PSIM Yogyakarta Kembali Berkandang di SSA Bantul, Van Gastel Singgung Dampak Korupsi Mandala Krida
Muhammad Fatoni July 31, 2026 11:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul Van Gastel, mengaku telah mengetahui persoalan korupsi yang menyeret proyek renovasi Stadion Mandala Krida. 

Menurutnya, kasus tersebut membuat Laskar Mataram menjadi pihak yang ikut dirugikan karena tidak bisa menggunakan stadion kebanggaannya sebagai kandang di Super League.

Akibat belum bisa dipakainya Stadion Mandala Krida, PSIM Yogyakarta kembali harus bermarkas di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul. 

Musim ini menjadi tahun kedua secara beruntun Laskar Mataram menggunakan markas Persiba Bantul sebagai kandang untuk menjamu lawan.

Van Gastel menilai dampak terbesar dari kondisi tersebut justru dirasakan para pendukung PSIM Yogyakarta yang harus menyaksikan tim kesayangannya bermain jauh dari rumah sendiri.

“Ya, saya mendengar tentang korupsi tersebut. Itu adalah hal yang buruk dan kami bisa dibilang menjadi korbannya,” kata Van Gastel, Jumat (31/7/2026).

Pelatih asal Belanda itu mengatakan, setiap tim tentu ingin bermain di stadion sendiri. Namun, situasi yang terjadi membuat PSIM harus Yogyakarta kembali beradaptasi di Bantul.

“Namun terutama para pendukung kami yang menjadi korban, karena itu adalah rumah mereka, atau rumah kami. Semua orang tentu ingin berada di rumahnya sendiri. Jadi, bisa dibilang kami adalah korban dari korupsi,” ujarnya.

Meski demikian, Van Gastel memastikan timnya tetap akan berusaha memberikan penampilan terbaik di Stadion Sultan Agung. 

Ia berharap suatu saat PSIM Yogyakarta bisa kembali bermain di Stadion Mandala Krida, yang menjadi rumah bagi Laskar Mataram dan para suporternya.

Baca juga: Pelatih PSIM Yogyakarta Dukung League Cup, Soroti Padatnya Kalender Kompetisi

Perbaikan Stadion 

Sebelumnya, Manajemen PSIM Yogyakarta juga melakukan sejumlah perbaikan guna mempercepat pembenahan Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, sebagai markas tim menghadapi Super League 2026/2027.

Selain perawatan lapangan, peningkatan kualitas pencahayaan menjadi salah satu fokus utama agar stadion memenuhi standar operator kompetisi.

Manajer Operasional PSIM Yogyakarta, Wendy Umar Senoaji, mengatakan Stadion Sultan Agung juga telah di inspeksi oleh I.League atau operator liga dan hasilnya menunjukkan masih ada sejumlah catatan yang harus dipenuhi. 

Salah satunya adalah tingkat pencahayaan stadion yang belum mencapai standar regulasi.

“Terus ada penambahan lagi lux untuk lampunya, juga akan ditambahkan lagi. Karena hasil kemarin kita memang masih belum sesuai dengan standar yang ada di regulasi liga. Lampunya harus 1.600 lux,” kata Wendy, Selasa (21/7/2026).

Untuk memenuhi standar tersebut, PSIM Yogyakarta harus mendatangkan lampu khusus dari luar negeri. Wendy mengungkapkan lampu yang digunakan Stadion Sultan Agung tergolong langka dan tidak tersedia di Indonesia.

“Ini sudah sampai di Indonesia lampunya, karena memang lampu SSA ini tergolong langka. Di Indonesia tidak ada. Kita datangkan dari Polandia. Hari ini sudah sampai di Indonesia dan sebentar lagi sampai di Bantul untuk bisa kita rangkai lagi,” ujarnya.

Selain penambahan lampu, proyek pemasangan lampu LED di stadion juga tengah berlangsung.

Setelah pekerjaan tersebut selesai, pembenahan akan dilanjutkan dengan perawatan lapangan utama.

“Project LED sudah proses pasang. Mudah-mudahan bulan ini sudah selesai semuanya. Dilanjutkan dengan project maintenance field of play di venue,” ucap Wendy. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.