Liputan6.com, Jakarta - PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat pendapatan dan laba kompak turun hingga semester pertama 2026. Hal itu salah satunya didorong penjualan emas lebih rendah di PT Agincourt Resources.
PT United Tractors Tbk meraup pendapatan bersih Rp 58,2 triliun hingga Juni 2026. Pendapatan perseroan turun 15% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 68,5 triliun. Hal ini terutama karena penjualan emas lebih rendah di PT Agincourt Resources dan penurunan kinerja pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal serta metalurgi sebagai dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 lebih rendah.
Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Kontraktor Penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs USD.
Laba bersih Perseroan tidak termasuk nonrecurring items turun 48% menjadi Rp 4,3 triliun, terutama karena penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources dan penurunan pendapatan yang sebagian besar mencerminkan dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih rendah. Penjualan emas yang lebih rendah dari Tambang Emas Martabe disebabkan oleh penghentian sementara operasional tambang tersebut. Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua.
Selama semester pertama tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring items senilai Rp 3,3 triliun, terutama terdiri dari (i) penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan (ii) pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Per 30 Juni 2026, Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp 9,4 triliun, dengan rasio gearing sebesar 8,5%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

Segmen usaha alat berat mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 27% menjadi 1.994 unit terutama disebabkan oleh penurunan penjualan big machine di sektor pertambangan sebesar 55% menjadi 325 unit, dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.
Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat sedikit meningkat dari Rp 5,4 triliun pada semester pertama tahun lalu menjadi Rp 5,5 triliun.
Total pendapatan bersih dari segmen Alat Berat turun 28% menjadi Rp 15,0 triliun.Untuk memperkuat layanan purna jual dan rantai pasok komoditas, Perseroan juga memiliki bisnis pendukung melalui anak usahanya yang menyediakan layanan engineering, manufaktur komponen dan attachment alat berat, serta menawarkan layanan logistik maritim, pembuatan dan pemeliharaan kapal.
Solusi Pertambangan
Segmen Usaha Kontraktor Penambangan
Segmen usaha Kontraktor Penambangan dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). PAMA dan KPP Mining (“PAMA Grup”) menyediakan jasa pertambangan untuk pemilik konsesi tambang, dengan membantu mereka dalam pekerjaan pemindahan tanah dan produksi batu bara serta mineral lainnya.
Hingga semester I 2026, PAMA Grup mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah yang lebih rendah sebesar 10% menjadi 481 juta bcm dan volume produksi batu bara untuk para kliennya turun 3% menjadi 67 juta ton dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,2x, mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai dengan RKAB yang telahdisetujui.
Sejalan dengan peluang bisnis yang berkembang di sektor mineral selain batu bara, PAMA Group memperkuat ekspansinya ke sektor emas dan nikel. Langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen dalam membangun portofolio bisnis yang berkelanjutan serta memperkokoh fondasi pertumbuhan jangka panjang Pama Group.,
Total pendapatan bersih dari segmen Kontraktor Penambangan naik 4% menjadi Rp27,2 triliun yang terutama disebabkan karena penguatan kurs USD.
Segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources).
Pada semester pertama 2026, tambang batu bara Turangga Resources mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 6,0 juta ton (termasuk 1,6 juta ton batu bara metalurgi), turun 10% dari periode yang sama di tahun 2025.
Pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi turun sebesar 4% menjadi Rp12,9 triliun, sejalan dengan penurunan volume penjualan batu bara.
Segmen Usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya
Segmen usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 66% menjadi Rp2,4 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan penjualan emas sebesar 82%.
• Pertambangan Emas
Usaha pertambangan emas Perseroan dioperasikan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya, yang mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 23 ribu ons sampai dengan semester pertama tahun 2026 dibandingkan tahun lalu sebesar 125 ribu ons.
• Bisnis Nikel
PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 886 ribu wet metric ton (wmt) sampai dengan semester pertama tahun 2026, yang terdiri dari 260 ribu wmt saprolit dan 626 ribu wmt limonit.
Nickel Industries Limited (“NIC”) dengan kepemilikan sebesar 20,13% merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia. UT mengakui kontribusi dari NIC untuk periode enam bulan ke belakang berdasarkan hasil dari NIC pada kuartal keempat 2025 dan kuartal pertama 2026. Operasional RKEF NIC melaporkan penjualan nickel metal sebesar 61.622 ton pada kuartal keempat 2025 dan kuartal pertama 2026.

Pada 30 Juni 2026, UT menyelesaikan program pembelian kembali saham tahap ketiga yang dimulai pada 1 April 2026 dengan 33,8 juta lembar saham yang dibeli kembali. Selanjutnya, UT mengumumkan tahap keempat pembelian kembali saham dengan nilai maksimal sebesar Rp 2 triliun dari tanggal 1 Juli sampai 30 September 2026.
Secara akumulatif, UT telah melakukan pembelian kembali saham sebanyak 237 juta saham dengan total nilai sekitar Rp7,1 triliun, sejak program pembelian kembali saham pertama pada periode Juli 2022 hingga Januari 2023, serta penyelesaian program pembelian kembali saham tahap pertama hingga ketiga pada tahun ini.
Program tersebut dijalankan dengan mengikuti peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham dalam situasi pasar berfluktuasi.
Program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek Perseroan dan kemampuannya untuk menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, juga bertujuan untuk mendukung Pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal.