TRIBUNNEWSMAKER.COM - Tradisi Yaa Qowiyyu atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Sebaran Apem Jatinom kembali menghadirkan beragam rangkaian acara yang selalu dinanti setiap tahunnya.
Dari sekian banyak agenda yang digelar, pawai sapi tunggang menjadi salah satu atraksi paling unik sekaligus mencuri perhatian ribuan warga yang memadati sepanjang jalan raya Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Jika di berbagai daerah masyarakat lebih sering melihat parade kendaraan hias atau kirab budaya, di Jatinom suasananya justru berbeda.
Puluhan sapi yang telah dihias dengan beragam ornamen warna-warni berjalan beriringan di jalan raya sambil ditunggangi para peserta.
Pemandangan inilah yang membuat tradisi tersebut selalu menarik perhatian, bahkan menjadi momen yang paling banyak diabadikan pengunjung.
Keunikan pawai ini tidak hanya terletak pada keberadaan sapi tunggang.
Baca juga: Reaksi Sule Setelah Nathalie Holscher Resmi Menikah dengan Aripat, Ngaku Jujur Cemburu Soal Adzam
Sejumlah gerobak sapi tradisional juga ikut memeriahkan iring-iringan, menghadirkan nuansa pedesaan yang masih terjaga hingga kini.
Kombinasi sapi tunggang dan gerobak sapi seolah mengajak masyarakat kembali mengenang kehidupan agraris yang sejak lama menjadi bagian dari sejarah Jatinom.
Menariknya lagi, peserta pawai berasal dari berbagai kalangan. Tidak hanya para peternak, tetapi juga anak-anak, orang dewasa, hingga tokoh masyarakat ikut merasakan sensasi menunggangi sapi.
Seluruh peserta menggunakan pelana khusus sehingga dapat duduk lebih nyaman saat mengikuti pawai yang melintasi jalan raya.
Kehadiran anggota TNI dan Polri yang ikut menunggangi sapi juga menjadi daya tarik tersendiri.
Momen tersebut membuat suasana semakin meriah karena menunjukkan kebersamaan antara aparat keamanan dan masyarakat dalam melestarikan tradisi daerah.
Tak hanya itu, Camat Jatinom bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) juga turut ambil bagian dalam pawai.
Kehadiran unsur pemerintah bersama masyarakat menjadi simbol dukungan terhadap pelestarian budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Sosok Aripat, Kini Sah Jadi Suami Nathalie Holscher, Dulu Kerja di Bidang Leasing dan Sales Properti
Sepanjang rute pawai, ribuan warga tampak memadati tepi jalan. Banyak di antara mereka mengabadikan momen ketika sapi-sapi berhias melintas.
Beberapa sapi tampil semakin menarik dengan hiasan warna-warni pada bagian kepala, leher, hingga pelana yang digunakan penunggangnya.
Suasana semakin semarak dengan sorak-sorai warga yang menyambut setiap rombongan peserta.
Selain menjadi tontonan menarik, pawai sapi tunggang juga menjadi bentuk penghormatan terhadap peran sapi dalam kehidupan masyarakat pedesaan.
Hewan yang selama ini identik dengan aktivitas pertanian tersebut dihadirkan sebagai bagian dari warisan budaya yang masih dijaga hingga sekarang.
Pawai sapi tunggang sendiri merupakan salah satu rangkaian perayaan Tradisi Yaa Qowiyyu atau Saparan Jatinom 2026.
Sementara itu, puncak acara akan digelar pada Jumat (31/7/2026) di Lapangan Klampeyan, Jatinom, dengan tradisi Sebaran Apem yang selalu dinantikan masyarakat dari berbagai daerah.
Melalui pawai ini, masyarakat tidak hanya disuguhkan hiburan, tetapi juga diajak mengenal kekayaan budaya lokal yang masih hidup di tengah perkembangan zaman.
Keunikan sapi tunggang yang jarang ditemui di daerah lain menjadi daya tarik tersendiri, menjadikan rangkaian Tradisi Yaa Qowiyyu sebagai salah satu agenda budaya paling ikonik di Kabupaten Klaten setiap tahunnya.
(Tribunnewsmaker.com/Candra)