TRIBUNMATARAMAN.COM, BLITAR - Warga Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, kembali melakukan aksi protes dengan menanami jalan rusak menggunakan berbagai jenis pohon.
Aksi yang berlangsung pada Kamis (30/7/2026) ini dilakukan sebagai bentuk penagihan janji kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar yang hingga kini belum merealisasikan perbaikan jalan.
Sebelumnya, aksi serupa juga pernah dilakukan warga pada akhir April 2026. Saat itu, warga menanam pohon di tengah jalan yang rusak parah sebagai bentuk protes atas kondisi infrastruktur yang dinilai membahayakan pengguna jalan.
Aksi tersebut sempat mendapat respons dari pemerintah desa dan kecamatan yang memfasilitasi pertemuan antara warga dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blitar.
Dalam pertemuan tersebut, DPUPR Kabupaten Blitar berjanji akan mulai memperbaiki ruas jalan tersebut paling cepat pada awal Juli 2026. Namun hingga penghujung Juli, warga mengaku belum melihat adanya aktivitas perbaikan.
Karena janji tersebut belum terealisasi, warga kembali melakukan aksi penanaman pohon pada Rabu (29/7/2026) malam.
Pohon pisang, pohon rambutan, hingga tanaman hias ditanam berjajar di sepanjang jalan rusak, mulai dari depan SMPN 2 Garum hingga depan Kantor Desa Karangrejo.
Baca juga: Viral Video Kebakaran di Rejotangan Tulungagung, Diduga Terjadi di Tempat Penggilingan Tebu
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, aksi tersebut merupakan kesepakatan warga dari dua RT dalam satu RW sebagai bentuk penagihan janji pemerintah.
"Semalam, warga dua RT serentak kembali menanam pohon di tengah jalan rusak. Warga menagih janji perbaikan jalan rusak di sini," katanya.
Meski demikian, warga menegaskan tidak akan menghalangi proses pembangunan apabila perbaikan benar-benar dimulai.
"Warga sudah sepakat, kalau material datang, warga akan membersihkan pohon yang ditanam di tengah jalan," ujarnya.
Menurut warga, kerusakan jalan yang sudah berlangsung cukup lama sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain berpotensi memicu kecelakaan, jalan berlubang juga menimbulkan debu yang masuk ke rumah-rumah warga.
Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya intensitas kendaraan berat yang melintas di jalur tersebut. Jalan itu diketahui menjadi akses utama truk pengangkut pasir dan batu.
"Warga sangat terganggu. Apalagi banyak truk pasir dan batu yang lewat di sini. Sehari bisa ada 700 unit truk yang melintas di jalan ini," katanya.
Warga berharap Pemkab Blitar segera merealisasikan janji perbaikan jalan agar aktivitas masyarakat kembali lancar dan risiko kecelakaan akibat kerusakan jalan dapat diminimalkan.
(Samsul Hadi/Tribunmataraman.com)