Bukan Sekadar Diskon, Ini Misi Utama Gelaran ISF 2026
Devira Prastiwi July 30, 2026 11:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) berkomitmen memperkuat roda perekonomian nasional. Salah satunya melalui gelaran pesta diskon tahunan Indonesia Shopping Festival (ISF) 2026, yang akan berlangsung selama 17 hari, mulai 7 hingga 23 Agustus 2026.

Ketua Umum DPP APPBI, Alphonzus Widjaja, menjelaskan bahwa ISF dirancang sebagai program belanja berkesinambungan untuk menjaga gairah pasar, terutama saat memasuki masa sepi transaksi (low season) setelah puncak penjualan Ramadan dan Idulfitri.

"Ini adalah program-program belanja yang berkesinambungan. Puncak penjualan kita itu adalah Ramadan dan Idulfitri, biasanya setelah itu, di Indonesia itu masuk low season," ujar Alphonzus dalam konferensi pers ISF 2026 di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

"Dan low season tahun ini menjadi lebih panjang karena Ramadan, Idulfitrinya sudah terjadi di triwulan pertama. Jadi triwulan dua dan triwulan tiga itu menjadi low season yang panjang. Oleh karenanya, kami berusaha memperpendek, dalam tanda kutip, low season yang panjang ini dengan beberapa program-program belanja," lanjutnya.

Guna menjaga konsumsi masyarakat, APPBI sebelumnya telah menggandeng Himpunan Retail dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPINDO) saat musim libur sekolah, serta mendukung gelaran Jakarta Great Sale yang terbukti sukses memenuhi target.

Setelah agenda ISF 2026 usai, rangkaian pesta belanja nasional akan terus bergulir hingga momen Natal dan Tahun Baru. Salah satunya adalah ajang Wonderful Indonesia Gastronomy pada Oktober mendatang, sebuah program festival belanja kuliner yang diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata.

Alphonzus menegaskan, berbagai gelaran ini bukan sekadar perayaan Hari Kemerdekaan RI, melainkan strategi nyata untuk menjaga daya beli pasar di tengah dinamika ekonomi.

"Jadi bukan hanya sekedar lagi merayakan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga fungsinya sekarang sudah lebih dari itu, untuk ikut mendukung pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan untuk memastikan betul-betul perdagangan dalam negeri Indonesia kita bisa maksimal di tengah situasi dan kondisi yang memang saat ini penuh dengan tantangan," tegasnya.

Dukungan dan Fasilitas Penuh dari Pemerintah

Press Conference ISF 2026 Kementerian Perdagangan, Kamis (30/7/2026). (Liputan6.com/Devira P)
Press Conference ISF 2026 Kementerian Perdagangan, Kamis (30/7/2026). (Liputan6.com/Devira P)

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta Kementerian Pariwisata menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kebutuhan penyelenggaraan ISF 2026.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN) Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, mengungkapkan bahwa pemerintah pusat bahkan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memberikan kelonggaran pajak reklame demi mendukung promosi acara.

"Pemerintah dalam hal ini bukan hanya Kementerian Perdagangan, termasuk Kementerian Perekonomian dan Kementerian Pariwisata, kita memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh dalam hal ini APPBI," kata Iqbal.

"Apapun itu kita fasilitasi, misalnya kita bahkan berkirim surat kepada pemerintah daerah terkait dengan reklame misalnya, pajak reklame meminta kemudahan kalau bisa itu diberikan relaksasi terkait dengan pajak reklame," tambahnya.

Menurut Iqbal, insentif promosi sangat vital mengingat skala penyelenggaraan ISF 2026 terbilang masif, melibatkan 407 pusat perbelanjaan di seluruh wilayah Indonesia.

Bidik Transaksi Rp 38 Triliun

Gelaran ISF 2026 merupakan edisi kelima yang dilaksanakan pascapandemi Covid-19. Pada penyelenggaraan tahun 2025 lalu, ISF berhasil membukukan total nilai transaksi sekitar Rp 25 triliun. Tahun ini, APPBI menargetkan lonjakan nilai transaksi yang cukup signifikan hingga menembus angka Rp 38 triliun.

"Kemudian di tahun 2026 ini, APPBI atau ISF itu meningkatkan targetnya menjadi Rp 38 triliun. Terlepas tadi dengan segala tantangan, dari sekitar target saja kita sudah optimis naik seenggaknya Rp 13 triliun," ujar Iqbal.

Iqbal optimistis pencapaian target ini mampu memberikan dampak positif terhadap pendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan tumbuh 5,6 persen, di mana sekitar 54 persen antaranya ditopang oleh konsumsi rumah tangga.

"Komitmen Kementerian Perdagangan tentu saja mendukung kegiatan, tidak hanya mendukung, tapi juga memfasilitasi segalanya apakah yang perlu diperlukan," ungkapnya.

Selain menggerakkan industri ritel besar, Kemendag juga berharap ajang ini dapat memberi panggung bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas jangkauan pasar mereka ke masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.