TRIBUNTRENDS.COM - Kasus kematian satpam bernama Sumarna di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, masih menyisakan banyak tanda tanya hingga kini.
Peristiwa yang terjadi pada Jumat (24/7/2026) tersebut belum berhasil diungkap secara utuh oleh pihak kepolisian.
Tidak hanya pelaku yang masih belum teridentifikasi, motif di balik dugaan pembunuhan terhadap Sumarna juga masih menjadi misteri.
Kematian pria berusia 42 tahun itu sebelumnya mengundang perhatian publik karena ditemukan dalam kondisi yang tidak wajar.
Saat ditemukan di perairan Waduk Jatiluhur, kedua tangan Sumarna terborgol dan mulutnya dilakban.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa korban menjadi sasaran tindak kejahatan sebelum jasadnya dibuang.
Memasuki hari keenam sejak penemuan jasad korban, penyelidikan masih terus dilakukan oleh aparat kepolisian.
Baca juga: Hasil Autopsi Sumarna Satpam Waduk Jatiluhur, Diduga Dibunuh Lebih Dulu, Kades Bongkar Rahasianya
Perkembangan terbaru terkait kasus tersebut juga belum diungkap secara rinci kepada publik.
Di tengah minimnya petunjuk yang terungkap, polisi mulai menemukan fakta penting terkait penyebab kematian korban.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Pipit Rismanto mengungkapkan hasil temuan awal dari proses penyelidikan yang sedang berjalan.
Berdasarkan dugaan sementara, Sumarna meninggal dunia akibat hantaman benda keras.
Luka yang ditemukan pada tubuh korban mengarah pada adanya tindakan kekerasan sebelum kematiannya.
Penyidik juga menduga korban sudah dalam keadaan meninggal saat tubuhnya dibuang ke waduk.
Temuan tersebut menjadi petunjuk penting yang dapat membantu mengungkap rangkaian peristiwa di balik kematian tragis Sumarna.
"Diduga (satpam tewas) karena benturan masih benda-benda keras. Atau meninggal sebelum di buang ke dalam air," ujar Irjen Pol Pipit Rismanto.
Guna mengusut kasus tersebut, Polda Jabar membuat tim khusus.
"Para penyidiknya sedang dipanggil untuk dilakukan gelar hasil investigasi mulai dari olah TKP. Kita akan menurunkan tim gabungan untuk back up Polres Purwakarta. Mudah-mudahan ini cepat terungkap," ungkap Irjen Pol Pipit Rismanto.
Selain deretan fakta yang telah disajikan pihak kepolisian, sejumlah kejanggalan tak luput dari kasus kematian Sumarna.
Apa saja?
Kejanggalan pertama dari dugaan pembunuhan Sumarna adalah soal temuan dua borgol di TKP yakni Waduk Jatiluhur.
Borgol pertama ditemukan dipasang di tangan korban.
Seperti diketahui, jasad Sumarna ditemukan dengan tangan terborgol ke belakang.
Lalu borgol kedua ditemukan di sepeda motor korban dekat pos jaga.
Atas temuan borgol tersebut, paman korban bernama Ocid mengaku heran.
Terlebih dengan cara pelaku menghabisi nyawa Sumarna.
Bukan cuma soal borgol, Ocid juga menyoroti terkait temuan sebuah benda di saku pakaian Sumarna.
Benda tersebut adalah kunci borgol.
"Dengan tangan terborgol, borgol yang dia bawa sendiri, kan dia sebagai security. Cuma kuncinya ada di saku, masa dia bisa borgol sendiri dengan tangan di belakang," kata Ocid.
Baca juga: Beri Anak Maling Rp 50 Juta, Anak Satpam Rp 25 Juta, Dedi Mulyadi Dituding Pilih Kasih: Anak Asuh
Kejanggalan ketiga dari kasus kematian Sumarna adalah terkait momen terakhir sebelum sang satpam ditemukan meninggal dunia.
Untuk diketahui, Sumarna pamit ke sang istri untuk berangkat kerja ke pos jaga Waduk Jatiluhur adalah pukul 19.00 Wib.
Setelah itu, warga yang merupakan anggota Linmas kabarnya sempat mendatangi pos jaga pukul 23.00 Wib untuk bertemu Sumarna.
Alasannya adalah karena ingin mengambil yang ganti pembayaran BPJS yang sudah cair.
Sebagai pimpinan Linmas, Sumarna lah yang dipercaya memegang uang senilai Rp1.050.000.
Tapi saat mendatangi pos, warga tidak berhasil bertemu Sumarna.
Kata tukang parkir di sekitar pos, Sumarna sudah tidak ada di pos sejak pukul 21.00 Wib.
"Mereka sekitar jam 11 pada ke pos, kan di pos banyak anak muda di sana ada yang suka parkir. Katanya dari jam 9 pak Marna udah enggak ada," ujar kades dalam tayangan Youtube Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dari sana lah warga berusaha mencari keberadaan Sumarna.
Selain warga anggota Linmas, istri Sumarna juga mencari keberadaan sang suami sekira pukul 23.30 Wib.
"Linmas nyari di situ tapi enggak ketemu sampai ke Gardu Induk. Malamnya si ibu nyari," ujar kadese.
"Jam setengah 12 udah enggak ada di pos," timpal KDM.
Pencarian Sumarna berlangsung hanya sampai tengah malam.
Warga mengira kala itu Sumarna pergi ke suatu tempat lantaran membawa sepeda motor.
"Berarti malam itu sudah dilakukan pencarian? ketika di pos enggak ada enggak di cari?" tanya KDM.
"Kan sama motornya enggak ada. Mungkin dipikir lagi ke mana," ujar kades.
"Jadi sekarang motornya ditemukan di mana?" tanya KDM lagi.
"Ada di situ, ada di pos, disinyalir almarhum pulang ke pos baru terjadi (pembunuhan)," imbuh kades.
Sempat pergi meninggalkan pos berjam-jam, jejak Sumarna diketahui dari warga sekitar.
Rupanya ada warga yang sempat bertemu dan melihat Sumarna ada di pos jaga sekira pukul 02.30 Wib.
Dari keterangan warga itu lah Dedi Mulyadi menarik kesimpulan bahwa diperkiraan Sumarna dibunuh saat subuh.
"Jam setengah 3 ada warga pergi ke pasar masih melihat almarhum. Dia lagi gini-gini (streching) di sana," ungkap kades.
"Subuh berarti (diduga dibunuh)," ujar KDM.
(TribunTrends/https://bogor.tribunnews.com/news/318598/4-kejanggalan-satpam-tewas-tangan-terborgol-di-waduk-jatiluhur-paman-syok-lihat-ini-di-saku-korban?page=allTribunBogor)