TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Langkah kaki sejumlah pegawai beserta pasangannya menyusuri hamparan perkebunan kopi di Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Kamis (30/7/2026).
Mereka adalah pegawai BUMN PLN yang hampir memasuki masa purnatugas.
Tangan mereka sesekali menggapai ranting, memperhatikan buah kopi yang berwarna merah.
Baca juga: Havied Tumbuhkan Tren Meracik Kopi Kekinian di Pinggir Jalan, Sajian Cafe Latte Diminati Pelanggan
Dengan telaten, mereka belajar membedakan buah yang sudah matang dan siap dipetik dengan yang masih hijau dan harus dibiarkan tumbuh.
Tak hanya diajak menyusuri kebun, para peserta juga belajar proses pengolahan kopi dari hulu hingga hilir.
Mulai dari memilih buah kopi terbaik, menyangrai atau roasting, menggiling, hingga menyeduhnya menjadi secangkir kopi yang siap dinikmati.
Seorang peserta asal Depok, Edi Pramujito, mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari program persiapan pensiun.
Menurutnya, para pegawai didorong memiliki bekal usaha sebelum memasuki masa purnabakti.
"Rombongan kami ada 32 orang, semuanya datang bersama pasangan. Perusahaan memberi kesempatan agar menjelang purnabakti kami sudah memiliki gambaran usaha yang bisa dijalankan. Salah satunya bisnis kedai kopi," ujarnya.
Sebelum terjun ke lapangan, mereka mendapat pembekalan teori sebelum akhirnya praktik langsung di kebun kopi Desa Genting.
Pada hari ketiga, mereka belajar meracik espresso.
Di hari terakhir pelatihan, peserta dikenalkan dengan teknik penyeduhan kopi secara tradisional di Kopi Gayeng.
Pengalaman itu memberi wawasan baru, termasuk mengetahui bahwa kopi tidak hanya bisa disajikan sebagai minuman, tetapi juga bisa menjadi camilan.
Edi menilai, usaha kopi memiliki prospek yang cerah.
"Bisnis kopi sudah berlangsung ratusan tahun dan sampai sekarang tetap bertahan. Menurut saya, ke depan masih sangat menjanjikan. Karena itu kami tertarik belajar lebih dalam," katanya.
Baginya, secangkir kopi bukan sekadar minuman.
Ada makna yang lebih dalam di balik kebiasaan masyarakat menikmati kopi.
"Motto saya, kenapa orang suka kopi? Karena orang membutuhkan inspirasi," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur Dusun Tompal Desa Genting, Antep Rosit, mengatakan, pelatihan dirancang agar para peserta memahami bisnis kopi secara utuh, mulai dari budidaya hingga penyajian.
Dengan begitu, mereka memiliki bekal jika ingin merintis usaha setelah memasuki masa purnatugas.
Menurutnya, peserta tidak hanya diajarkan cara menyeduh kopi, tetapi juga dikenalkan pada karakter cita rasa setiap jenis kopi.
Mereka belajar bahwa setiap varietas memiliki keunikan yang dipengaruhi proses budidaya, pengolahan, hingga teknik penyangraian.
"Kami memperkenalkan kopi arabika dan robusta, termasuk karakteristik masing-masing. Mereka juga belajar bagaimana menentukan tingkat roasting yang sesuai agar cita rasa kopi bisa keluar dengan maksimal," ujarnya.
Selain kualitas produk, Antep juga menekankan pentingnya membangun jejaring dan menjaga konsistensi usaha.
Menurutnya, pelaku usaha kopi saat ini harus mampu mempertahankan mutu karena konsumen semakin memahami kualitas kopi yang mereka minum.
"Kami sampaikan kepada peserta bahwa yang paling penting adalah menjaga relasi dan menjaga kualitas. Penikmat kopi sekarang sudah modern. Mereka tahu mana kopi yang benar-benar berkualitas," katanya.
Ia juga memberikan masukan mengenai pentingnya kemasan produk.
Menurutnya, desain kemasan yang menarik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya saing di pasaran.
"Packaging juga sangat berpengaruh. Tadi kami beri saran agar desainnya mengikuti tren yang lebih baik sehingga lebih menarik di pasaran," jelasnya.
Antep menambahkan, tren kopi saat ini mulai bergeser. Jika beberapa tahun lalu kopi dengan berbagai varian rasa sempat diminati, kini semakin banyak penikmat kopi yang kembali mencari cita rasa asli biji kopi.
"Sekarang yang bisa bertahan adalah mereka yang konsisten menjaga kualitas. Saat ini penikmat kopi lebih memilih kopi original karena mereka ingin menikmati karakter rasa kopinya," katanya. (eyf)
Baca juga: Dirintis Sejak Zaman Kolonial, Kebun Kopi Tombo Kini Bidik Pasar Ekspor, Kualitas Jadi Perhatian