TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGAKAYU- Musim kemarau panjang di Sulawesi Barat (Sulbar) mulai memberikan dampak buruk kepada masyarakat.
Kemarau panjang ini menyeluruh di enam kabupaten di Sulbar, para warga mulai mengeluhkan krisis air bersih hingga bagi petani terancam gagal panen.
Seperti halnya di Pasangkayu ada delapan hektare lahan persawahan terancam gagal panen tahun ini karena kemarau panjang.
Baca juga: Kekeringan Melanda Pasangkayu, Polsek Baras Turun Tangan Salurkan Air Bersih ke Rumah Warga
Baca juga: DPRD Setujui Pertanggungjawaban APBD 2025, Wabup Herny Sebut Pengelolaan APBD Perlu Penyempurnaan
Persawahan tersebut berada di Desa Sarude, Kecamatan Sarjo, Kabupaten Pasangkayu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasangkayu dan Dinas Pertanian meninjau lahan tersebut.
Mereka akan mencari solusi atas ancaman kerugian gagal panen dialami petani.
Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian besar areal persawahan mulai mengering.
Retakan tanah terlihat di beberapa titik akibat minimnya pasokan air selama beberapa pekan terakhir.
Salah seorang petani, Nurdin, mengatakan kekeringan mulai dirasakan warga sejak hampir satu bulan terakhir seiring berkurangnya curah hujan di wilayah tersebut.
Menurutnya, total lahan persawahan yang tersedia di lokasi mencapai sekitar 10 hektare. Namun hingga saat ini baru sekitar 8 hektare yang telah ditanami padi.
"Sudah hampir satu bulan kekeringan. Air yang biasanya mengaliri sawah sudah sangat berkurang. Kami khawatir tanaman padi tidak bisa berkembang dengan baik," kata Nurdin.
Ia menjelaskan, usia tanaman padi yang ditanam petani saat ini baru memasuki sekitar dua bulan. Pada fase tersebut, tanaman masih membutuhkan pasokan air yang cukup untuk menunjang pertumbuhan hingga masa pembentukan bulir.
Jika kondisi kekeringan terus berlanjut, para petani khawatir hasil panen akan menurun drastis bahkan berpotensi mengalami gagal panen.
"Kami berharap ada solusi secepatnya supaya tanaman ini bisa diselamatkan. Kalau terus kering seperti ini, tentu hasil panen nanti akan berkurang," ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasangkayu, Arhamuddin, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan bersama Dinas Pertanian untuk melihat langsung kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, langkah penanganan yang paling memungkinkan saat ini adalah memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di sekitar lokasi persawahan.
Ia menjelaskan, terdapat aliran sungai yang lokasinya tidak terlalu jauh dari area sawah warga.
Sumber air tersebut dapat dimanfaatkan dengan menggunakan pompa untuk kemudian dialirkan ke lahan pertanian yang mengalami kekeringan.
"Di sekitar lokasi masih terdapat sungai yang bisa digunakan sebagai sumber air," kata Arhamuddin.
Menurutnya, penggunaan pompa air menjadi solusi yang lebih efektif dibandingkan penyaluran air menggunakan mobil tangki.
Sebab, meskipun BPBD memiliki stok air yang dapat digunakan untuk bantuan darurat, jumlahnya sangat terbatas dan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan air untuk lahan persawahan yang cukup luas.
Selain itu, akses menuju lokasi persawahan juga menjadi kendala tersendiri. Jalan menuju areal sawah dinilai sulit dilalui kendaraan besar, termasuk mobil tangki pengangkut air.
"Kalau menggunakan mobil tangki tentu tidak efektif karena kebutuhan air untuk sawah sangat banyak. Ditambah akses jalannya cukup sulit dilalui kendaraan. Karena itu solusi terbaik saat ini adalah memanfaatkan sumber air sungai dengan sistem pompa," jelasnya.
BPBD bersama Dinas Pertanian dan penyuluh pertanian berencana berkoordinasi lebih lanjut dengan kelompok tani setempat untuk menentukan langkah teknis yang dapat segera diterapkan guna menyelamatkan tanaman padi yang terancam kekeringan.
Pemerintah daerah berharap upaya tersebut dapat membantu petani mempertahankan produksi padi dan mencegah kerugian yang lebih besar akibat musim kemarau yang masih berlangsung di wilayah Kabupaten Pasangkayu.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan