Fraksi Demokrat Ungkap Tiga Masalah Pertanian di Sikka, Minta Jadi Prioritas Pemerintah
Nofri Fuka July 31, 2026 05:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Sikka meminta Pemerintah Kabupaten Sikka memberikan perhatian serius terhadap tiga persoalan pertanian yang masih dihadapi masyarakat, yakni penyakit darah pisang, pengembangan kakao, dan produksi jagung.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Fraksi Demokrat, Yunus Noce Fernandez, dalam Rapat Paripurna V Masa Sidang II dengan agenda Pemandangan Umum Fraksi terhadap Pidato Pengantar Bupati Sikka tentang Rancangan KUA PPAS Tahun 2027 di Gedung DPRD Kabupaten Sikka, Jumat (31/7/2026).

Menurut Fraksi Demokrat, ketiga sektor tersebut memiliki peran penting bagi ekonomi masyarakat sehingga membutuhkan kebijakan pemerintah yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Persoalan pertama yang disoroti adalah penyakit darah pisang. Fraksi Demokrat menilai ancaman penyakit tersebut harus ditangani secara serius karena berdampak terhadap produktivitas petani.

 

Baca juga: PDI Perjuangan Sikka Kritik Pidato Bupati JPYK, Dorong Pembangunan yang Langsung Dirasakan Rakyat

 

 

Pada 2025, sekitar 366,52 hektare lahan pisang dilaporkan terserang penyakit darah pisang, sementara upaya pengendalian baru mencakup sekitar 103,25 hektare.

"Fraksi meminta Pemerintah Daerah memiliki target pengendalian yang jelas, peta sebaran penyakit, ketersediaan bibit sehat, tenaga POPT yang memadai, serta sistem deteksi dini yang terintegrasi," ujar Yunus.

Selain pisang, Fraksi Demokrat juga menyoroti pengembangan komoditas kakao. Program sambung pucuk kakao yang telah mencapai 2.750 hektare dinilai sebagai langkah positif, namun pemerintah diminta tidak berhenti pada pembagian bibit.

Menurut Yunus, perlu dibangun rantai nilai kakao agar manfaat ekonomi dari komoditas tersebut lebih banyak dirasakan masyarakat Sikka.

Sementara itu, sektor jagung juga menjadi perhatian Fraksi Demokrat. Produksi jagung sekitar 20.193 ton dari lahan seluas 9.947 hektare menunjukkan potensi besar yang perlu dikembangkan.

Pemerintah, kata Yunus, perlu membangun ekosistem pascapanen, mulai dari gudang penyimpanan, fasilitas pengeringan (dryer), kepastian pasar, hingga peluang pengembangan industri pakan ternak dan pengolahan jagung.

"Petani jangan hanya menjadi produsen bahan mentah. Petani harus menjadi bagian dari rantai ekonomi yang menghasilkan nilai tambah," tegasnya.

Sidang tersebut dipimpin Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi dan dihadiri Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi. (moa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.