Cuaca Panas Ekstrem Melanda, Perlukah Jerman Ubah Strategi Pengaspalan?
Tribunnews July 30, 2026 04:38 PM

Gelombang panas yang melanda Eropa dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius selama beberapa hari kian berdampak pada Autobahn di Jerman. Mulai dari pelat beton melengkung, aspal yang pecah atau berubah bentuk, hingga pembatasan kecepatan sementara.

Padahal, Autobahn adalah sistem jalan bebas hambatan di Jerman yang terkenal karena di beberapa ruasnya tidak memiliki batas kecepatan maksimal.

Pada awal bulan Juli saja, tujuh ruas jalan raya di negara tersebut terpaksa ditutup total untuk sementara waktu.

"Penyebabnya sering kali terletak pada bitumen, bahan pengikat yang berasal dari minyak bumi dalam aspal. Bahan ini bersifat elastis dan dapat melunak pada suhu tinggi, mulai dari sekitar 60 derajat Celsius,” ujar juru bicara Autobahn GmbH, perusahaan yang mengelola jalan raya Jerman, kepada DW.

Bitumen merupakan komponen yang terdapat pada sebagian besar jalan di Jerman.

Saat suhu di luar melonjak hingga di atas 30 derajat Celsius, permukaan aspal yang berwarna gelap dapat dengan cepat memanas hingga dua kali lipat dari suhu udara atau bahkan lebih, terutama saat terpapar terik matahari sehingga berisiko mengalami deformasi atau perubahan bentuk.

Pertanyaannya, seiring dengan semakin intensnya gelombang panas dan meningkatnya volume lalu lintas, apakah jalan raya di Jerman dirancang untuk mampu bertahan menghadapi kondisi tersebut?

Autobahn Jerman tidak siap hadapi panas ekstrem?

Menurut Nina Stelzenmüller, insinyur yang memimpin divisi teknologi konstruksi jalan di Karlsruhe Institute of Technology (KIT) di Jerman bagian barat daya, jalanan di Jerman "sama sekali tidak dirancang untuk menahan beban tekanan" sebesar itu.

"Komposisi permukaan jalan didasarkan pada pengalaman selama 30 hingga 50 tahun terakhir, bukan pada perubahan iklim yang dampaknya kini semakin nyata," jelas Stelzenmüller.

Meski begitu, Autobahn GmbH mengakui bahwa saat ini permukaan jalan harus dirancang untuk menghadapi rentang suhu dari -30 derajat Celsius hingga 45 derajat Celsius.

Menurut perusahaan, jalan-jalan tersebut perlu dibangun agar tahan terhadap "tekanan iklim akibat panas dan dingin yang diperkirakan di Jerman."

Namun, di beberapa wilayah Jerman bagian timur, suhu berpotensi mencapai lebih dari 45 derajat Celsius di hari-hari tertentu menjelang tahun 2040. Hal ini didasarkan pada model iklim dari Layanan Meteorologi Nasional Jerman (DWD), dengan asumsi tingkat emisi akan tetap tinggi dan pemanasan global akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang

Sebuah studi yang melibatkan lembaga penelitian di bawah naungan Kementerian Transportasi Federal Jerman (BASt) juga menyimpulkan bahwa perubahan iklim telah mendorong material jalan yang ada saat ini sampai ke batas maksimalnya, sehingga diperlukan langkah penanganan.

Sayangnya, temuan studi tersebut belum dituangkan ke dalam ketentuan yang mengikat terkait pembaruan permukaan jalan.

Apa solusi yang bisa dilakukan?

Sebuah studi tahun 2019, yang juga melibatkan BASt, menemukan bahwa suhu dari aspal gelap bisa berkurang 7 derajat Celsius ketika dicampur dengan kuarsit berwarna terang.

Studi itu juga merekomendasikan agar penggunaan lapisan permukaan jalan yang memantulkan panas serta material pendingin lainnya segera diterapkan. Namun, studi tersebut tidak mengkaji biaya maupun ketahanan jangka panjang dari upaya adaptasi tersebut.

Autobahn GmbH sendiri mengaku sudah menggunakan batu berwarna lebih terang dalam konstruksi pada beberapa kasus. Namun, yang memengaruhi penggunaannya adalah ketersediaan batu tersebut di wilayah setempat yang memerlukan serta biayanya, kata perusahaan.

Saat ini, sejumlah kota seperti Oberhausen dan Stuttgart di Jerman bagian barat, dan negara bagian Brandenburg di wilayah timur, sedang menguji dan merencanakan penggunaan solusi jalan berwarna terang ini.

Menurut Stelzenmüller, sekadar menebarkan kuarsit berwarna terang di atas permukaan aspal dapat membantu, dan hal ini merupakan pendekatan jangka pendek yang layak diterapkan.

Masalah jalanan memanas bukan hanya di Jerman

Jerman bukan satu-satunya negara yang menghadapi masalah jalanan yang kian memanas.

Tokyo misalnya, telah menjadikan penggunaan permukaan jalan yang memantulkan panas dan mampu menahan air sebagai standar dalam proyek pelapisan ulang jalan.

Upaya ini dapat menurukan suhu permukaan jalan hingga 8-10 derajat Celsius. Hingga 2030, sekitar 245 kilometer jalan di ibu kota Jepang ditargetkan akan memakai permukaan jalan semacam itu.

Di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat (AS), pelapis jalan berwarna terang juga telah diterapkan di banyak ruas jalan. Lapisan tersebut memantulkan lebih banyak sinar matahari sehingga suhu permukaannya tercatat sekitar 6,7 derajat Celsius lebih rendah dibanding permukaan jalan biasa. Meski begitu, efek pantulan panas justru membuat udara di sekitar jalan terasa lebih panas bagi pejalan kaki.

Namun, seperti banyak negara lainnya, penerapan sistematis terkait permukaan jalan yang tepat guna mengatasi kerusakan akibat panas, masih jauh di Jerman. Tantangannya bukan hanya soal meningkatnya suhu rata-rata, tapi juga bagaimana menjaga permukaan jalan tetap stabil terhadap suku beku pada musim dingin.

Menurut Stelzenmüller, sebagai alternatif pengganti bitumen, saat ini tengah dikembangkan bahan pengikat (binder) berkinerja tinggi yang mampu bertahan menghadpi dua kondisi ekstrem sekaligus, yakni suhu beku dan panas.

"Material ini sangat elastis sehingga pada suhu rendah material ini tetap mampu menahan tekanan akibat cuaca dingin. Namun, di saat yang sama, material ini juga memiliki kekuatan yang sangat tinggi sehingga mampu menahan deformasi pada suhu tinggi," jelasnya.

Tantangan lain: Kebijakan belum mengimbangi kemajuan riset

Stelzenmüller mengatakan, hasil penelitian mengenai pembangunan jalan yang adaptif terhadap perubahan iklim sebenarnya sudah banyak tersedia.

"Namun, hingga temuan-temuan tersebut benar-benar dituangkan ke dalam regulasi dan kemudian diterapkan secara rutin dalam pembangunan jalan, prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Saya tidak bisa bayangkan diwujudkan dalam dua atau tiga tahun ke depan," ujarnya.

Menurutnya, modernisasi infrastruktur agar lebih siap menghadapi gelombang panas dapat berlangsung lebih cepat jika kementerian perhubungan dan otoritas pembangunan jalan menjadikannya sebagai prioritas.

Ia mencontohkan bahwa hal serupa pernah terjadi ketika standar batas polutan dalam pembuatan campuran aspal diperketat.

Saat itu, tepatnya tahun 2025, Kementerian Perhubungan Jerman memerintahkan agar penggunaan permukaan jalan yang menghasilkan lebih sedikit polutan diterapkan "secepat mungkin”, bahkan sebelum aturan baru terkait hal tersebut resmi diberlakukan.

Pendekatan inilah yang menurut Stelzenmüller dapat pula diterapkan untuk pembangunan jalan yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.

"Jika perhatian terhadap isu ini diperkuat, saya yakin jenis-jenis aspal baru dapat dikembangkan dan diterapkan dalam beberapa tahun ke depan.”

Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Prihardani Tuah Purba

Editor: Rizki Nugraha

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.