TRIBUNNEWS.COM, SERANG – Berada di kawasan pesisir Banten yang tergolong rawan bencana geologi maupun alam, anak-anak sekolah dasar memerlukan lebih dari sekadar teori untuk bertahan di situasi darurat.
Kesadaran mendasar inilah yang mendorong hadirnya edukasi kesiapsiagaan bencana secara aplikatif di SDN Pasauran 1, Kabupaten Serang, Banten.
Melalui sinergi lintas sektor yang melibatkan akademisi FMIPA Universitas Indonesia (UI), sektor swasta TOA Indonesia, serta didukung oleh BNPB dan BPBD Kabupaten Serang, sekolah pesisir ini dijadikan percontohan penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Para siswa diajak memahami tata cara evakuasi mandiri melalui pendekatan yang ramah anak, yaitu lewat media pemutaran video animasi edukatif.
Materi yang disajikan mengulas secara sederhana tentang langkah pengamanan diri saat terjadi kebakaran, gempa bumi, hingga ancaman tsunami. Edukasi visual ini dirancang agar anak-anak tidak panik dan tahu persis ke mana harus berlari saat bahaya mengintai.
Baca juga: 300 Orang Ikuti Latihan Penanggulangan Bencana di Osaka, WNI Bakal Jalani Simulasi Khusus di Tokyo
Edukasi kesiapsiagaan di lingkungan sekolah tak akan memadai tanpa dukungan fasilitas peringatan dini yang andal.
Dalam kondisi darurat, setiap detik sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa.
Sebagai wujud implementasi nyata di lapangan, lingkungan SDN Pasauran 1 kini dilengkapi dengan fasilitas public address system dan komunikasi evakuasi terintegrasi.
Perangkat komunikasi darurat (Z-FV2148W-AS Wall-Mount Evacuation System dari TOA Indonesia) tersebut dapat terhubung langsung dengan sistem alarm sekolah, sehingga instruksi evakuasi dapat tersampaikan secara cepat dan jelas ke seluruh penjuru area sekolah tanpa memicu kepanikan massal.
Dosen Prodi Geologi & Geofisika FMIPA UI, Twin Hosea W. Kristyanto, menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi contoh konkret bagaimana hasil studi riset akademis diterjemahkan menjadi solusi praktis di tengah masyarakat.
"Riset dan edukasi perlu diwujudkan dalam solusi yang aplikatif. Melalui media pembelajaran yang tepat serta dukungan fasilitas komunikasi darurat, budaya kesiapsiagaan bisa dibangun sejak usia dini," jelas Twin.
Upaya penguatan kapasitas warga sekolah ini mendapat apresiasi positif dari otoritas penanggulangan bencana.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai langkah ini sejalan dengan target pemerintah dalam memperluas jangkauan sekolah tangguh bencana di seluruh Indonesia.
Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB, Meilina Wulandari, menyampaikan bahwa kolaborasi pentaheliks—yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan swasta—merupakan kunci utama dalam membangun ketahanan masyarakat jangka panjang.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BPBD Kabupaten Serang, Ajat Sudrajat, berharap model edukasi dan penyediaan sarana evakuasi di SDN Pasauran 1 dapat direplikasi ke sekolah-sekolah lain, khususnya yang berada di zona merah rawan bencana pesisir.
"Harapan kami, inisiatif Sekolah Siaga Bencana ini dapat terus diperluas. Ini adalah investasi keselamatan untuk menciptakan generasi yang tangguh dan siap siaga meminimalkan risiko bencana," pungkas Ajat.