari siapa. Terus saya minta kepastian kalau benar-benar ini dari Bapak KDM, dari stafnya, karena saya takut penipuan kan," kata Fiktor.
Fiktor akhirnya percaya bahwa yang mengundangnya adalah Gubernur Jawa Barat setelah melakukan panggilan video atau video call secara langsung.
"Setelah itu saya minta video call sama beliaunya juga langsung, memastikan kalau benar apa enggak, eh ternyata benar Pak Dedi," ungkap Fiktor.
Setelahnya, Fiktor langsung memenuhi undangan KDM dan bertolak dari Jakarta menuju Bandung, Jawa Barat, seorang diri pada Sabtu siang.
Dalam pertemuan di Bandung, Fiktor mengaku mendapat sambutan dan apresiasi.
Ia menyebut KDM mengapresiasi ketegasan dan keberaniannya saat menegur oknum polisi yang menerobos pelican crossing di Bundaran HI.
"Waktu di sana diapresiasi katanya keberanian saya, harus tetap seperti itu membela hak pejalan kaki," tutur Fiktor.
(TribunTrends.com/TribunJakarta.com)