Profil Yesita yang Raih Gelar Doktor di Usia 27 Tahun dari UGM, Memimpin Tim Riset Hingga 80 Orang
Putra Dewangga Candra Seta July 30, 2026 11:32 PM

 

SURYA.co.id – Gelar doktor yang diraih Yesita Vera Saraswati di usia 27 tahun 10 bulan 8 hari bukan hanya mencatatkan rekor sebagai lulusan doktor termuda pada wisuda Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM).

Di balik pencapaian akademik tersebut, perempuan asal Klaten itu juga memikul tanggung jawab yang tidak ringan sebagai koordinator tim penelitian yang beranggotakan sekitar 70 hingga 80 mahasiswa.

Tugas itu dijalankannya bersamaan dengan penyusunan disertasi, penelitian laboratorium, hingga publikasi ilmiah.

Pengalaman tersebut menjadi sisi lain yang jarang disorot dari keberhasilannya meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude dan IPK hampir sempurna, yakni 3,99.

Kemampuan memimpin tim lintas laboratorium di usia muda menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi selama menempuh Program Studi Doktor Ilmu Peternakan UGM.

Menurut Yesita, keberhasilan menyelesaikan studi bukan hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan mengatur waktu, membangun komunikasi, dan menjaga kekompakan tim riset.

Rekor usia itu membuat Yesita dinobatkan sebagai lulusan termuda dalam wisuda Program Pascasarjana UGM yang digelar di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta, pada Rabu (23/7/2026).

Rata-rata usia 90 lulusan doktor pada periode tersebut mencapai 42 tahun 6 bulan 16 hari.

"Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus," ungkap Yesita, dikutip dari laman resmi UGM.

Memimpin Tim Penelitian Hingga 80 Mahasiswa

Kesuksesan Yesita menyelesaikan studi doktor dalam waktu 3 tahun 9 bulan 10 hari tidak hanya diwarnai aktivitas kuliah dan penelitian pribadi.

Ia juga dipercaya mengelola tim penelitian yang terdiri atas sekitar 70 hingga 80 mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai laboratorium.

Tanggung jawab tersebut membuat tantangan yang dihadapinya tidak hanya berasal dari proses penyusunan disertasi, tetapi juga dari dinamika kerja tim.

"Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya," jelasnya.

Kemampuan mengatur sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya. Ia harus memastikan koordinasi penelitian tetap berjalan sembari mengejar target penyelesaian studi.

Penelitian Ayam Lokal yang Membutuhkan Proses Panjang

Yesita mengikuti Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Disertasinya berjudul "Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya", yang berfokus pada pembentukan ayam lokal galur baru.

Bersama tim peneliti, ia menggali potensi genetik ayam lokal Indonesia agar dapat dikembangkan menjadi sumber protein hewani yang lebih berkualitas dan mendukung kebutuhan pangan nasional.

"Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima," jelas Yesita.

Namun penelitian tersebut tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Tim harus mengawinkan dan menyilangkan ayam, memeliharanya hingga berumur sekitar 32 minggu, kemudian melakukan persilangan kembali pada generasi berikutnya.

Proses itu dilakukan berulang demi memperoleh data yang valid.

Selain pengamatan terhadap pertumbuhan ayam, penelitian juga melibatkan pengambilan data dari berbagai aspek, mulai daging, telur, susu, hingga nutrisi.

Seluruh data tersebut harus dikelola secara terkoordinasi oleh tim lintas laboratorium.

Belajar Memimpin, Mengatur Waktu, hingga Mencari Pendanaan

Di tengah padatnya aktivitas penelitian, Yesita juga harus menghadapi tantangan lain berupa data penelitian yang sangat besar serta berbagai proses trial and error yang menjadi bagian tak terpisahkan dari riset ilmiah.

Ia mengaku pengalaman tersebut justru mengajarkannya banyak hal di luar kemampuan akademik.

"Jadi saya bisa belajar bagaimana memanajemen waktu sekaligus orang-orang yang bergabung di dalam tim, sembari juga tetap menjalin relasi dan mencari pendanaan dan sebagainya," ungkap Sita.

Pengalaman memimpin puluhan mahasiswa sejak usia muda menjadi bekal penting bagi perempuan asal Klaten itu dalam meniti karier akademiknya di masa depan.

Tetap Aktif Berorganisasi dan Berkesenian

Kesibukan menjalani studi doktor ternyata tidak membuat Yesita menutup diri dari aktivitas di luar akademik.

Selama menjadi mahasiswa pascasarjana, ia tetap aktif mengikuti organisasi kampus, kegiatan sosial, berbagai penelitian lain yang menghasilkan publikasi ilmiah serta hak cipta dalam bentuk poster, hingga menekuni seni karawitan.

Menurutnya, keseimbangan hidup menjadi salah satu faktor penting agar mampu menjalani studi yang panjang dan penuh tekanan.

"Bagi saya, di samping studi, kita harus tetap menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain dan menyeimbangkan kesenangan agar hidup tetap seimbang," ujarnya.

Ingin Menjadi Dosen Sejak SMA

Di balik seluruh pencapaiannya, Yesita mengungkapkan cita-cita menjadi akademisi atau dosen sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA.

Keinginan tersebut lahir dari pengalaman di kampung halamannya di Klaten yang memiliki banyak anak-anak. Sejak dulu ia senang mengajak mereka berkumpul untuk belajar bersama.

Meski kini telah menyandang gelar doktor di usia muda, Yesita menegaskan proses belajar tidak akan pernah berhenti.

Prestasi Yesita Vera Saraswati menunjukkan bahwa keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan memimpin tim, mengelola waktu, membangun jejaring, dan menyelesaikan persoalan yang muncul selama proses penelitian.

Sisi kepemimpinan ini justru menjadi nilai yang jarang mendapat sorotan, padahal mengelola sekitar 80 anggota tim riset merupakan tanggung jawab besar yang umumnya ditemui dalam dunia profesional.

Kisah Yesita memperlihatkan bahwa pendidikan doktor tidak hanya membentuk seorang peneliti, tetapi juga melatih kemampuan manajerial dan kolaborasi yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan di masa depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.