Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tingginya elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dibandingkan Presiden Prabowo Subianto dalam sejumlah survei, dinilai tidak lepas dari gaya komunikasi politik yang lebih humanis dan dekat dengan masyarakat.
Hal itu disampaikan Pakar Komunikasi Politik Unisba, Fadhli Muttaqien saat dihubungi Kamis (30/7/2026).
Menurut Fadhli, Dedi Mulyadi memiliki karakter komunikasi yang berbeda dengan Prabowo. Latar belakang Dedi yang dekat dengan masyarakat membuat pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah diterima publik.
Baca juga: Elektabilitas Prabowo Dilibas KDM, Pakar Soroti Gaya Komunikasi: Arogansi Terbawa ke Ruang Publik
"KDM (Kang Dedi Mulyadi) ini lebih humanistik, lebih empati karena memang beliau lahir dari ruang-ruang masyarakat bawah," ujar Fadhli.
Fadhli mengatakan, konten-konten yang diunggah Dedi Mulyadi melalui media sosial dinilai mampu membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
"Ketika dia membuat channel YouTube, orang-orang merasa relate, merasa relevan dengan kondisi masyarakat hari ini," katanya.
Fadhli menilai, keberhasilan komunikasi politik bergantung pada kemampuan seorang pemimpin menghadirkan pesan yang menyentuh masyarakat.
"Kenapa Kang Dedi bisa naik secara elektabilitas karena bentuk komunikasinya ini bisa menyentuh perasaan-perasaan masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, komunikasi yang tidak dibangun dengan empati akan sulit diterima publik.
"Kalau komunikasinya dari awal sudah nir-empati, itu enggak akan diterima," katanya.
Berdasarkan hasil survei SMRC, Dedi Mulyadi menjadi tokoh dengan elektabilitas tertinggi sebagai calon presiden dengan raihan 35 persen. Angka tersebut mengungguli Prabowo Subianto yang memperoleh 14,5 persen.
Baca juga: Politikus Tasik Sebut Elektabilitas KDM Melejit Karena Membumi, Prabowo Merosot? Embung Komen
Dedi Mulyadi juga berada di atas sejumlah tokoh nasional lain seperti Anies Baswedan (8,2 persen), Gibran Rakabuming Raka (7,7 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (4,9 persen), Ganjar Pranowo (4,2 persen), Mahfud MD (4 persen), Puan Maharani (1,3 persen), Sherly Tjoanda (1,2 persen), Purbaya Yudhi Sadewa (1,1 persen), dan Surya Paloh (1 persen).
Survei tersebut dilakukan pada 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang memiliki hak pilih. Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon menggunakan metode double sampling dan 144 responden diwawancarai secara tatap muka menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan margin of error sekitar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.