...saya percaya ini adalah tugas paling penting yaitu melakukan skrining yang lebih baik. Mulai tahun lalu, kami melakukan skrining wajib bagi 280 juta penduduk Indonesia...

Badung (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memprioritaskan skrining atau deteksi dini sebagai langkah menekan tingginya kasus meninggal dunia akibat kurangnya penanganan pada penyakit jantung.

“Saya melakukan prioritas pertama saya, saya percaya ini adalah tugas paling penting yaitu melakukan skrining yang lebih baik. Mulai tahun lalu, kami melakukan skrining wajib bagi 280 juta penduduk Indonesia, termasuk bayi baru lahir dan baru mencapai 70 juta,” kata Menkes Budi Gunadi di Kabupaten Badung, Bali, Jumat.

Hal itu disampaikan Menkes dalam 67th Annual World Congress International College of Angiology (ICA) 2026 yang digelar bersamaan dengan 6th Indonesian Vascular Annual Scientific Congress (IndoVASC), dimana data Indonesia setiap tahun 260 ribu masyarakat meninggal akibat serangan jantung.

“Tahun ini target kami adalah deteksi dini 136 juta (penduduk). Mudah-mudahan pada tahun 2029, 280 juta masyarakat Indonesia setiap tahunnya akan diskrining data klinis mereka,” ujar Menkes.

Dengan deteksi dini, apalagi saat ini gratis, kata dia, setidaknya masyarakat tidak terlambat mengetahui kondisi tubuh mereka. Meskipun diakuinya rumah sakit dan tenaga spesialis Indonesia belum cukup untuk menangani semua.

“Setidaknya memastikan bahwa setiap warga negara Indonesia diskrining, jadi jika tekanan darah mereka di atas 120/80, mereka pergi ke fasilitas kesehatan primer dan diberikan Amlodipine gratis, ini untuk membuatnya terkontrol untuk menghindarkan mereka dari sakit,” kata Menkes.

Setelah memastikan masyarakat melakukan deteksi dini, misi Kementerian Kesehatan berikutnya adalah Percutaneous Coronary Intervention (PCI) tindakan pasang ring jantung.

Menkes Budi melihat alasan orang meninggal karena penyakit jantung karena minimnya intervensi PCI di Indonesia. Bahkan saat awal menjadi menteri, kata dia, dari 514 kota/kabupaten hanya 43 wilayah yang melayani PCI.

“Bagi anda yang datang dari Amerika Serikat, ini adalah contoh jika anda terkena serangan jantung di Los Angeles tapi harus dibawa ke ke San Francisco, atau kalau di China jika anda terkena serangan jantung di Shanghai, anda harus membawa orang tersebut ke Beijing, ini karena tidak semua kota di Indonesia memiliki CT scan dan cath lab,” ujar Menkes.

Untungnya, kata dia, saat ini 151 kota sudah dapat melayani dengan target tahun ini sudah tersedia di 200 kota dan lengkap di seluruh Indonesia pada akhir 2027.

Menkes berharap masyarakat terus mendukung langkah ini mulai dari mengikuti deteksi dini, sebab pemerintah memiliki target meningkatkan rata-rata angka harapan hidup setiap warga negara dari 72 menjadi 76 tahun.

Sementara penyakit kardiovaskular adalah pembunuh nomor satu dan nomor dua yang menyebabkan masyarakat Indonesia meninggal sebelum usia 76 tahun.

Ketua penyelenggara IndoVASC Iwan Dakota menambahkan melalui kongres dunia yang diikuti 600 ahli dari berbagai negara ini akan memperkuat kolaborasi ilmiah, sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia dalam penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Ia memperkirakan lebih dari 50 persen kasus penyakit jantung di Indonesia merupakan penyakit jantung koroner, sementara sekitar 20–30 persen merupakan penyakit katup jantung dan selebihnya berasal dari hipertensi maupun penyakit jantung bawaan.