Tak Cuma Seragam dan Buku, Orangtua Diingatkan Lindungi Anak dari DBD Jelang Masuk Sekolah
Feryanto Hadi July 30, 2026 11:35 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Memasuki tahun ajaran baru, orangtua biasanya sibuk menyiapkan seragam, tas, buku, hingga perlengkapan sekolah anak.

Namun, ada satu hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan, yakni perlindungan terhadap demam berdarah dengue (DBD).

Pasalnya, data Kementerian Kesehatan menunjukkan anak masih menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kematian akibat DBD.

Berdasarkan data periode 2018-2025, sebanyak 59 persen kematian akibat DBD pada 2025 terjadi pada anak usia 0-14 tahun.

Dari jumlah tersebut, 41 persen berasal dari kelompok usia 5-14 tahun.

Sementara itu, kelompok usia 15-44 tahun masih menjadi penyumbang kasus DBD terbanyak atau mencapai 42 persen dari seluruh kasus pada 2025.

Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qothi, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya muncul saat musim hujan.

Padahal, penyakit yang disebabkan virus dengue tersebut dapat mengancam sepanjang tahun.

Baca juga: Cakung Jadi Wilayah Tertinggi Kasus DBD di Jaktim, Ini Data Lengkap Sudin Kesehatan Jakarta Timur

"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun sehingga kewaspadaan juga harus dijaga setiap saat," ujar dr. Ikhsan di Jakarta, Kamis (30/7/2026)

Ia menjelaskan, virus dengue memiliki empat serotipe, yakni DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4.

Seseorang yang pernah terinfeksi satu serotipe masih berpeluang tertular serotipe lainnya.

"Infeksi berikutnya bahkan dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Jadi, pernah terkena DBD bukan berarti kebal," katanya.

Menurut dr. Ikhsan, nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebar virus dengue aktif menggigit pada pagi dan sore hari. Kondisi itu membuat anak berisiko terpapar saat beraktivitas, baik di rumah maupun di sekolah.

Karena itu, upaya pencegahan tidak cukup dilakukan di lingkungan rumah, tetapi juga harus diterapkan secara konsisten di sekolah.

Sekolah diharapkan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, seperti menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta melakukan pemantauan jentik secara berkala.

Selain itu, orangtua diminta tidak lengah ketika anak mengalami demam.

Baca juga: DBD Ancam Semua Kelompok Usia, Jakarta Sudah Catat 5.700 Kasus Tahun Ini

Menurut dr. Ikhsan, hingga kini belum ada obat yang secara khusus menyembuhkan infeksi dengue.

Penanganan medis bertujuan mencegah kondisi pasien memburuk.

Ia mengingatkan, tanda bahaya justru bisa muncul ketika demam mulai turun.

"Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan, gusi berdarah, terlihat sangat lemas, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan," ujarnya.

Selain mengganggu kesehatan, DBD juga berdampak terhadap aktivitas belajar anak.

Anak yang terinfeksi harus beristirahat di rumah atau menjalani perawatan sehingga berpotensi tertinggal pelajaran. Bahkan, rasa lelah masih bisa dirasakan hingga beberapa minggu setelah dinyatakan sembuh.

Dampaknya juga dirasakan keluarga dari sisi ekonomi.

Berdasarkan studi Universitas Gadjah Mada (UGM), total beban ekonomi akibat DBD di Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp3,5 triliun ditanggung langsung oleh pasien dan keluarga, termasuk biaya pengobatan, transportasi, hingga hilangnya pendapatan karena harus mendampingi anggota keluarga yang sakit.

Satu episode rawat inap akibat DBD juga diperkirakan menimbulkan biaya rata-rata sekitar Rp6 juta, atau hampir dua kali lipat dari rata-rata Upah Minimum Provinsi (UMP) bulanan secara nasional pada 2024.

Karena itu, dr. Ikhsan mengingatkan pentingnya menerapkan pencegahan secara menyeluruh.

Selain menjalankan 3M Plus, ia mengatakan vaksinasi dengue dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Vaksin dengue saat ini juga telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bagi kelompok dewasa yang memenuhi kriteria.

Orangtua disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak maupun anggota keluarga telah memenuhi syarat mendapatkan vaksinasi dengue sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Di sisi lain, Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa perlindungan anak dari DBD membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Sebagai orang tua, saya memahami betapa beratnya melihat anak sakit dan tidak dapat menjalani kesehariannya seperti biasa."

Menurutnya, ketika seorang anak terkena DBD, seluruh keluarga ikut terdampak.

Orang tua mungkin harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak, aktivitas keluarga terganggu, dan muncul biaya yang tidak terduga.

"Semua orang bisa terinfeksi virus dengue, terlepas dari usia, tempat tinggal, maupun gaya hidupnya," kata dia

Karena itu, perlindungan perlu dimulai dari keluarga, dengan orang tua mengambil peran penting dalam membangun kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, termasuk melakukan 3M Plus secara berkelanjutan dan mempertimbangkan penggunaan metode pencegahan yang inovatif.

Namun, tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan kepada keluarga saja.

Upaya tersebut perlu diperkuat oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. Sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030, 

"Takeda berkomitmen terus mendukung upaya pemerintah dan masyarakat melalui edukasi serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dengue di Indonesia,” tutup Andreas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.