Liputan6.com, Jakarta - Ceko menjadi negara pertama yang secara terbuka mendukung rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia.
Dukungan tersebut hadir ketika niat Infantino memicu perdebatan luas di level global. Sejumlah pihak menilai gagasan tersebut berisiko mengubah peta pengambilan keputusan dalam turnamen terbesar sepak bola dunia.
Pernyataan dari Praha menandai perubahan dinamika pembahasan, mengingat sebagian besar suara yang muncul sebelumnya bernada kritis terhadap arah kebijakan ini.

Presiden Asosiasi Sepak Bola Republik Ceko, David Trunda, menyatakan pihaknya melihat peluang nyata dari rencana yang didorong FIFA. Trunda baru terpilih memimpin asosiasi tersebut tahun lalu.
"Saya melihat ada manfaat yang nyata bagi sepak bola Republik Ceko dengan bekerja sama secara erat bersama Gianni Infantino dan timnya," kata Trunda, seperti dikutip Metro, Rabu (29/7/2026).
"Tentu kami masih membutuhkan perincian lebih lanjut, tetapi secara pribadi saya melihat dampak positif dari niat FIFA tersebut."
"Saya baru terpilih sedikit lebih dari setahun lalu, dan semua proyek yang saya jalani bersama FIFA sejauh ini sangat positif bagi perkembangan sepak bola Eropa," lanjutnya.
Ceko tampil di Piala Dunia 2026 namun gagal melaju dari fase grup. Mereka finis sebagai juru kunci Grup A usai kalah dari Meksiko dan Korea Selatan, serta bermain imbang melawan Afrika Selatan.
Proposal yang dibawa Infantino mencakup pembentukan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas ini dirancang untuk mengelola seluruh hak komersial turnamen Piala Dunia di masa mendatang.
Dalam skema tersebut, FIFA berencana melepas sebagian kepemilikan FFE kepada investor swasta. Sebagai imbal balik, 211 asosiasi anggota FIFA dijanjikan dana hingga US$ 40 juta atau sekitar Rp 650 miliar per asosiasi apabila menyetujui proposal sebelum tenggat 19 September.
Kritik mencuat karena rencana ini dinilai membuka jalan bagi pengaruh investor swasta terhadap penyelenggaraan Piala Dunia melalui FFE. Kekhawatiran itu terutama berkaitan dengan arah tata kelola dan independensi keputusan pada level turnamen.
Di sisi lain, UEFA mengambil posisi menolak. Badan sepak bola Eropa tersebut menilai prinsip dasar permainan dan pengelolaannya tidak selayaknya diprivatisasi sebagian demi imbal hasil finansial.
"jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan."
"Piala Dunia bukan milik FIFA untuk dijual."
Pada Rabu (29/7/2026), UEFA kembali mengeluarkan pernyataan keras terkait perkembangan terakhir proposal itu.
"Hari ini kami mengetahui FIFA memberikan tenggat waktu kepada seluruh asosiasi untuk mendukung proposal tersebut atau kehilangan tawaran pembayaran satu kali. Hal itu sudah menjelaskan semuanya mengenai rencana ini," bunyi pernyataan UEFA.
"Setelah berdiskusi dengan banyak pihak di dunia sepak bola, UEFA mengetahui bahwa penolakan terhadap skema FIFA terus berkembang. FIFA tidak boleh terus menggunakan olahraga ini untuk memperkaya diri mereka sendiri dan pihak-pihak tertentu."
Pernyataan itu menegaskan kembali keberatan UEFA terhadap arah rencana komersialisasi yang ditawarkan FIFA.
"Kami bisa mengembangkan sepak bola dengan cara yang benar. Kini saatnya memprioritaskan asosiasi, klub, liga, pemain, dan para suporter," tutup pernyataan tersebut.