Laporan Jafaruddin Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Pemilihan bagian pangkal akar atau banir (banie) pohon tualang sebagai bahan pembuatan baloh Rapai Pase ternyata bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Aceh.
Karena, secara karakteristik, bagian banir memiliki struktur serat yang saling mengunci dan lebih kompak dibandingkan bagian batang.
Karakter tersebut membuat banir dinilai lebih sesuai untuk diolah menjadi baloh Rapai Pase yang kuat dan berkualitas, sekaligus mendukung pembentukan resonansi suara yang nyaring dan bergemuruh.
Hal tersebut disampaikan Praktisi Kehutanan dan Pegiat Lingkungan Aceh, Zainal Bakri, kepada Serambinews.com, Jumat (31/7/2026), ketika menjelaskan karakteristik pohon tualang yang sejak lama dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan utama pembuatan Rapai Pase.
Menurut Zainal, tualang yang dikenal masyarakat Aceh memiliki jenis yang secara ilmiah antara lain masuk dalam kelompok Kompassia malaccensis dan Koompassia excelsa.
Kayu ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan jenis kayu keras seperti merbau.
Baca juga: VIDEO - Gemuruh Duel 50 Rapai Pase di Syamtalira Aron Aceh Utara
Perbedaan tersebut justru menjadi salah satu alasan tualang cocok digunakan sebagai bahan instrumen yang membutuhkan kemampuan menghasilkan resonansi.
“Kalau untuk tabung resonansi seperti speaker, gitar, tifa, tambur, termasuk rapai dan gendang, sebenarnya tidak ideal kayu yang terlalu keras dan kuat seperti merbau.
Makanya resonansi pada gendang itu lebih nyaring,” kata Zainal yang juga pendiri Pendiri LSM Kelompok Anak Negeri Cinta Lingkungan (KANCIL) pada tahun 2001.
Menurut Zainal, bagian pohon tualang yang menarik untuk pembuatan Rapai Pase adalah banir (banie-aceh), yaitu bagian pangkal batang yang melebar dan terhubung dengan sistem perakaran pohon.
Banir secara alami terbentuk untuk membantu menopang pohon tualang yang dapat tumbuh tinggi.
Pada pohon besar, bagian tersebut dapat melebar sehingga menyediakan bidang kayu yang cukup untuk dijadikan bahan baloh rapai.
Baca juga: Duel Akbar 50 Rapai Pase Gerakkan Ekonomi Warga, Rumoh Rapai Pase Tuai Apresiasi
Dibandingkan mengambil bagian batang utama, menurut Zainal, pemanfaatan banir mempunyai sejumlah keunggulan.
Batang pohon memiliki lingkar tahun dan bagian tengah atau hati kayu. Kondisi tersebut membuat pemilihan bahan dan proses pengerjaannya menjadi lebih rumit.
Jika pemotongan dan pengolahannya tidak tepat, struktur serat pada batang juga berpotensi memengaruhi ketahanan kayu.
Sebaliknya, struktur banir dinilai lebih kompak dan memudahkan perajin memilih bagian kayu yang akan dibentuk menjadi baloh.
“Kalau banir itu lebih kompak. Kemudian pengerjaannya juga lebih gampang. Ketebalannya tidak terlalu susah mereka mengikis,” ujarnya.
Penjelasan tersebut sejalan dengan pengetahuan yang selama ini diwariskan di kalangan syekh dan perajin Rapai Pase.
Baca juga: Tabuhan Rapai Pase Bergemuruh hingga Dini Hari di Aceh Utara, Ikut Diperkuat Tim Aceh Timur
Dalam tradisi pembuatan Rapai Pase, bahan baloh tidak serta-merta diambil dari sembarang bagian pohon tualang.
Bagian banir justru menjadi bagian yang dicari untuk mendapatkan bahan dengan karakteristik yang dianggap terbaik.
Namun, penggunaan tualang saja belum tentu menghasilkan Rapai Pase dengan karakter suara yang sama.
Zainal menyebut usia kayu turut berpengaruh terhadap kualitas resonansi yang dihasilkan.
Kayu tualang yang sudah tua mempunyai karakter berbeda dibandingkan kayu yang masih muda.
Antara lain berkaitan dengan tingkat kematangan kayu dan kandungan ligninnya (zat organik alami berfungsi sebagai perekat).
Baca juga: Dari Rapai Karya Gen Z hingga Warisan Leluhur Abad 18 Siap Gentarkan Malam Duel Akbar 50 Rapai Pase
“Kalau kayu muda dan cepat tumbuh, biasanya resonansinya lebih redam, tidak sehebat atau tidak senyaring kayu yang tua,” katanya.
Menurutnya, semakin tua kayu, struktur kayu secara alami juga mengalami perubahan. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membuat resonansi baloh dari tualang tua lebih baik.
“Saya lebih cenderung ke ketuaan kayunya, sehingga bisa menghasilkan resonansi yang lebih bagus dibandingkan dengan tualang yang muda,” ujarnya.
Penjelasan tersebut menjadi menarik dalam konteks Rapai Pase, karena sejumlah rapai pusaka berusia tua dikenal memiliki karakter suara yang kuat dan sulit ditandingi oleh rapai yang dibuat pada masa sekarang.
Dalam kelompok Rapai Pase, rapai tertentu bahkan memiliki posisi penting karena suara yang dihasilkan mampu menjadi penopang gemuruh ketika dimainkan bersama puluhan rapai lainnya dalam tradisi uroeh.
Karena itu, kualitas sebuah Rapai Pase tidak hanya ditentukan membran kulit yang digunakan, tetapi juga karakter baloh, usia bahan kayu, ketebalan, proses pengerjaan, hingga pengawetannya.
Zainal menilai pemilihan banir oleh pembuat Rapai Pase pada masa lalu menunjukkan adanya pengetahuan lokal mengenai karakter kayu, meskipun pengetahuan tersebut tidak dirumuskan menggunakan istilah ilmiah seperti sekarang.
Menurutnya, masyarakat terdahulu belajar melalui pengalaman panjang dan pengamatan terhadap alam.
“Kalau saya kira, itu kearifan lokal masa lalu. Hanya mereka jauh dari ilmu pengetahuan yang sudah dikaji oleh akademisi.
Cara mengkajinya dulu menggunakan pengalaman dan perasaan,” ujar pria Pendiri Lembaga Kolaborasi Rotan Ramah Lingkungan Aceh/LKRRL tahun 2013.
Pengetahuan tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, termasuk mengenai bagian pohon yang dipilih, cara mengambil bahan, proses membentuk baloh, hingga cara mengawetkannya.
Menariknya, pengambilan banir juga memungkinkan batang utama pohon tetap dipertahankan apabila dilakukan secara terbatas dan tepat.
Zainal menyebut banir merupakan perkembangan bagian akar menuju batang dan secara alami dapat berkembang kembali dalam jangka waktu panjang.
Praktik mengambil bagian tertentu tanpa langsung menebang seluruh pohon tersebut dinilainya menunjukkan bahwa masyarakat terdahulu telah memiliki cara tersendiri dalam memanfaatkan sumber daya hutan.
Kualitas baloh Rapai Pase juga tidak berhenti pada pemilihan banir.
Setelah dibentuk, baloh secara tradisional direndam dalam air berlumpur selama sekitar dua hingga tiga bulan sebelum dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.
Menurut Zainal, metode tersebut dapat dipahami sebagai bentuk pengawetan kayu secara alami.
“Perendaman itu pengawetan alami. Itu pengawetan warisan nenek moyang. Bukan hanya pada kayu, bambu dan rotan juga digunakan cara seperti itu,” katanya.
Proses perendaman membantu berlangsungnya proses pengawetan pada kayu sebelum baloh dikeringkan.
Setelah diangkat dari tempat perendaman, baloh Rapai Pase tidak langsung dijemur di bawah terik matahari, tetapi dibiarkan kering secara perlahan dengan cara diangin-anginkan selama beberapa pekan.
Untuk diketahui, penggunaan tualang sebagai bahan Rapai Pase masih terlihat kuat hingga sekarang. Dalam uroeh atau Duel Akbar 50 Rapai Pase yang berlangsung di Gampong Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, Sabtu (25/7/2026) malam, mayoritas rapai yang digantung pada seung atau arena uroeh dari kedua kelompok diketahui menggunakan baloh berbahan tualang.
Puluhan rapai dari dua kelompok tersebut digantung berjejer pada seung sebelum diturunkan satu per satu untuk dimainkan dalam uroeh yang berlangsung hingga dini hari.
Menariknya, jejak tualang bukan hanya ditemukan pada bahan pembuatannya. Nama “Tualang” juga melekat pada sejumlah Rapai Pase yang dimainkan dan dikenal di kalangan kelompok rapai.
Di antaranya Tualang Muda, Tualang Buket Asee Grah, Tualang Karu, Tualang Meu Pep-Pep, Tualang Tuha, Tualang Badei, Tualang 40, Tualang Kaca, Tualang Batei, dan Tualang Gong.
Penggunaan nama tersebut memperlihatkan kuatnya hubungan antara pohon tualang dengan tradisi Rapai Pase yang berkembang di Aceh Utara.
Hubungan tualang dengan Rapai Pase juga dapat ditelusuri pada sejumlah rapai tua yang telah diwariskan lintas generasi.
Berdasarkan wawancara Serambi dengan sejumlah syekh rapai dan ketua kelompok Rapai Pase di Aceh Utara, sejumlah rapai tua yang diperkirakan merupakan peninggalan abad ke-18 dan ke-19 serta dikenal memiliki nama besar juga disebut dibuat dari banie tualang.
Di antaranya Sibrok, Si Parot, Boh Beureutoh, Bom Atom, serta sejumlah Rapai Pase tua lainnya.
Rapai-rapai tersebut dikenal bukan semata karena usia dan sejarahnya, tetapi juga karakter suara yang kuat ketika dimainkan dalam uroeh.
Sebagian bahkan menjadi rapai andalan dalam kelompok karena bunyinya mampu menonjol dan ikut membangun gemuruh ketika puluhan rapai dimainkan secara bersamaan.
Fakta lapangan tersebut memperkuat posisi tualang dalam perjalanan panjang Rapai Pase, mulai dari rapai pusaka yang diwariskan beberapa generasi hingga instrumen yang masih dimainkan dalam uroeh sekarang. (*)