Tribunlampung.co.id, Tangerang - Polisi menangkap tiga orang tersangka dalam kasus pencurian 1.700 ompreng atau baki makanan berbahan stainless milik Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 07 Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
Baca juga: BMKG: Puncak Musim Kemarau Lampung Diprakirakan Agustus 2026, Petani Diminta Waspadai Kekeringan
Ketiganya berinisial T, D, dan G yang diduga memiliki peran berbeda dalam aksi pencurian perlengkapan operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut.
Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq mengatakan, berdasarkan hasil penyidikan sementara, tersangka berinisial T yang merupakan petugas keamanan di dapur SPPG diduga menjadi pihak yang merancang aksi pencurian. Sementara dua tersangka lainnya diduga berperan sebagai pelaksana pencurian dan penampung barang hasil kejahatan.
"Security T ini punya peran sangat dominan. Dia sebagai kreator yang membuat skenario bagaimana pencurian pemberatan ini berlangsung sampai dia memerintahkan orang untuk melakukan aksi tersebut," ujar Bambang.
Kasus tersebut terungkap setelah pihak pengelola Dapur SPPG melakukan pengecekan menjelang operasional. Saat pemeriksaan berlangsung, sejumlah perlengkapan yang sebelumnya berada di dalam dapur ditemukan sudah tidak ada.
Pemilik dapur SPPG, Wiman, mengatakan pihaknya awalnya mendapati hilangnya ompreng, genset, dan sejumlah peralatan lain yang disiapkan untuk mendukung kegiatan dapur.
"Kita lihat untuk melakukan pengecekan, semuanya kok ternyata ompreng kita, kemudian genset, segala macam sudah tidak ada. Nah itulah akhirnya kita jadi bertanya-tanya," ujar Wiman di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (29/7/2026).
Selain perlengkapan operasional, sistem keamanan di lokasi juga mengalami gangguan. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak pengelola menemukan recorder CCTV yang menyimpan rekaman pengawasan telah hilang.
"Setelah itu ngecek ke CCTV, ternyata CCTV juga recordernya sudah tidak ada, CCTV sudah mati," katanya.
Dari pendataan sementara, barang yang hilang terdiri dari sekitar 1.700 ompreng, satu unit genset, printer, kompor, blender, hingga recorder CCTV. Peralatan tersebut merupakan perlengkapan yang disiapkan untuk menunjang operasional Dapur SPPG.
Wiman menyebut nilai kerugian masih dalam proses penghitungan bersama penyidik. Namun, kerugian akibat pencurian tersebut diperkirakan mencapai puluhan juta hingga mendekati ratusan juta rupiah.
"Kalau diestimasikan itu bisa puluhan juta ya, sampai ratusan juta, karena untuk omprengnya saja kan bisa kita hitung sendiri, dengan 1.700 ompreng," ungkapnya.
Ia mengatakan rincian kerugian telah diserahkan kepada kepolisian untuk menjadi bagian dalam proses penyidikan.
"Kalau untuk perkiraan biayanya memang kami sudah serahkan ke penyidik ya, untuk bisa diproses lebih lanjut," tuturnya.
Bambang menjelaskan, pengungkapan perkara bermula dari laporan masyarakat melalui layanan darurat 110. Setelah itu, korban membuat laporan resmi ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Ciputat Timur untuk ditindaklanjuti.
Penyidik kemudian memeriksa sejumlah saksi, termasuk pihak korban, serta mengumpulkan informasi dari masyarakat melalui jaringan Pokdarkamtibmas dan komunikasi lingkungan RT/RW.
"Kami melakukan proses penyelidikan, tidak hanya berbekal keterangan saksi yang sudah ada, tapi bagaimana kisaran suara di masyarakat. Kami punya Pokdarkamtibmas, kami ada di grup RT RW, kami lempar permasalahan ini terkait dengan peristiwa pidana pencurian pemberatan yang terjadi di Dapur SPBG 07 Ciputat," ujar Bambang.
Dari hasil penyelidikan tersebut, polisi memperoleh informasi mengenai dugaan keterlibatan salah seorang petugas keamanan yang bekerja di dapur tersebut. Satpam berinisial T kemudian diperiksa dan menjalani tes urine yang menunjukkan hasil positif mengandung amfetamin dan metamfetamin.
Menurut Bambang, hasil pemeriksaan tersebut menjadi salah satu petunjuk bagi penyidik untuk mendalami perkara hingga akhirnya menetapkan tiga tersangka.
Meski telah menangkap tiga pelaku, polisi masih melakukan pendalaman untuk memastikan rangkaian aksi pencurian tersebut, termasuk kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.
Sementara itu, pihak pengelola Dapur SPPG memastikan tetap fokus mempersiapkan operasional agar program MBG dapat berjalan sesuai rencana.
"Kita fokusnya adalah bagaimana untuk bisa membawa dampak kepada masyarakat sekitar. Kita tidak ingin masyarakat sekitar tidak terlibat," ujar Wiman.
Sumber: Tribuntangerang.com