TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejumlah kasus yang melibatkan anggota Polri di Jambi menjadi sorotan publik.
Ada kasus oknum polisi bunuh dosen di Bungo, pemerkosaan perempuan di Kota Jambi, hingga yang terakhir kasus dugaan pengeroyokan sesama polisi hingga meninggal, dan kasus kekerasan lainnya.
Rangkaian peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai faktor psikologis yang melatarbelakangi tindakan oknum yang seharusnya menjadi aparat penegak hukum.
Fenomena tersebut tidak hanya menjadi perhatian masyarakat di Jambi, tetapi juga menyita perhatian secara nasional.
Di tengah tuntutan profesionalisme aparat, muncul pertanyaan mengenai bagaimana seseorang yang telah melewati proses seleksi ketat masih bisa terlibat dalam tindakan kriminal maupun kekerasan.
Bagaimana kacamata psikologi melihat persoalan tersebut? Dan bagaimana pentingnya pembinaan mental dan evaluasi berkelanjutan untuk mencegah terulangnya kasus-kasus kekerasan yang melibatkan aparat penegak hukum.
Berikut petikan wawancara Jurnalis Tribun Jambi Jariyanto bersama Dr Ridwan, Dosen Psikologi Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi (UIN STS Jambi), dalam program Saksi Kata Tribun Jambi.
Persoalan in jadi sorotan di Provinsi Jambi, juga nasional. Adalah peristiwa mengroyokan yang dilakukan oleh oknum polisi terhadap polisi juga. Kalau kita mau highlight sebelum peristiwa terbaru ini Highlight, ada peristiwa pembunuhan yang melibatkan polisi terhadap kekasihnya seorang dosen di Bungo. Lalu asusila beberapa polisi terhap seorang perempuan, yang kini polisi itu telah dipecat. Terakhir di Tanjabtim ini. Secara umum apa sih sebenarnya yang terjadi?
Dr Ridwan: Kalau kita bicara manusia secara umum, manusia itu kan punya yang namanya tipikal emosi yang berbeda satu dengan yang lain.
Ada yang mudah katakanlah tergoyahkan dengan situasi-situasi yang membangkitkan id dalam teori psikologi Sigmund Freud.
Itu yang berisi tentang insting-insting atau alam bawah sadar. Sifat perilakunya itu lebih banyak impulsif.
Jadi berperilaku tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibat dan kejadian-kejadian yang akan menjadi risiko dan tanggung jawab.
Nah ini terjadi umum setiap manusia selama dia masih manusia.
Jadi dia mudah terbawa emosi dengan situasi-situasi yang mungkin merupakan kumpulan-kumpulan dari problematik mereka secara individu.
Nah emosi ini terkadang sifatnya memang harus dikeluarkan tetapi dalam bentuk katarsis yang seharusnya positif.
Tapi banyak orang ketika dia mengeluarkan emosi dia tidak lagi melihat situasi dan kondisi yang ada.
Sehingga ketika dia memunculkan adalah reaksi kemarahan terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, dia mau, dia persepsi, muncullah dalam bentuk perilaku-perilaku yang agresifitas bisa menyerang orang.
Bahkan kalau kita lihat kasus-kasus bukan hanya penyerangan terhadap orang tetapi terhadap diri sendiri juga marah.
Itu yang disebut sebagai katakanlah kondisi-kondisi dia menyakiti diri dia atau self-abuse.
Seperti misalnya menarik-narik rambut, benturan kepala, hingga sampai ke kasus yang cukup parah dalam konteks kesehatan mental seperti depresi.
Maka terjadilah istilah orang itu akhirnya mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.
Nah ini umum terjadi dan tentu konteksnya kita akan lihat person-person.
Karena tidak semua orang ketika dia punya masalah, dia akhirnya mengungkapkan perasaan-perasaannya dengan cara agresif.
Agresif ke orang lain, menyerang ataupun agresifitasnya ke diri sendiri.
Artinya ada konteks pengontrolan kalau dalam teori Sigmund Freud itu.
Struktur ego, norma-norma yang berlaku itu jadi loss. Katakanlah aturan-aturan yang berlaku itu jadi loss. Yang terpenting adalah id-nya saja.
Itu ya Bapak. Insting-insting untuk melakukan tindakan negatif dalam bentuk kekerasan atau melukai atau apa. Nah itu mesti bisa terjadi pada siapapun.
Kalau melihat itu yang terjadi, dorongan apa sebenarnya Pak Ridwan? Kontrol emosi yang itu sulit dikendalikan tadi yang akhirnya entah itu menyakiti diri sendiri atau bahkan lebih ekstrim lagi. Apakah faktor-faktor di saat ini tingkat stressing atau stresnya manusia sekarang nih kalau kita bicara manusia sekarang. Orang-orang generasi sekarang atau memang zaman saat ini. Apakah memang stres itu problem hidup ini? Misalnya ini kalau kita melihat.
Dr Ridwan: Kalau kita lihat stres itu bisa terjadi dimana dan kapanpun ya. Jadi tidak berbicara tentang dulu maupun sekarang. Kondisi stres pasti terjadi. Hanya saja tingkat individu untuk melakukan tindakan-tindakan dalam konteks kejahatan itu lebih dipermudah. Dipermudah itu dalam tanda kutip.
Artinya orang banyak belajar dalam teori psikologi sosial ya dikatakan oleh Bandura. Orang itu belajar dari lingkungan.
Dan itu orang-orang stres, stres itu mereka butuh coping strategy, cara-cara untuk mengatasinya. Nah masalahnya mereka tahu caranya itu dari katakanlah informasi-informasi yang nggak pas. Ya kan? Masing-masing akhirnya melakukan pembunuhan, melakukan penganiayaan.
Orang mudah terpancing ketika ya kita lihatlah kejadian yang baru ini dimana itu di Mata Taman ya. Begitu orang melihat situasi ramai, crowded, akhirnya orang melakukan pengeroyokan dan sebagainya.
Nah ini bisa berimbas kepada siapapun di zaman apapun. Nah sekarang lebih dipermudah, sekali lagi saya katakan lebih dipermudah dengan media-media informasi yang mungkin kurang pas, diterima dan diseleksi dengan baik oleh si individu.
Nah kondisi stres itu sejatinya tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Seharusnya bisa dipandang sebagai sesuatu yang positif. Maka itulah muncul dalam bentuk eustress.
Jadi ketika orang dalam kondisi ekonomi sulit, berarti kan tekanannya besar nih, dia harus memenuhi kebutuhan untuk keluarga, seharusnya memunculkan stres yang berdampak positif yang disebut sebagai eustress. Jadi dia akan berusaha kerja lebih bagus lagi.
Berusaha untuk mendapatkan penghasilan yang sesuai dengan aturan yang ramai melakukan.
Apa tadi disebut dengan apa? Eustress.
Dr Ridwan: Kalau distress itu kan yang negatif tuh. Kita seringkali melihat mendapatkan informasi justru yang tindakan dilakukan menjadi arahnya negatif terus. Padahal ada positifnya. Padahal banyak.
Mungkin, ya dari dulu pasti sering menghadapi stres. Bangun tidur kita udah stres. Kita udah tuntutan ini, pekerjaan tuntutan ini.
Apalagi kalau di dunia yang kita bicara dalam hal ini ya tanda kutip di kemiliteran atau di kepolisian. Itu kan aturan kerja yang berat yang nggak jelas waktunya. Kemudian harus disiplin yang harus ketat.
Bahkan ada dalam tanda kutip saya menyatakan sebuah pembenaran. Kalau ada kesalahan dipukul. Itu kan biasa tuh.
Samar misalnya. Ibaratnya melatih disiplin kalau dalam bahasa mereka lah katakan. Atau katakanlah dikurung dan seterusnya.
Nah ini perilaku yang memungkinkan, oh gini loh caranya kalau ada masalah selesain seperti ini. Pelampiasannya tadi sebenarnya?
Dr Ridwan: Pelampiasannya. Jadi intinya kamuflasenya banyak sekali untuk melakukan sebuah pembenaran. Apalagi kalau kita bicara tentang aparat. Dalam hal ini kepolisian mereka juga, saya pikir ya, mungkin ada doktrin untuk label kekuasaan untuk melakukan sesuatu, menangkap.
Kalau dilakukan tindakan kekerasan itu dimungkinkan. Kata-kata dimungkinkan ini akhirnya merembet kepada hal-hal yang seharusnya bukan tindakan yang harus dilakukan bukan menangkap penjahat, melakukan orang dengan baik, berteman, bersosialisasi. Tapi justru ada tindakan kekerasan.
Mungkin doktrin ini kadang-kadang bisa saja ya termakan di dalam paradigma kehidupan yang itu nggak ada kaitan dengan menangkap penjahat misalnya.
Penjahat kan harus dilumpuhkan. Itu dibenarkan itu. Bahkan kalau ditembak pun nggak ada masalah. Padahal itu unsur tindakan kekerasan. Tetapi kekerasan yang dibenarkan.
Tribuners harus itu kalau kita tadi mengulas secara umum bagaimana psikologi manusia tapi dengan kondisi saat ini tadi benar mendapatkan informasi-informasi begitu banyak peristiwa di dunia apapun lagi sekarang di era medsos yang begitu masif tentu ini menjadi sesuatu yang tadi bagaimana filter juga. Nah apakah memang kalau menurut kajian psikologi ini Pak Ridwan orang sekarang ini dibanding zaman dahulu apakah sekarang ini gampang cepat marah kalau kita dibandingkan dengan kita yang udah umur bukan generasi milenial apa namanya gen Z dan gen Alpha. Itu kalau menurut Pak Ridwan gimana itu Pak?
Dr Ridwan: Ya jadi kondisi sudah berbeda dari seperti kita. Kita mengandung unsur kekerabatan yang sangat kental. Kita lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Lebih banyak bergaul. Lebih banyak bersosialisasi.
Di situ lahir kita belajar bagaimana mengerem emosi. Bagaimana supaya kita bisa adaptasi diterima di lingkungan dimanapun kita berada.
Sekarang orang banyak asik dengan dirinya sendiri. Asik bermain dengan game-nya. Artinya interaksi itu yang seharusnya menciptakan yang namanya simpati, ketertarikan, empati, merasakan kepedulian itu sudah sangat kurang sekali.
Nah ini yang akhirnya mudah meledak-ledak, perilaku-perilaku yang dalam tanda kutip tadi kita kategorikan sebagai kriminal atau tindak pidana.
Nah ini yang terjadi pada masa saat ini orang tidak lagi atau kurang care, peduli dengan lingkungan atau dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sosial kita sudah mulai berkurang. Kekerabatan kita sudah mulai berkurang.
Gotong royong pun sudah mulai berkurang. Kalau dulu kan nggak ada hiburan lain. Selain kita harus berkumpul bersama-sama, wujudkan ide-ide yang kadang positif. Positifnya kita bangun ini atau kumpul dalam kategori jaga malam.
Sekarang udah nggak ada lagi. Sekarang bayar orang. Itu bersih-bersih ya kan? Udah beres, nggak usah repot-repot. Nah itu nggak ada interaksi melibatkan simpati emosi yang lebih dalam. Hubungan yang lebih terbuka satu dengan yang lain. Ikatan emosional yang sudah semakin terkikis. Tidak tercipta dengan baik sekarang.
Baik. Pak Ridwan, kembali kita mengulas mengenai bagaimana aparat, oknum-oknum aparat yang emosional yang tidak terkontrol tadi sudah disinggung sedikit. Tapi kalau melihat ketika mereka mau masuk recruitment tentu melalui tahapan-tahapan yang juga ketat termasuk di psikologi. Ketika mereka melakukan tindakan kriminal bahwasannya mereka juga pada dasarnya tahu bahwasannya mereka ini aparat penegak hukum dan risiko hukum. Tetapi itu tetap walaupun ya case by case dengan modus atau pemicu atau motif yang berbeda-beda. Kalau menurut Pak Ridwan gimana?
Dr Ridwan: Tadi Mas Jari menyatakan kita melihat prosedur awalnya. Sebenarnya kalau kita ikuti alur seleksi yang mudah-mudahan ketat ya artinya tesnya tidak main-main ya. Tes kesehatan termasuk tes psikologis untuk mengukur tingkat inteligensi seseorang.
Semakin tinggi inteligensi seseorang itu paling tidak dia tahu cara dia berhadapan ketika dia menemukan masalah.
Ya coping strategy-nya seperti apa. Itu kan orang-orang yang tingkat inteligensinya tinggi dia bisa menganalisa sesuatu, menguraikan sesuatu termasuk dia bisa melogikakan apakah tindakan ini benar atau tidak. Beda kan kalau mereka yang tingkat inteligensinya di bawah.
Nah artinya ini seharusnya benar ya kalau dilakukan seleksi mudah-mudahan secara intelektual itu tidak bermasalah.
Kemudian juga dites secara beban kerja termasuk emosional bagaimana dia stabil atau tidak. Ini berbahaya sekali kalau orang nggak stabil ya. Mudah terpicu nanti kan. Apalagi dilengkapi dengan membawa senjata tajam nih.
Nah itu salah satu atribut itu yang memperkuat lagi untuk melakukan tindakan-tindakan yang katakanlah kejahatan-kejahatan di luar aturan yang berlaku.
Nah kalau proses seleksi yang begitu ketat itu sudah dijalankan dengan baik walau-walau di sawap ya apakah benar-benar sudah sangat baik mudah-mudahan sangat baik dan itu seleksi dikawal betul dengan baik artinya mereka yang terpilih ini bukan hanya cerdas secara intelektual tapi juga cerdas secara emosional.
Karena kadang-kadang juga orang cerdas secara intelektual kalau bahasa tubuh atau bahasa komunikasinya kasar itu kan juga bermasalah tuh. Karena kalau kita tahu tugas polisi itu yang paling utama itu mengayomi masyarakat, melindungi masyarakat.
Nah itu yang utama bagaimana mereka menyesuaikan dengan kapasitas intelektual dan emosionalnya ketika mereka berhadapan dengan masyarakat yang harus mereka lindungi. Apalagi sesama rekan ya. Nah jadi proses seleksi benar-benar harus kita kawal dengan baik.
Kalau ini tidak terjadi dengan baik artinya kita menghasilkan produk orang-orang yang tentu akhirnya juga akan memunculkan permasalahan di kemudian harinya. Artinya produk-produk yang nggak pas ini dia masuk ke katakanlah tugas-tugas yang cukup berat, tugas-tugas yang bisa memancing emosi kayak orang kalau lagi demo, itu kan memancing emosi.
Bahkan tugas-tugas yang mudah terprovokasi oleh orang-orang lain itu bagaimana kalau dia tidak cerdas secara emosional maupun kapasitas intelektual.
Nah ini semakin baik dalam proses-proses seleksi jadi kita pilih orang-orang yang mungkin juga memiliki prestasi-prestasi. Artinya prestasi secara akademik, prestasi di dalam keorganisasian.
Nah itu mungkin salah satu kriteria yang bukan melalui tes saja tapi bisa kita lihat kan hasil-hasil selama dia sekolah atau apa. Nah itu juga salah satu penunjang bagaimana orang bisa beradaptasi berhadapan dengan orang banyak.
Nah kemudian dari proses yang sudah jalan ini tentu nanti setelah penerimaan mereka juga harus dibekali dong bukan hanya dibekali pengetahuan tentang tugasnya saja dan tanggung jawab tapi juga bekal-bekal di mana mereka dihadapkan pada situasi-situasi yang mungkin memicu kemarahan-kemarahan mereka, memicu konflik-konflik mereka.
Artinya bekal-bekal secara psikologis mungkin dilatih bagaimana mereka meredam emosi, dilatih bagaimana mereka ya dalam tanda kutip katakanlah keagamaan ya juga itu harus rutin tuh.
Bahkan ketika mereka dihadapkan pada suatu konflik dengan tugas, dengan pimpinan, dengan teman rekan nah mereka harus dibiasakan untuk bisa merekresikan permasalahan-permasalahan itu melalui biro-biro SDM misalnya kan ada psikologi juga tuh.
Jadi mereka-mereka itu jangan sampai ketika sudah terlihat ada kondisi-kondisi memunculkan mereka punya masalah baru di-counseling; ya dalam tanda kutip counseling karena biro SDM ini memang tugasnya harus lebih strict ini ya maksudnya pendataan cepat diobservasi cepat langsung ditarik ditanyain sama ada masalah apa-apa bisa-bisa bantu sehingga menguraikan konflik-konflik internal yang terjadi di antara diri mereka.
Karena kita ini bukan hubungan dengan eksternalnya internal juga antara kebutuhan satu dengan kebutuhan yang lain itu sesuatu konflik loh. Ini saya pengen ini, saya pengen itu, itu konflik tuh.
Nah ketika ada saluran mereka untuk mengekspresikan, mengkatarsiskan itu maka itu akan menjadi lebih memiliki kepuasan dan kelegaan bagi mereka sehingga mereka lebih tenang mereka menghadapi tekanan-tekanan di luar dari konteks kehidupan pribadi maupun konteks kaitannya dengan tugas mereka.
Oke tadi kalau bicara dari awal untuk tadi Pak Ridwan seleksi dan tes-tes psikologi apakah kita perlu menyesuaikan dengan penyesuaian kalau kita zaman tes psikologi ya begitu saja lah ya kan parameternya apakah mungkin perlu ditambah atau kalau secara keilmuan nih psikologi apakah kita juga harus mengikuti bagaimana psikologi perkembangan manusia saat ini kalau dalam studi secara keilmuan ini saya penasaran juga ini.
Dr Ridwan: Ya kalau kita bicara tes psikologi tentu ada alat tes ya, alat ukur misalnya tadi saya katakan tes intelektual, ADHD dan seterusnya macam-macam ya, banyak alat tes.
Kalau kita melihat bagaimana melihat perilaku emosi seseorang stabil atau tidak ya ada banyak alat tes poligrafi dan seterusnya, nah itu adalah salah satu saluran-saluran bagaimana kita untuk mengetahui secara katakanlah proyektif juga termasuk tes-tes gambar ya, bagaimana perilaku itu tidak muncul pada saat itu tapi kita bisa memprediksi, jadi orang ada kemungkinan punya masalah ya seperti ini.
Nah, bagusnya lagi tes itu juga setelah itu diiringi dengan mungkin salah satunya tes wawancara, tapi wawancara itu kadang-kadang bagusnya adalah bagaimana berbicara tentang event based apa yang pernah dia lakukan dan bagaimana dia mengatasi itu.
Nah kita melihat cara berpikir dia ketika dia dihadapkan pada suatu problem problematik, nah itu isi wawancara seharusnya seperti itu, wawancara itu bukan hanya sekedar sehari-hari atau apa, tapi ditanya apa yang pernah dia lakukan, dan kondisi apa ketika dia dihadapkan pada permasalahan, dan apa yang pernah dia selesaikan ketika dia menghadapi permasalahan. Jadi cara berpikirnya memang dilihat betul-betul.
Jadi tidak hanya prasyarat saja ya tes ini ya, digali lebih jauh, termasuk juga misalnya kalau asesmen lengkap itu ya, FGD misalnya kita lakukan diantara mereka, nanti dihadapkan pada suatu kasus, bagaimana kekompakan mereka, bagaimana cara mereka menganalisis kasus secara bersama, dan kita lihat bagaimana konsep leader-nya, bagaimana konsep menghadapi tekanannya, itu banyak sekali sih kalau mau dilakukannya, panjang lah ya ceritanya, kalau memang kita bicara eksklusif lengkap asesmennya.
Asesmen lengkap ini asesmennya ini kadang-kadang orang ratusan, ribuan mungkin ya lebih diperketat secara sebenarnya, bukan hanya sekadar penulis di atas kertas tapi tadi butuh kita wawancara tadi, karena wawancara mungkin kalau parameter di dalam psikologi sudah ada basic-basicnya, tetapi kita mungkin bisa menemukan lewat ngobrol tadi, disitulah kita akan menemukan, nanti kecenderungannya seperti apa.
Karena tidak bisa mengobservasi lebih luas ketika di wawancara, mungkin disitu kalau di wawancara itu mereka akan bercerita tentang apa yang pernah benar-benar mereka lakukan nggak bisa ngarang. Oh saya dulu pikir kayak gini, kayak gini kalau dikejar lagi ketahuan.
Artinya event based peristiwa-peristiwa yang benar-benar apa yang pernah mereka lakukan baik itu di sekolah, maupun di lingkungan misalnya, nah itu kita lihat ini cukup riskan misalnya kalau orang-orang seperti ini diterima.
Oke tes IQ-nya oke tes intelektual emosionalnya oke tapi itu bisa saja bagian-bagian dari situasi yang besar saja dia mengalami proses belajar skenario, alat-alat tes sudah banyak skenario, jadi kadang-kadang tidak mendapatkan aslinya aslinya ini orang ya.
Maka kadang-kadang melalui wawancara yang tersistem baik dan orang-orang yang memiliki daya observer yang bagus daya wawancara yang cukup kuat menggali nah ini mungkin akan didapat yang secara utuh.
Berbicara mengenai stres tadi, profesi-profesi seperti aparat penegak hukum profesi-profesi lain termasuk kami, kami para jurnalis, kalau di bidang psikologi sendiri, kira-kira ini apakah memang butuh misalnya ya haruslah rutin 3 bulan sekali minimal, misalnya ya kalau menurut Pak Ridwan, ya nah kalau menurut Pak Ridwan nih, apakah memang itu tadi bahwasannya kita butuh juga saling sharing, kadang-kadang kita dibandingkan ke gunung es yang akhirnya meledak oh ternyata ada sesuatu yang disembunyikan, nah kalau dari segi profesi tadi kalau melihatnya ya, apakah memang kategori ada gak? Ini profesi yang memang butuh attention yang luar biasa kalau yang ini-ini dan ini tingkatnya sedang misalnya, ada gak?
Dr Ridwan: Yang jelas tekanan itu sebenarnya lebih ke arah persepsi, karena pekerjaan apapun selama orang itu masih bisa menikmati sebenarnya tidak akan memunculkan stres yang akut.
Tapi kalau kita lihat dari kapasitas keorganisasian itu bagaimana tekanan yang lebih tinggi tentu kita lihat pekerjaan yang gak pakai jadwal waktu tetap itu manusia paling sulit, gak jelas gitu ya. Itu tekanan stresnya tinggi tuh. Itu tekanan stresnya tinggi karena beda terlalu pagi, sore, pulang itu jelas tuh.
Pekerjaan-pekerjaan udah jelas, kemudian di samping waktu yang gak jelas pekerjaan juga banyak yang gak jelas kadang harus mengerjakan ini, tiba-tiba oh mengerjakan itu akhirnya berubah-rubah. Nah itu orang gak bisa memiliki konsistensi terhadap perilaku dia sendiri untuk beradaptasi dengan pekerjaan.
Tapi lagi-lagi kalau saya kembali ke teori awal selama orang itu bisa menikmati pekerjaan itu dalam bentuk tekanan apapun dalam bentuk pekerjaan yang mungkin sumbernya gak jelas itu dalam bentuk pekerjaan lain itu dia akan bisa beradaptasi dengan lain.
Hanya saja tadi kita lihat klasifikasi yang memungkinkan stresnya lebih banyak. Nah di kita bicarakan saat ini berkaitan dengan aparat ya kepolisian misalnya, itu kan pekerjaan-pekerjaan yang menuntut kesiap-siagaan tingkat tinggi kepatuhannya tingkat tinggi juga.
Oh itu kan disiplin kalau gak patuh ya udah gak marah. Artinya yang namanya tekanan itu semakin tinggi karena ada sistem yang kita sebut senioritas-junioritas. Nah ini ini gap-nya hormat.
Kalau kita yang tempat umum mungkin lebih fleksibel untuk mengutarakan pendapat kalau ini kan siap. Nah itu pikiran kita menolak itu gak ada tapi kalau di dunia-dunia yang umum selain dunia kepolisian kita bebas dong kadang-kadang mengutarakan, "Pak kami gak setuju dengan ini" dialog, atau kalau itu kan kamu harus siap.
Nah coba tuh itu kan psikologisnya terbentuk dan tidak bisa ada ekspresi untuk bisa mengungkapkan perasaan-perasaan penolakan, perasaan-perasaan kekecewaan itu tingkat stresnya lebih tinggi.
Nah tadi kaitannya dengan sharing bilang, kalau seandainya karena butuh dong hiburan dan segala macam, pasti di semua organisasi butuh di setiap pekerjaan butuh ya katakanlah kedekatan di antara satu dengan yang lain, maka kadang-kadang di hampir semua industri atau pemerintahan atau apa, kadang-kadang ada yang namanya dipeluk bersama gathering apalah istilahnya, itu penting untuk menikmatkan kebersamaan.
Kemudian juga yang paling penting juga secara individual kalau orang sudah tidak bisa lagi menekuni yang namanya minat dan hobinya, itu tanda-tanda tuh orang gak bisa lagi.
Biasanya suka lari, suka... udah mulai gak bisa itu tanda-tanda, itu semua masalah ya. Kalau orang-orang stres orang depresi, biasanya dia tidak lagi bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang rutin dia lakukan.
Nah kemudian itu juga menjadi saran kita kalau kamu yang benar, lakukan apa yang menjadi minat dan hobinya. Kalau hobi aja gak bisa terlampiaskan bagaimana? Tambah pusing terus itu jadinya. Ada penyaluran ya?
Dr Ridwan: Jadi yang muncul itu rasa frustrasi. Jadi kalau kita bicara tentang kekerasan dan semua yang dilakukan oleh individu person-person ataupun aparat itu adalah rasa frustrasi. Kalau frustrasi itu pasti memunculkan agresifitas.
Agresifitas itu bagi yang mereka punya tipikal yang meledak-ledak, impulsif mereka bisa menyerang orang lain. Tapi kalau orang yang mungkin banyak menahan akhirnya selalu menyiksa diri sendiri.
Peristiwa-peristiwa itu selalu orang-orang terdekat orang-orang yang bahkan itu ada di lingkungan sekitar kita, orang-orang yang kita kasih sebelumnya. Apa sih sebenarnya sehingga bisa begitu tega gitu loh? Kadangkan apalagi kalau misalnya tadi kalau bersama oknum, polisi ngumpul disitu, bareng-bareng terus kok ngeroyok bareng-bareng gitu ya? Kan ada orang-orang yang memang itu sudah menjalin asmara misalnya juga sampai di ibaratnya dieksekusi juga. Nah, ini apa itu kalau tadi secara psikologis oke emosi, tetapi ketika kita ini sudah kenal loh, kita ini sudah bareng-bareng loh, tapi kok tega? Nah tega ini tadi agak pusing juga saya.
Dr Ridwan: Kalau kita bicara teori bullying, kalau bullying itu kan dia selalu mencari orang yang menjadi sasaran yang terlemah. Orang yang sudah kecil, hitam, hidup lagi, itu kadang-kadang menjadi sasaran orang-orang yang berbadan besar.
Ini mungkin juga kalau kita berbicara tentang konteks bagaimana proses pengeroyokan, artinya bisa secara individu, pribadi karena ada interaksi, maka orang yang terdekat kan kita berinteraksi pasti dengan orang yang lebih terdekat kan, maka kadang-kadang ada perkataan, ada pernyataan yang tidak disukai, itu memancing kemarahan dari si individu yang melakukan kekerasan tadi.
Bisa juga itu bagian mengimplementasikan rasa frustrasi dia terhadap tekanan di kerja. Ini di kerja disuruh ini, disuruh itu, dia gak mampu melawan, kalau melawan pimpinan, kan dia dipecat atau kamu dipindahin ini. Udah akhirnya korban-korbannya adalah orang-orang yang terlemah.
Orang yang terlemah itu biasanya orang yang terdekat. Misalnya suami di pekerjaan banyak dituntut tugas yang sering dimarah-marahin karena dia gak mampu menyelesaikan dengan baik, korbannya istri. Karena gak mampu tadi dong marah ke pimpinan ya, efeknya luar biasa kan, efeknya dilampiaskan kepada si istrinya.
Nanti si istri juga gak mampu melawan suami udah mendapat bulanan setiap bulan, nanti kalau marah dikurangin, nanti jatah. Jadi dia ke anak. Anak gak mampu ke orang tua, jadi lari ke teman-teman yang lain yang dianggap lemah.
Itu konsep bullying seperti itu. Jadi mereka melakukan tindakan-tindakan biasanya kalau bullying pasti adanya proses pengeroyokan. (Tribun Jambi/Asto)
Baca juga: Kecelakaan di Bungo Jambi Jumat Siang, Innova vs Nmax, Kabarnya 2 Orang Meninggal
Baca juga: Cerita Warga Desa Pulau Tengah Merangin Tak Lagi Dapat Listrik, PLTMH Rusak Diterjang Banjir