TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan pasukan Israel telah menghancurkan sistem terowongan yang digunakan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan.
Dalam pernyataan bersama pada Jumat pagi, Netanyahu dan Katz mengatakan terowongan yang berada di kawasan Beaufort tersebut merupakan bagian penting dari rencana Hizbullah untuk menyusup ke komunitas Israel di wilayah Galilea.
Israel menyebut sekitar 700 ton bahan peledak digunakan dalam operasi penghancuran terowongan tersebut.
Keduanya menggambarkan operasi itu sebagai bagian dari kampanye yang masih berlangsung untuk membongkar infrastruktur Hizbullah di Lebanon selatan.
Menurut pernyataan tersebut, operasi dilakukan setelah apa yang disebut Israel sebagai sebuah pelanggaran terang-terangan, Hizbullah terhadap perjanjian gencatan senjata di Lebanon.
Sebelumnya, media Lebanon melaporkan serangkaian ledakan ketika pasukan Israel meledakkan bahan peledak di Kota Hadatha, pinggiran Deir Mimas dekat Kastil Beaufort, serta wilayah antara Arnoun dan Yahmar, mengutip Anadolu Agency, Jumat (31/7/2026).
Baca juga: Mojtaba Khamenei Kembali Nyatakan Dukungan kepada Hizbullah, Desak Israel Stop Serang Lebanon
Operasi tersebut berlangsung meskipun Lebanon dan Israel telah menandatangani kesepakatan yang disebut sebagai rumus kerja kerangka kerja yang disponsori Amerika Serikat pada 26 Juni.
Kesepakatan itu menetapkan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari seluruh wilayah Lebanon yang diduduki.
Sebagai bagian dari ketentuan tersebut, tentara Lebanon akan dikerahkan bersamaan dengan proses perlucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata, yang secara jelas merujuk kepada Hizbullah.
Pada 21 Juli, tentara Lebanon mulai dikerahkan di Kota Zawtar al-Gharbiyeh sebagai bagian dari tahap pertama pelaksanaan kesepakatan setelah penarikan pasukan Israel.
Zawtar al-Gharbiyeh merupakan salah satu wilayah yang ditetapkan sebagai area percontohan dalam tahap awal implementasi kesepakatan.
Namun, meski kesepakatan telah ditandatangani, Israel masih mempertahankan pendudukan di sejumlah wilayah Lebanon selatan.
Sebagian wilayah tersebut telah diduduki selama beberapa dekade, sementara lainnya diduduki sejak perang 2023-2024.
Dalam operasi terbarunya, pasukan Israel juga disebut telah maju lebih dari 10 kilometer atau sekitar 6,2 mil ke dalam wilayah Lebanon.
Ketegangan di Lebanon selatan terus berlangsung di tengah upaya penerapan kesepakatan penghentian konflik.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak 2 Maret, serangan Israel terhadap Lebanon telah menewaskan 4.333 orang dan melukai 12.236 lainnya.
Operasi penghancuran terowongan di Beaufort menambah ketegangan baru dalam situasi yang masih diwarnai keberadaan pasukan Israel di sejumlah wilayah Lebanon selatan, meskipun mekanisme penarikan pasukan dan pengerahan tentara Lebanon telah disepakati.
(*)