Tips Agar Hewan Ternak Gemuk, Mahasiswa UMM Hadirkan Pakan Herbal Berbahan Kelor dan Temulawak
Eko Darmoko July 31, 2026 04:00 PM

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Keluhan ternak kambing dan domba yang tetap kurus meski telah diberi pakan dalam jumlah cukup, menjadi persoalan yang kerap dihadapi peternak.

Kondisi itu pun terkadang membuat para peternak kebingungan ketika menemukan ternaknya dalam kondisi seperti itu.

Berangkat dari kondisi tersebut, delapan mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2024 menciptakan inovasi pakan herbal bernama Waboos (Wafer Imunobooster).

Dari informasi yang diterima SURYAMALANG.COM dari Humas UMM, produk tersebut tidak hanya difokuskan untuk menambah asupan nutrisi ternak, tetapi juga memperbaiki kesehatan sistem pencernaan agar penyerapan nutrisi berlangsung lebih optimal.

Ketua tim pengembang Waboos, Fajar Ferdiansyah, mengatakan banyak peternak masih beranggapan bahwa pemberian pakan berprotein tinggi dan berharga mahal sudah cukup untuk membuat ternak cepat gemuk.

Padahal, kondisi kesehatan saluran pencernaan hewan juga menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan pertumbuhan ternak.

Baca juga: Dosen UMM Beberkan Waktu Ideal Jogging dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

"Masyarakat umumnya hanya mengandalkan pakan mahal agar ternak cepat gemuk, namun mereka lupa bahwa tanpa sistem pencernaan yang sehat, penyerapan nutrisi tidak akan pernah maksimal," kata Fajar kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (31/7/2026).

Menurutnya, rendahnya perhatian terhadap kesehatan organ pencernaan sering menjadi penyebab ternak tidak mampu menyerap nutrisi secara optimal meskipun pakan yang diberikan sudah berkualitas.

Sesuai namanya, Waboos dibuat dalam bentuk padat menyerupai wafer sehingga mudah disimpan dan diberikan kepada ternak.

Produk ini memanfaatkan berbagai bahan lokal, seperti bungkil kopra, jagung giling, dedak padi, pollard, tetes tebu, tepung gaplek, dan bekatul.

Yang menjadi pembeda adalah penambahan bahan herbal berupa tepung daun kelor dan temulawak.

Daun kelor dipilih karena kaya protein, vitamin, dan antioksidan yang berfungsi membantu meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga keseimbangan mikroba usus.

Sementara temulawak berperan mendukung kesehatan saluran pencernaan ternak.

Menariknya, inovasi tersebut telah diuji coba langsung pada peternakan di kawasan Bumiaji, Kota Batu, dan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Hasil awal menunjukkan respons positif dari para peternak.

Fajar mengungkapkan para peternak melaporkan adanya peningkatan nafsu makan pada kambing dan domba setelah mengonsumsi Waboos.

Dampak tersebut turut diikuti pertumbuhan ternak yang dinilai lebih baik dibanding sebelumnya.

"Selama uji coba di peternakan, para peternak mengaku adanya peningkatan nafsu makan serta pertumbuhan kambing dan domba setelah mengonsumsi Waboos," ujarnya.

Baca juga: Nihil Kasus Antraks, DPKH Kabupaten Malang Imbau Peternak Tetap Waspada dan Jaga Kesehatan Ternak

Saat ini, Waboos telah dipasarkan secara lokal dalam kemasan 500 gram dengan harga Rp 5.000.

Harga yang relatif terjangkau itu diharapkan dapat memudahkan peternak skala kecil untuk mengakses produk tersebut.

Inovasi ini merupakan luaran dari mata kuliah Pakan dan Teknologi Pakan di UMM.

Selain menjadi sarana pembelajaran, pengembangan Waboos menunjukkan bagaimana riset mahasiswa dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya sektor peternakan.

Ke depan, tim mahasiswa berencana melakukan pengujian laboratorium lanjutan sekaligus mengajukan hak paten agar produk tersebut dapat dikembangkan lebih luas dan dimanfaatkan oleh industri peternakan.

Sementara itu, dosen pembimbing sekaligus pakar peternakan UMM, Prof Dr Ir Indah Prihartini MP IPU, mendorong mahasiswa untuk terus menghadirkan inovasi yang mampu menyelesaikan persoalan di masyarakat.

"Jangan pernah takut gagal dalam berinovasi menciptakan karya nyata, karena seorang nakhoda kapal yang tangguh tidak akan pernah tercipta dari ombak lautan yang selalu tenang," pesannya.

Di sisi lain, kasus ternak yang kesulitan gemuk meskipun telah mendapat asupan pakan yang cukup memang kerap menghantui para peternak kambing.

Meskipun kondisi tersebut jarang ditemui, namun umumnya ada saja ternaknya yang mengalami kasus tersebut.

Seperti yang dialami oleh Lucky Aditya, pemilik peternakan kambing This Is Farm yang berlokasi di daerah Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur.

Selama empat tahun berkecimpung di dunia ternak kambing, ia baru sekali menjumpai ternaknya yang susah gemuk.

"Saya pernah menjumpai kambing saya yang sulit gemuk. Padahal pakan yang diberikan sama, porsinya sama dengan kambing lainnya, tapi hanya satu kambing ini saja yang susah gemuk," ungkapnya.

Setiap harinya, Lucky memberi pakan berupa rumput hijau dengan berbagai macam jenis tanaman, seperti Kaliandra, Indigofera dan beragam jenis tanaman lainnya yang memiliki kandungan nutrisi bagus bagi kambing.

Termasuk menambahkan combor, yang terbuat dari ampas kedele yang dicampur dengan konsentrat.

"Sebenarnya secara genetik kambing saya ini bagus. Dari peranakan kambing ternama di Tulungagung, Jawa Timur."

"Tapi, setiap malam setelah saya kasih makan itu keesokan paginya perutnya cepet kempes."

"Beda dengan kambing lainnya yang masih gemuk dan terlihat masih ada sisa makanan di perutnya," ujarnya.

Sembari mencari informasi terhadap sesama peternak, biasanya kambing yang kesulitan gemuk tersebut mengalami masalah pada pencernaannya.

Atau dalam bahasa sesama peternak biasanya disebut cacingan.

Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya peternak rutin memberikan obat cacing kepada kambing setiap dua sampai tiga bulan sekali.

Namun khusus untuk kambing miliknya yang sulit untuk gemuk tersebut diberikan obat cacing setiap sebulan sekali.

"Kalau dari peternak, kalau susah gemuk itu biasanya disebut cacingan."

"Nah caranya selain memberikan nutrisi ya diberi obat cacing. Dengan begitu, kambing akan kembali sehat dan pencernaannya bisa kembali normal," tandasnya.

Baca juga: Ayam Varietas Baru Jago Ternak Malang, Lebih Produktif daripada Ayam Kampung Biasa

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.