BANGKAPOS.COM - Nama Syerly, Lurah Paya Pasir, Medan Marelan, kembali menjadi perbincangan hangat akibat video viral yang memperlihatkan dirinya diduga mengejek aduan warga.
Aksi tak pantas tersebut terjadi sewaktu Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, meninjau wilayah setempat dan mendengarkan keluhan fasilitas keamanan lingkungan.
Sebagai pejabat wilayah yang turut mendampingi kunjungan kerja, Syerly justru ketahuan melontarkan kata-kata meremehkan di tengah suasana penyampaian aspirasi.
"Ciyee curhat dia bahh," ucap Syerly dengan nada santai di tengah situasi penyampaian keluhan serius mengenai keamanan warga.
Ulah sang lurah memantik gelombang kecaman publik hingga sosoknya mendadak viral di berbagai platform media sosial.
Jauh sebelum video celetukannya ramai diperbincangkan, rekam jejak kepemimpinan Syerly di Kelurahan Paya Pasir memang sudah berulang kali menuai kontroversi.
Pada Desember 2025 lalu, massa yang didominasi emak-emak setempat bahkan menggelar unjuk rasa di Kantor Camat Medan Marelan untuk menuntut pemecatannya.
Aksi protes itu meletus lantaran Syerly dianggap bersikap tak peduli dan tak pernah hadir membantu warganya yang menerjang bencana banjir.
Dalam demonstrasi tersebut, warga membentangkan spanduk tuntutan agar pihak kecamatan dan pemerintah kota segera mencopot jabatannya.
Massa juga mendesak Camat Medan Marelan, Zulkifly Pulungan, menerbitkan rekomendasi pencopotan Syerly dari posisi lurah.
Desakan pemecatan itu menguat karena Syerly dinilai jarang berkantor dan pasif dalam menjalankan roda pemerintahan kelurahan.
Perilaku tersebut terasa makin ironis mengingat Syerly sendiri merupakan warga asli Kelurahan Paya Pasir yang seharusnya lebih berempati pada lingkungan sekitar.
Kini, deretan rekam jejak buruk tersebut kembali dibahas netizen setelah video dirinya meremehkan aduan warga di depan Wali Kota Medan tersebar luas.
"Saat banjir terjadi di tempat yang parah di Paya Pasir, Lurah tidak hadir."
"Bahkan, sewaktu saya datangi, lurah malah marah sembari mengancam tidak akan ada lagi bantuan yang diberikan ke warga lingkungan kami."
"Kami memohon kepada Wali Kota Medan agar Lurah Paya Pasir ini digantikan saja," ujar Syahdan, warga Lingkungan 8 Kelurahan Paya Pasir.
Baca juga: Video : Viral Polisi di Karawang Batal Tilang usai Anak yang Melanggar Ngaku Mamanya Sudah Meninggal
Camat Medan Marelan, Zulkifly Pulungan, kala itu langsung merespons gelombang demonstrasi dari masyarakatnya.
Pihak kecamatan mengapresiasi keberanian warga dalam menyampaikan laporan kinerja pejabat di tingkat kelurahan.
"Saya menerima kehadiran dan aspirasi dari para warga Paya Pasir. Intinya, aspirasi warga akan saya catat terkait Lurah yang kurang aktif."
"Akan saya tegur dan coba saya bina. Apabila tidak berubah, maka akan saya laporkan langsung pada atasannya," ucap dia.
Belum genap setahun berlalu dari tuntutan pemecatan tersebut, Syerly kembali memicu kemarahan publik.
Insiden terbaru ini berawal saat ia mendampingi Wali Kota Medan Rico Waas meninjau kawasan Jalan Paya Pasir di dekat Danau Siombak.
Momen kunjungan kepala daerah itu dimanfaatkan seorang warga bernama Ulfa untuk mengadukan tingginya angka kriminalitas akibat ketiadaan fasilitas publik.
Ulfa secara jujur melaporkan minimnya lampu penerangan jalan umum (LPJU) yang membuat jalanan gelap gulita serta rawan kejahatan.
Bahkan, Ulfa mengungkapkan bahwa dirinya sampai merogoh kocek pribadi untuk memasang empat titik lampu jalan secara swadaya.
Sayangnya, laporan krusial dan pengorbanan warga tersebut justru direspons secara dingin dan terkesan mengejek oleh sang lurah.
"Ciyee curhat dia bahh," ucap Lurah Syerly.
Video tangkapan layar dan rekaman suara momen tersebut langsung beredar cepat hingga menyulut kemarahan warganet.
Sikap Syerly dinilai sangat tidak etis, arogan, serta mencerminkan hilangnya rasa empati seorang pelayan masyarakat.
Mengetahui namanya menjadi sasaran amukan netizen, Syerly akhirnya memberikan klarifikasi atas perbuatannya.
Syerly berkilah bahwa celetukan tersebut terlontar secara spontan tanpa ada maksud merendahkan warganya.
"Memang spontan saja. Saya bilang 'Cie, curhat nih'. Tidak ada makna apa-apa karena memang benar dia sedang menyampaikan curhat kepada Pak Wali."
"Kami sudah lama saling kenal, bahkan ada hubungan kekeluargaan dan sehari-hari juga sering bercengkerama," ujarnya saat diwawancarai, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, peristiwa itu terjadi saat rombongan Wali Kota meninjau pengecoran Jalan Tapaneka pada 22 Juli 2026.
Syerly mengklaim bahwa usulan penambahan LPJU di kawasan tersebut sebenarnya sudah diajukan pihak kelurahan sejak setahun lalu.
"Permohonan sudah kami ajukan sejak tahun lalu. Waktu itu memang ada program pendataan titik lampu jalan. Selain itu, laporan juga kami masukkan melalui program Sapa di kecamatan," katanya.
Ia juga membenarkan bahwa Ulfa memang memasang lampu penerangan menggunakan dana pribadinya.
"Sebelum Pak Wali datang pun dia sudah cerita sama saya kalau lampu itu dipasang pakai uang pribadinya. Saya tahu kondisinya, makanya ketika dia menyampaikan ke Pak Wali, saya spontan bilang 'Cie, curhat nih'," ucapnya.
Selain itu, Syerly membantah telah mengutarakan kata "bah" sebagaimana yang ramai diperbincangkan publik.
"Saya tidak bilang 'bah'. Yang saya ucapkan hanya 'Cie, curhat nih ye'. Mungkin karena angin atau kualitas rekaman, terdengar berbeda," katanya.
Ia menegaskan bahwa akses Jalan Tapaneka memang sepi dan minim perumahan sehingga sangat membutuhkan lampu penerangan pada malam hari.
"Makanya warga memang membutuhkan penerangan jalan karena kondisi di sana cukup sunyi," ujarnya. (Tribun Trends/ Tribunnews/ Bangkapos.com)