10 Tahun Kakek Ali Jual Bendera Musiman sampai Lampung, Terpaksa Ngebon Makan Jika Sepi Pembeli
Arie Noer Rachmawati July 31, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Di antara deretan bendera Merah Putih yang berkibar di sepanjang Jalan Teuku Cik Ditiro, Kelurahan Beringin Raya, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, seorang pria lanjut usia tetap setia menjaga lapaknya.

Di bawah panasnya matahari, Ali Nurdin (71) duduk menanti pembeli yang datang membeli atribut kemerdekaan.

Bagi sebagian orang, berjualan bendera mungkin hanya pekerjaan musiman. 

Namun bagi Ali, kegiatan ini sudah menjadi rutinitas setiap tahun menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

Pria asal Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu telah menjalani perjalanan panjang selama satu dekade untuk mencari rezeki di Lampung.

Setiap mendekati bulan Agustus, ia kembali membawa bendera Merah Putih dan berbagai perlengkapan kemerdekaan untuk dijual kepada masyarakat.

Ali mengaku awalnya hanya mencoba berjualan di Lampung.

Namun, tingginya minat warga membuatnya terus kembali setiap tahun.

"Awalnya saya pertama ke Lampung. Ternyata di sini banyak yang minat beli bendera. Sejak itu jadi keterusan, tiap tahun datang lagi," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (31/7/2026).

Dalam perjalanannya, Ali tidak sendiri.

Ia berangkat bersama sekitar 15 pedagang lain asal Garut yang kemudian menyebar ke sejumlah wilayah, seperti Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, Kalianda, hingga Bengkulu.

Mereka membawa berbagai perlengkapan kemerdekaan berupa bendera Merah Putih, umbul-umbul, dan atribut lainnya yang telah disiapkan oleh pengepul di Garut.

Setiap pedagang membawa barang dagangan dengan nilai mencapai sekitar Rp15 juta.

Di lapaknya yang sederhana, Ali menawarkan bendera Merah Putih dengan harga mulai Rp20 ribu hingga Rp60 ribu per lembar.

Harga tersebut menyesuaikan ukuran serta kualitas bahan.

Sementara itu, harga umbul-umbul juga berbeda tergantung ukuran dan jenis material.

Baca juga: Rusli Remaja 15 Tahun Putus Sekolah Jualan Bendera Demi Bantu Orangtua, Gaji Rp1 Juta untuk Keluarga

Menunggu Pembeli, Bertahan dengan Harapan

Menjadi pedagang musiman berarti harus siap menghadapi hari-hari sepi.

Ali mengaku, sejak tiba di Lampung beberapa hari lalu, penjualannya belum seramai yang diharapkan.

Ada hari ketika hanya dua bendera yang terjual.

Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan, ia beberapa kali terpaksa berutang di warung dekat lapaknya.

"Kalau belum ada yang beli, saya ngebon dulu di warung. Alhamdulillah dibolehin," katanya sambil tersenyum.

Namun, di balik hari-hari yang sepi, selalu ada harapan.

Baginya, kebahagiaan terbesar adalah ketika ada pembeli yang datang dalam jumlah besar.

"Senangnya kalau ada yang borong. Biasanya dari kelurahan atau instansi. Sekali borong bisa sampai sekitar Rp 2 juta," ujarnya.

Menurut Ali, lokasi berjualan tahun ini juga menjadi tantangan tersendiri.

Berbeda dengan tahun lalu yang berjualan di daerah Gedong Tataan, kali ini ia mencoba membuka lapak di kawasan Kemiling sehingga masih harus membangun pelanggan baru.

Meski demikian, ia tetap optimistis.

Sebab, musim kemerdekaan selalu membawa harapan bagi pedagang seperti dirinya.

Baca juga: Suasana Agustusan Mulai Terasa, Pedagang Bendera Musiman Ramaikan Jalanan Lamongan

Enam Bulan Ditinggal Istri, Tetap Bekerja Demi Keluarga

Di balik senyumnya, Ali menyimpan duka yang belum lama berlalu. Enam bulan lalu, sang istri meninggal dunia.

Di usia yang tidak lagi muda, ia masih harus bekerja keras.

Ali memiliki enam orang anak, tetapi menurutnya kondisi ekonomi mereka juga belum mapan.

"Anak-anak saya juga masih belum mampu. Malah kadang mereka yang minta bantuan sama saya," tuturnya.

Karena itulah, Ali belum bisa menikmati masa tua.

Di luar musim Agustus, ia bekerja sebagai buruh proyek bangunan di Garut.

Ketika bulan kemerdekaan tiba, ia kembali menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju Lampung untuk menjual bendera.

"Selama masih kuat, saya kerja. Kalau bukan musim jualan bendera, ya kerja di proyek," tuturnya.

Baca juga: 1.000 Bendera Merah Putih Dibagikan Gratis di Bondowoso, Warga Diminta Kibarkan Mulai 1 Agustus

Merah Putih yang Membawa Harapan

Selama sekitar dua hingga tiga pekan berada di Lampung, Ali tinggal bersama rekan-rekannya di rumah kenalan yang sudah dianggap seperti keluarga.

Mereka hidup sederhana, menghemat setiap rupiah hasil berjualan sambil menunggu musim kemerdekaan usai.

Selepas Agustus, Ali akan kembali ke Garut.

Lalu tahun depan, jika kesehatan masih mengizinkan, ia berencana menempuh perjalanan yang sama.

Bagi banyak orang, bendera Merah Putih adalah simbol kemerdekaan yang dikibarkan setiap bulan Agustus.

Namun, bagi Ali Nurdin, setiap lembar bendera yang terjual adalah harapan untuk membawa pulang rezeki, melanjutkan hidup, dan tetap menjadi sandaran bagi keluarganya.

Di balik merah dan putih yang berkibar, ada perjuangan seorang ayah yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.