POS-KUPANG.COM, KUPANG - DUA hari belakangan, media sosial dihebohkan curhatan hati seorang mahasiswa yang menangis histeris hingga lemas. Dia diketahui bernama Jessica Sofia Tunardjo, mahasiswa semester 10 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana).
Jessica diduga mengalami tekanan psikologis yang berat setelah ujian skripsinya diduga dibatalkan hingga 12 kali. Seorang oknum dosen yang menjadi pembimbingnya ikut berperan dalam kasus ini. Hingga kini informasi tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak universitas.
Mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan di kampus sering disebut civitas akademika. Ketiganya memiliki hubungan timbal balik yang saling membutuhkan. Tak ada dosen, tak ada mahasiswa. Begitu juga sebaliknya. Dosen dan mahasiswa didukung oleh tenaga kependidikan dalam menjalankan semua aktivitasnya.
Mahasiswa sebagai peserta didik, wajib menghormati dosen dan tenaga kependidikan. Semua ilmu yang diajarkan dosen, wajib diserap untuk menambah ilmunya. Begitu juga sebaliknya. Dosen sebagai pengajar, adalah orangtua yang mesti memberikan teladan dan ilmu yang berguna bagi masa depan sang mahasiswa.
Artinya, mahasiswa tidak boleh membuat susah dosen, begitu pula sebaliknya, dosen tidak boleh menolak mahasiswa yang ingin berkonsultasi tentang ilmu, apalagi terkait skripsi yang menjadi tugas akhir seorang mahasiswa. Apalagi tugas utama dosen selain mengajar juga menjadi pembimbing bagi mahasiswa.
Kasus Jessica sebenarnya adalah salah satu dari banyak kasus yang terjadi antara dosen dan mahasiswa. Entah apa ‘enaknya’ masih saja ada oknum dosen yang ‘sering mempersulit’ para mahasiswa, terutama di tugas akhir. Dan, ini sudah menjadi rahasia umum yang sudah lama terjadi.
Jessica, belum tentu akan langsung mendapatkan kerja begitu wisuda. Namun, Jessica hanya ingin tamat, sesuai cita-citanya, ingin menjadi sarjana kesehatan masyarakat. Entah apa masalanya, menolak 12 kali skripsi Jessica, tentu ada alasannya.
Namun kalau sampai 12 kali, di mana fungsi sang dosen sebagai pembimbing? Apakah dia serius membimbing sang mahasiswa? Ataukah mungkin terjadi cekcok atau kesalahpahaman antara keduanya sehingga terjadi demikian?
Ada banyak pertanyaan yang muncul. Netizen memberikan banyak komentar. Ada yang bahkan mengatakan, kalau oknum dosen tersebut mungkin sedang meminta semacam imbalan jasa yang harus diberikan oleh Jessica. Ada juga yang mempertanyakan kapasitas oknum dosen tersebut.
Dalam kondisi ini, Undana sebagai kampus negeri terbaik di Provinsi NTT harus ambil sikap. Program Undana berdampak ke masyarakat, harus dimulai dari dalam kampus. Benahi kasus seperti ini. Sikap pimpinan Undana dengan langsung menyelidiki persoalan ini patut diapresiasi.
Masyarakat pasti menunggu hasil akhir dari penyelidikan ini. Siapa yang salah dan benar, bukan persoalan. Yang diinginkan adalah menyelesaikan persoalan dengan menekankan prinsip mahasiswa tidak dirugikan.
Sebagai mahasiswa, Jesicca dan yang lainnya ingin diwisuda. Artinya, ketika mereka ‘diperhambat’ seperti ini, harus ada penjelasan yang transparan. Sang oknum dosen harus bicara. Kalau sudah terbuka seperti ini, harus ada penjelasan yang masuk akal.
Undana Berdampak adalah arah kebijakan dan semangat baru Universitas Nusa Cendana yang mengubah kampus agar tidak berada di menara gading, melainkan hadir nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat dan mendukung pembangunan daerah. Semoga tidak ada Jessica lain yang terkena kasus seperti ini. (*)