TRIBUNSTYLE.COM - Peta konflik di kawasan Timur Tengah mendadak membara. Amerika Serikat (AS) secara resmi melancarkan gempuran militer skala besar yang menyasar langsung wilayah kedaulatan Iran pada Kamis (30/7/2026). Langkah drastis ini diambil Washington sebagai bentuk aksi balasan atas rentetan gempuran Iran terhadap pangkalan dan fasilitas militer miliknya di Timur Tengah, termasuk yang berlokasi di Yordania.
Ketegangan sebenarnya sudah memuncak tepat sebelum aksi pembalasan ini diluncurkan. Pihak Komando Pusat AS (CENTCOM) sempat membeberkan bahwa Iran berencana melancarkan 'serangan kejutan' yang membidik fasilitas militer AS di Yordania. Beruntung, manuver covert tersebut berhasil digagalkan secara total oleh militer Amerika.
Insiden itu memicu kemarahan mendalam di Gedung Putih. Presiden AS, Donald Trump, bereaksi keras dan melontarkan gertakan mematikan bahwa Iran akan menanggung pembalasan yang amat menghancurkan.
Tak butuh waktu lama bagi Trump untuk membuktikan gertakannya. CENTCOM mengonfirmasi pada hari Kamis bahwa gelombang serangan balik beruntun telah tuntas dieksekusi dengan sukses. Gempuran udara ini menyasar titik-titik krusial di dalam negeri Iran sebagai jawaban atas serangan rudal yang sebelumnya diresmikan Teheran kepada pasukan AS.
Dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat AS mengatakan, "Kami menargetkan puluhan sasaran Korps Garda Revolusi Iran di dalam Iran, termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal, dan lokasi drone."
Lebih jauh lagi, pihak militer AS menjelaskan bahwa operasi masif ini bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan langkah strategis. CENTCOM juga menambahkan bahwa "tujuan serangan tersebut adalah untuk mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan proksinya terhadap pasukan AS, pelayaran komersial, dan negara-negara Teluk".
Baca juga: Aksi Balas Dendam IRGC! Pangkalan Udara Yordania Dihantam Rudal, 3 Jet Tempur F-35 AS Diklaim Hancur
Baca juga: Terekam Satelit, AS Diduga Mulai Kosongkan Dua Pangkalan Militer Utama di Qatar dan UEA
Sinyal perang terbuka kini berembus kian kencang. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan aksi tanggapan dari Teheran maupun kelompok proksinya, militer Amerika Serikat menyiagakan penuh pasukannya di seluruh kawasan.
Komando Pusat AS juga menekankan bahwa "lebih dari 50.000 tentara AS saat ini ditempatkan di Timur Tengah dan berada dalam keadaan siaga dan kesiapan tinggi."