TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang mengkhawatirkan setelah sejumlah negara Teluk mendorong China turun tangan menghadapi Iran.
Beijing diharapkan menggunakan pengaruh ekonomi dan hubungan dagangnya dengan Teheran untuk membantu meredakan konflik yang terus memanas.
Desakan tersebut muncul karena perang berisiko meluas hingga mengancam jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga dapat mengguncang pasar energi global.
Ancaman serupa juga membayangi Bab al-Mandeb yang menjadi jalur penting bagi kapal-kapal pengangkut energi dan berbagai komoditas internasional.
Karena itu, negara-negara Teluk melihat China sebagai salah satu kekuatan yang memiliki kepentingan sekaligus pengaruh besar terhadap Iran.
China merupakan pembeli utama minyak dari kawasan Teluk dan memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Teheran.
Posisi tersebut membuat Beijing dinilai memiliki ruang diplomatik lebih besar untuk mendorong Iran menahan diri dan membuka kembali jalur perundingan.
Dosen Ilmu Hubungan Internasional UMY, Ahmad Sahide, menilai keterlibatan China dan Rusia sebagai mediator dapat membuat kesepakatan perdamaian lebih kuat.
Pengalaman China dalam mempertemukan Arab Saudi dan Iran pada 2023 juga menjadi modal penting bagi Beijing untuk kembali memainkan peran diplomatik.
Kini, perhatian dunia tertuju pada langkah China berikutnya, terutama jika eskalasi konflik mulai mengancam Selat Hormuz dan pasokan energi global.
Baca juga: Iran Serang Pangkalan Militer AS di Yordania, Trump Murka Ancam Hajar Teheran Habis-habisan
Seperti diketahui, sejumlah negara di kawasan Teluk Arab dilaporkan mendorong China untuk memanfaatkan pengaruh ekonominya terhadap Iran guna membantu meredakan konflik yang kembali memanas di Timur Tengah.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa perang yang melibatkan Iran akan mengganggu stabilitas kawasan sekaligus mengancam kelancaran ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk.
Kekhawatiran itu tidak terlepas dari pentingnya Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb sebagai dua jalur pelayaran utama dunia. Kedua kawasan tersebut menjadi rute vital bagi pengiriman minyak mentah, gas alam cair (LNG), serta berbagai komoditas internasional.
Oleh karena itu gangguan terhadap jalur ini dikhawatirkan dapat menghambat perdagangan global sekaligus memicu lonjakan harga energi di pasar internasional.
Mengantisipasi ancaman krisis yang makin parah, negara-negara Teluk mulai mendesak Beijing agar memainkan peran diplomatik yang lebih besar dibandingkan Amerika Serikat (AS).
Harapan tersebut didasarkan pada posisi China sebagai pembeli terbesar minyak dari kawasan Teluk sekaligus mitra dagang utama Iran.
Hubungan ekonomi yang erat dengan kedua belah pihak dinilai memberi Beijing pengaruh yang cukup kuat untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi serta menekan eskalasi militer yang dapat memperburuk situasi keamanan kawasan.
Menanggapi perkembangan tersebut, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Sahide, menilai keterlibatan negara-negara besar menjadi faktor penting untuk membuka peluang penyelesaian konflik.
"Hanya tekanan dari domestik Amerika dan internasional yang bisa menghentikan Trump. Negara-negara besar juga perlu lebih banyak terlibat sebagai mediator, seperti China dan Rusia," ujar Ahmad Sahide saat dihubungi Tribunnews.
Menurut Ahmad, keterlibatan China dan Rusia sebagai mediator akan membuat kesepakatan perdamaian memiliki legitimasi yang lebih kuat sehingga tidak mudah diabaikan oleh Amerika Serikat.
"Ketika China dan Rusia ikut terlibat memediasi dan membuat kesepakatan dalam mengakhiri konflik, Trump tidak semudah itu mengingkari hasil kesepakatan karena China dan Rusia merupakan dua kekuatan yang mampu mengimbangi Amerika," jelasnya.
Ia juga membandingkan kondisi tersebut dengan upaya gencatan senjata sebelumnya yang dimediasi Pakistan. Menurutnya, Pakistan bukan merupakan aktor utama dalam percaturan politik global sehingga pengaruhnya terhadap implementasi kesepakatan relatif lebih terbatas.
"Berbeda dengan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan beberapa waktu lalu. Pakistan bukan negara sentral dalam politik global, sehingga hasil kesepakatan lebih mudah diabaikan dibanding jika dimediasi oleh kekuatan besar seperti China atau Rusia," katanya.
Di tengah meningkatnya harapan negara-negara Teluk, pemerintah China mulai mengintensifkan langkah diplomatiknya.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dilaporkan telah melakukan serangkaian komunikasi dengan para menteri luar negeri dari berbagai negara di Timur Tengah untuk membahas upaya meredakan konflik.
Selain itu, utusan khusus China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, juga mengunjungi sejumlah ibu kota negara Teluk dan Iran guna mendorong tercapainya gencatan senjata baru.
Kementerian Luar Negeri China menegaskan Beijing terus menjaga komunikasi dengan seluruh pihak yang terlibat dan berupaya menghentikan pertempuran melalui dialog. Pemerintah China juga menekankan bahwa stabilitas kawasan hanya dapat dicapai melalui penyelesaian politik, bukan melalui eskalasi militer.
Peran diplomatik China di Timur Tengah sebenarnya bukan hal baru. Pada 2023, Beijing berhasil memediasi normalisasi hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran setelah kedua negara bersaing selama bertahun-tahun.
Keberhasilan tersebut kini menjadi alasan utama mengapa banyak negara Teluk kembali berharap China mampu menggunakan pengaruhnya untuk meredakan konflik yang melibatkan Iran.
Selain itu, Beijing juga disebut mendorong Pakistan menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran guna membuka kembali jalur perundingan damai.
Di sisi lain, sejumlah laporan menyebut China pernah melakukan komunikasi langsung dengan kelompok Houthi di Yaman agar kapal-kapal yang berkaitan dengan kepentingan China dapat melintas di Laut Merah tanpa menjadi sasaran serangan. Namun hingga kini pemerintah China belum memberikan tanggapan resmi mengenai laporan tersebut.
Sejumlah analis menilai pendekatan diplomasi yang ditempuh Beijing memungkinkan China tetap menjaga kepentingan ekonomi dan hubungan dagangnya di Timur Tengah tanpa harus terlibat langsung dalam konflik bersenjata.
Meski demikian, apabila ketegangan terus meningkat dan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz maupun Bab al-Mandeb kembali terganggu.
Dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas pasokan energi serta perdagangan global yang sangat bergantung pada keamanan dua jalur laut tersebut.
(TribunNewsmaker.com/TribunNews/Namira)