TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Umbi garut yang selama ini lebih banyak diolah menjadi tepung secara tradisional bakal dikembangkan menjadi beragam produk pangan bernilai tambah di Kelurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul.
Mulai dari bubur instan, mi bebas gluten, hingga keripik garut disiapkan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan kelompok perempuan di wilayah tersebut.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui program pengabdian masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang didukung Program Basis Industri dan Masyarakat (BIMA) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Sebanyak 22 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur akan mendapat pendampingan mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran digital agar komoditas lokal tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi.
Ketua Tim Pengabdian UNY, Umar Yeni Suyanto, mengatakan umbi garut sebenarnya memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional karena memiliki indeks glikemik rendah, bebas gluten, serta mudah dicerna. Namun selama ini pemanfaatannya masih terbatas sehingga nilai ekonominya belum optimal.
"Umbi garut merupakan komoditas lokal yang memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Melalui Program BIMA Kemdiktisaintek ini, kami ingin mendorong transformasi dari penjualan bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat," ujar Umar.
Menurutnya, pengembangan produk tidak hanya berhenti pada inovasi olahan pangan.
Kelompok perempuan juga akan dibekali kemampuan mengelola usaha, mulai dari penyusunan standar operasional produksi, pencatatan keuangan, perhitungan harga pokok produksi (HPP), hingga strategi pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace.
UNY juga akan mengenalkan teknologi pengolahan semi-mekanis agar kapasitas produksi meningkat sekaligus menjaga kualitas produk yang dihasilkan.
Umar berharap KWT Ngudi Makmur dapat berkembang menjadi kelompok usaha perempuan yang mandiri dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
"Kami berharap KWT Ngudi Makmur dapat berkembang menjadi kelompok usaha perempuan yang mandiri, inovatif, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi, penguatan manajemen usaha, dan pemasaran digital," katanya.
Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem pangan lokal berkelanjutan melalui diversifikasi produk serta pemanfaatan limbah produksi sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
Kelurahan Triwidadi selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil umbi garut di Kabupaten Bantul.
Melalui inovasi produk dan penguatan kapasitas usaha, komoditas lokal yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk tepung tradisional diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas sekaligus menjadi sumber ekonomi baru bagi perempuan desa. (*)