Korban Keracunan MBG di Pakisrejo Tulungagung 103 Orang, Ada Ibu Menyusui Mendapat Perawatan Medis
Eko Darmoko July 31, 2026 03:35 PM

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung mengungkapkan, korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo mencapai 103 orang.

Jumlah ini melebihi data berkembang dari sebelumnya sebanyak 66 korban.

Dari pemeriksaan Dinkes, SPPG ini sudah beroperasi sejak 2025, namun belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Kami juga terlambat mendapat kabar kejadian ini."

"Tapi kami masih mendapatkan sampel makanan,” jelas Aris kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (31/7/2026).

Lanjutnya, keracunan ini diduga disebabkan oleh menu yang dibuat pada Hari Senin (27/7/2026).

Sejumlah penerima manfaat mulai merasakan gejala pada Senin malam, hingga Selasa (28/7/2026) sore.

Sementara Dinkes baru mendapatkan kabar kejadian itu pada Rabu (29/7/2026) sore.

Baca juga: Punya Penyakit Jantung, Wanita Meninggal Setelah Masuk Wahana Rumah Hantu di Tulungagung

Dinkes hanya menerima sampel dari menu makanan harian yang disimpan dalam lemari pendingin.

“Sesuai ketentuannya, menu setiap haru wajib ada yang disimpan di lemari pengawet."

"Tujuannya jika ada keracunan seperti ini ada sampel yang bisa diuji di laboratorium,” sambung Aris.

Dari keterangan kader Posyandu di desa itu, diduga menu daging sapi oseng-oseng kecap yang menjadi sumber keracunan.

Olahan daging sapi ini ketika agak siang bentuknya berubah jadi agak mengembang dan agak berlendir.

Kader Posyandu yang paham kondisi ini sebenarnya sudah melarang makanan ini dimakan, namun terlanjur banyak yang sudah beredar di antara penerima manfaat.

“Hari Rabu malam sampel olahan daging sapi langsung kami kirim ke laboratorium di Surabaya."

"Lainnya kami uji di laboratorium kita, seperti oseng tempe dan kacang panjang, nasi putih, dan selada air,” ungkap Aris.

Hasil surveilans menemukan 113 penerima manfaat, 103 di antaranya bergejala.

Dari jumlah itu, 16 masih usia balita, 5 ibu menyusui, 7 siswa SD dan 6 guru.

Salah satu dari 5 ibu menyusui itu membutuhkan perawatan di Puskesmas.

Sementara dari pihak SPPG diketahui, dapur yang mengolah MBG ini belum mengantongi SLHS.

“Karena belum punya SLHS, pasti juga belum punya SOP."

"Kami dapat kepastian dari pihak BGN (Badan Gizi Nasional), SPPG ini sudah berhenti beroperasi di Hari Kamis,” papar Aris.

Pihak SPPG sempat berinisiatif memberikan obat diare kepada penerima manfaat yang mengalami gejala diare.

Mereka mengedarkan minuman Hydrococo dan obat Diapet atau Entrostop.

Meski inisiatif ini baik, namun prosedur kejadian keracunan seharusnya secepatnya dilaporkan.

“SOP dari BGN sudah kelas, kalau ada keracunan segera laporkan. Ini kami mendapat informasi sudah di hari ke-3,” keluh Aris.

Pihak SPPG Pakisrejo belum memberikan penjelasan terkait kejadian ini.

Upaya konfirmasi melalui saluran Whatsapp di media sosial SPPG ini juga belum direspons.

Baca juga: Keracunan MBG di SDN Kauman 1 Kota Malang, Pemkot Temukan Bakteri E.coli Melebihi Batas Ketentuan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.