BANJARMASINPOST.CO.ID,BARABAI - Bupati Hulu Sungai Tengah (HST), Samsul Rizal mengaku latar belakangnya sebagai prajurit TNI membentuk gaya kepemimpinannya dalam memimpin daerah. Disiplin, target yang jelas, serta evaluasi ketat menjadi pola kerja yang diterapkannya di lingkungan Pemerintah Kabupaten HST.
Dalam sebuah wawancara, Samsul Rizal memperkenalkan dirinya sebagai sosok yang berasal dari kalangan sederhana sebelum terjun ke dunia politik dan pemerintahan.
"Saya orang biasa. Saya adalah prajurit dulu yang masuk itu di tahun 1997. Memulai karier dari prajurit dua di Batalyon 621 Manuntung," ujarnya, kamis, (30/07/2026).
Menurutnya, pengalaman bertugas hingga menjadi Babinsa di Kodim 1002/Hulu Sungai Tengah membuatnya memahami langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Saya sebagai Babinsa kemudian terus di unit intel. Di situlah kita tahu betul apa yang diinginkan masyarakat," katanya.
Pengalaman tersebut menjadi dasar lahirnya sejumlah program prioritas setelah dipercaya memimpin HST. Salah satunya program pembangunan dan perbaikan 1.000 rumah setiap tahun yang ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan.
"Saya melihat rumah-rumah mereka banyak yang rusak, lalu saya buat program seribu rumah per tahun. Alhamdulillah di tahun 2025 itu sudah terlaksana 100 persen," ungkapnya.
Selain sektor perumahan, Pemkab HST juga memprioritaskan layanan kesehatan melalui program Universal Health Coverage (UHC). Dengan program tersebut, masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan tanpa dipungut biaya sesuai ketentuan yang berlaku.
"Di tempat kami itu sudah UHC, artinya masyarakat kita berobat sudah gratis, tidak dipungut biaya. Yang kurang mampu kita bantu luar biasa," katanya.
Samsul Rizal menegaskan budaya kerja yang diterapkannya di pemerintahan mengadopsi pola yang telah dijalani selama menjadi prajurit. Setiap program harus memiliki target, indikator keberhasilan, serta dievaluasi secara berkala.
"Di militer kita terbiasa dengan target yang jelas dan evaluasi yang ketat. Setiap program harus punya sasaran dan ukuran untuk evaluasi keberhasilan," ujarnya.
Ia juga mengaku tidak menginginkan laporan yang hanya menyenangkan pimpinan tanpa menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
"Saya tidak suka laporan yang asal bapak senang. Mereka harus turun ke lapangan dan saya pasti cek apa yang kita programkan maupun yang kita perintahkan," tegasnya.
Samsul Rizal juga menyinggung pengalaman mengikuti retret kepala daerah yang menurutnya memberikan banyak pelajaran tentang kepemimpinan.
Menurutnya, pelatihan tersebut memperkuat kemampuannya dalam memimpin organisasi, mulai dari cara memberikan perintah, membangun komunikasi dengan bawahan hingga menyelaraskan program daerah dengan kebijakan pembangunan nasional.
"Buat saya pengalaman retret itu sangat berharga. Bekal yang paling penting adalah cara berpikir yang menyeluruh, bagaimana menyelaraskan program daerah dengan arah pembangunan nasional, serta pentingnya ketahanan mental dan keteladanan seorang pemimpin," tutupnya. (AOL)