Sensasi Wisata Edukasi di Kiringan, Jelajah Kebun Herbal hingga Belajar Meracik Jamu di Bantul
Joko Widiyarso July 30, 2026 04:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Aroma rempah menyambut siapa saja yang melintas di Desa Wisata Jamu Kiringan, Canden, Jetis, Bantul, DI Yogyakarta.

Di desa ini, jamu bukan sekadar minuman penghangat tubuh atau pereda sakit, melainkan mata pencaharian yang menghidupi mayoritas warga.

Walaupun zaman bergerak cepat ke arah modernisasi, warga Kiringan tetap setia merawat warisan leluhur mereka, yakni menyelaraskan tradisi dengan tuntutan masa kini.

Di Kiringan, perputaran uang sangat bergantung pada kepiawaian tangan para perempuan.

Ketua Desa Wisata Jamu Kiringan, Sutrisno, mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen penduduk di desanya berprofesi sebagai penjual jamu.

Menariknya, profesi ini hampir sepenuhnya didominasi oleh kaum ibu.

Pendapatan yang dihasilkan pun juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Kadang kala di sini itu hasilnya (penjual jamu) melebihi yang laki-laki. Laki-laki yang kerja jadi buruh, tukang, atau laden itu hasilnya tidak sebanyak ibu-ibu," ungkap Sutrisno.

Setiap harinya, ibu-ibu penjual jamu bisa mengantongi pendapatan mulai dari Rp200.000 hingga Rp600.000, tergantung dari kelengkapan ragam jamu yang mereka bawa.

Sutrisno menyebut, dari total 132 pengrajin jamu di Kiringan, penjual laki-laki hanya bisa dihitung dengan jari.

Hanya ada tiga orang laki-laki yang meracik dan menjual jamu di Kiringan, yakni Sutrisno sendiri, seorang warga bernama Nur yang membantu istrinya, dan satu orang penerus dari generasi Mbah Joyo.

Meramu Sejarah dan Inovasi

2972026 - Lab Toga
Fasilitas yang menjadi ruang terbuka bagi wisatawan untuk mendapatkan pengalaman edukatif, sebelum nantinya mempraktikkan langsung cara meracik jamu.

Keahlian meracik jamu di Kiringan bukanlah hal baru, melainkan telah diwariskan hingga generasi ketiga dan keempat.

Tradisi ini sudah dimulai sejak masa Agresi Militer Belanda, sekitar tahun 1947 hingga 1950-an, yang dipelopori oleh tokoh setempat bernama Mbah Joparto.

Cara berjualannya pun berevolusi, dari yang awalnya digendong, beralih menggunakan sepeda onthel, hingga kini mayoritas menggunakan sepeda motor agar daya jangkaunya lebih luas.

Meski resep turun-temurun masih digunakan, inovasi tetap diperlukan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Sutrisno, yang memposisikan dirinya sebagai inovator, tidak hanya meracik jamu standar, tetapi meramu resep khusus untuk penyakit spesifik seperti asam urat, kolesterol, hingga ambien.

Ia bahkan diundang untuk melatih pembuatan jamu hingga ke Kalimantan Timur, Aceh, NTT, dan Papua.

Mengikuti kebutuhan cepat saji, para peracik jamu kini memadukan cara manual dengan mesin, seperti blender dan mesin parut.

Namun, para penikmat jamu sejati mengakui bahwa jamu yang diulek manual memiliki rasa yang lebih autentik.

Untuk mempertahankan identitas lokalnya, jamu di Kiringan disajikan menggunakan batok atau tempurung kelapa.

Tak seperti kebanyakan penjual dari daerah lain yang menjajakan jamu dalam botolan siap minum, pengrajin di Kiringan memilih meracik langsung di hadapan pelanggan.

Hal ini memungkinkan pelanggan untuk mengatur sendiri tingkat kekentalan jamu sesuai selera.

Edukasi Melalui Desa Wisata

Lewat paket
Lewat paket "Jelajah Wisata", pengunjung diajak menyusuri kebun ini untuk mengenali langsung khasiat berbagai tanaman herbal. (TribunJogja/Fauzan Ardana)

Potensi besar ini membawa Kiringan dikukuhkan sebagai Desa Wisata melalui SK Bupati pada tahun 2016.

Sejak itu, Desa Kiringan sudah menerima kunjungan dari delapan kementerian berbeda.

Mereka tidak sekadar menjual jamu dalam bentuk minuman matang atau serbuk, tetapi juga menjual pengalaman edukatif.

Kiringan menawarkan paket "Jelajah Wisata" seharga Rp57.500 per orang untuk minimal 20 peserta.

Dengan harga tersebut, wisatawan mendapatkan welcome drink, layanan cek kesehatan, pemaparan materi, hingga tur ke kebun Toga (Tanaman Obat Keluarga) untuk mengenali khasiat masing-masing tanaman liar maupun budidaya.

Pengalaman ini ditutup dengan praktik langsung meracik jamu, yang nantinya boleh dibawa pulang oleh peserta.

Tersedia pula paket yang lebih ekonomis mulai dari Rp15.000.

Jamu Gen Z dan Tantangan Regenerasi

2972026 - Detail tanaman
Pengunjung diberikan edukasi untuk mengenali ragam khasiat dari tanaman liar maupun budidaya yang menjadi bahan dasar jamu.

Tantangan terbesar yang dihadapi Kiringan saat ini adalah bagaimana membuat jamu tetap relevan di lidah generasi muda.

Menjawab hal ini, Sutrisno menciptakan Jamu Gen Z.

Jamu ini dimodifikasi agar rasa pahitnya hilang, dioplos dengan bahan kekinian seperti susu kambing etawa atau diracik menjadi bir pletok yang terbukti laris manis saat dijual ke mahasiswa atau di pusat perbelanjaan.

Sayangnya, inovasi produk ini belum berbanding lurus dengan inovasi pemasaran, khususnya di ranah digital.

Saat ini, para penjual masih mengandalkan cara konvensional berkeliling menjemput bola.

Peran pemuda desa yang melek teknologi informasi atau IT diharapkan dapat membantu memperluas pasar secara online, namun hal tersebut belum berjalan maksimal.

Ketika ditanya mengenai peran anak muda dalam kelanjutan usaha jamu di desa, Dukuh Kiringan, Tunggal, mengakui bahwa hal tersebut masih menjadi kendala utama.

“Kalau untuk itu belum ada mas, itu emang jadi pr saya juga untuk keberlangsungan pengrajin terkait regenerasinya, karena kebanyakan yang jualan seperti turun temurun mas,” tutur Tunggal.

Tantangan Desa Wisata Jamu Kiringan hari ini bukan sekadar merawat resep dari kepunahan, tetapi mencari penerus yang mau melanjutkan warisan ini.

Diperlukan sentuhan anak muda untuk membawa jamu Kiringan melampaui batas desa lewat teknologi, memastikan wilayah ini tetap menjadi pusat produksi jamu tradisional di masa mendatang.

(MG Fauzan Ardana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.