Produksi Gabah Petani di Badung Surflus, Hingga Juni 2026 Tembus 45.292,25 Ton
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Sepanjang semester pertama tahun 2026 produksi gabah petani di Kabupaten Badung tercatat positif.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, capaian produksi Gabah Kering Giling (GKG) sejak Januari hingga Juni 2026 telah menembus angka 45.292,25 ton.
Jumlah produksi GKG itu pun setara dengan 25.644,18 ton beras siap konsumsi.
Dengan total tingkat kebutuhan masyarakat dan konsumsi lokal di Kabupaten Badung yang mencapai 23.692,77 ton pada periode yang sama.
Dengan angka tersebut dipastikan wilayah ini dipastikan mengalami surplus beras sebesar 1.951,41 ton.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, A.A. Ngurah Raka Sukadana menjelaskan saat ini capaian gabah tersebut diperoleh dari luas panen bersih yang mencapai 6.819,34 hektar selama enam bulan pertama tahun 2026 atau di semester pertama.
Baca juga: Imigrasi Singaraja Kenalkan Sekolah Kedinasan kepada Pelajar Bali Utara Lewat Si Raja Cerdas
Meski demikian, Raka Sukadana menegaskan bahwa data angka produksi yang tercatat saat ini masih bersifat estimasi sementara dan berpotensi terus berkembang seiring berjalannya proses verifikasi data di lapangan.
"Data produksi yang kami himpun sampai saat ini masih bersifat estimasi sementara. Namun, jika melihat tren dan hasil riil hingga Pertengahan tahun, ketersediaan beras di Badung berada pada kondisi yang sangat aman dan terhitung surplus," ujar Raka Sukadana pada Jumat 31 Juli 2026
Dia mengakui pada bulan Juli 2026, produksi gabah daerah diperkirakan masih akan terus bertambah. Pihak Dinas Pertanian dan Pangan mengestimasi adanya tambahan produksi gabah pada bulan Juli sebesar 1.588,18 ton GKG, yang dihasilkan dari luas panen bersih seluas 235,56 hektar.
Jumlah produksi gabah bulan Juli tersebut diproyeksikan setara dengan 734,13 ton beras.
"Prediksi kami di Bulan Juli ini juga terus mengalami penambahan. Jadi kami yakni akan surflus," jelasnya
Terkait tantangan kondisi cuaca ekstrem yang memicu dinamika iklim di berbagai kawasan, Raka Sukadana menjelaskan bahwa dinamika cuaca belakangan ini belum memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap hasil panen maupun produktivitas lahan di Badung.
"Fenomena cuaca ekstrem sejauh ini belum berpengaruh terhadap tingkat produksi pertanian kita. Para petani di Badung masih bisa melakukan proses tanam dan panen dengan optimal sesuai target," ucapnya.
Raka Sukadana menyebutkan surplus yang terjadi menjadi angin segar bagi stabilitas harga pasokan pokok di Kabupaten Badung, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dalam menghadapi potensi gangguan iklim global di sisa pertengahan tahun 2026.Selain itu diharapkan membuat para petani untung dari pemerolehan gabah yang didapat saat ini.
"Kami berkomitmen untuk terus memantau saluran irigasi, pendistribusian bibit, serta pendampingan bagi para petani guna mempertahankan tren surplus pangan ini hingga akhir tahun. Memgingat saat ini pemkab Badung sangat genjar membantu para petani," imbuhnya.
(*)