TRIBUNJOGJA.COM – Tribunners, pernah merasa baru saja menerima uang bulanan, tetapi belum sampai akhir bulan saldonya sudah menipis?
Padahal jika diingat-ingat, rasanya tidak membeli barang yang terlalu mahal.
Mungkin awalnya hanya membeli kopi favorit sebagai temen nugas.
Besoknya tergoda mencoba menu baru yang sedang viral.
Beberapa hari kemudian membeli pakaian karena ada diskon besar.
Minggu berikutnya muncul keinginan membeli skincare yang ramai dibahas di media sosial.
Pengeluaran tersebut memang terlihat kecil jika dilakukan sekali. Namun, ketika terus berulang, jumlahnya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Fenomena seperti ini tidak selalu terjadi karena seseorang boros.
Dalam dunia psikologi, ada sebuah konsep yang disebut hedonic treadmill, yaitu kecenderungan manusia untuk terus mengejar kesenangan sehingga sulit merasa benar-benar puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Sederhananya, hedonic treadmill bisa diibaratkan seperti berlari di atas treadmill.
Tubuh terus bergerak dan mengeluarkan tenaga, tetapi posisi tetap berada di tempat yang sama. Begitu pula dengan keuangan.
Pengeluaran terus bertambah demi mendapatkan rasa senang, tetapi kondisi finansial tidak benar-benar mengalami kemajuan.
Apa Itu Hedonic Treadmill?
Hedonic treadmill adalah kondisi ketika seseorang cepat terbiasa dengan kesenangan yang baru diperoleh.
Setelah rasa senang itu memudar, muncul keinginan baru untuk mendapatkan kepuasan berikutnya.
Misalnya, seseorang sangat menginginkan sepatu baru. Setelah berhasil membelinya, rasa bahagia memang muncul.
Namun beberapa minggu kemudian, sepatu tersebut terasa biasa saja. Ketika melihat model terbaru, muncul lagi keinginan untuk membeli.
Siklus itu terus berulang. Bukan karena barang yang dimiliki kurang bagus, melainkan karena otak manusia memang mudah beradaptasi dengan hal-hal yang sebelumnya dianggap istimewa.
Akibatnya, seseorang bisa terus mengejar kepuasan melalui belanja tanpa benar-benar merasa cukup.
Hedonic treadmill dapat dialami siapa saja, termasuk mahasiswa.
Misalnya, awalnya hanya ingin nongkrong bersama teman seminggu sekali.
Lama-kelamaan muncul keinginan mencoba setiap kafe baru yang sedang viral.
Atau ketika melihat teman menggunakan tas, sepatu, maupun gadget terbaru, muncul perasaan bahwa barang yang dimiliki sudah tidak menarik lagi.
Contoh lain yang cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa adalah kebiasaan membeli pakaian untuk setiap acara, mengikuti tren skincare yang berganti-ganti, atau membeli berbagai barang karena sedang flashsale 7.7.
Padahal, belum tentu semua barang tersebut benar-benar dibutuhkan.
Jika kebiasaan ini terus dilakukan, uang bulanan yang seharusnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bisa habis hanya untuk memenuhi keinginan sesaat.
Hubungannya dengan FOMO
Hedonic treadmill sering berjalan beriringan dengan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain.
Media sosial membuat seseorang lebih mudah melihat kehidupan orang lain.
Ada teman yang sedang liburan, membeli sepatu baru, mencoba restoran viral, atau memamerkan barang yang baru dibeli.
Tanpa disadari, muncul dorongan untuk melakukan hal yang sama agar tidak merasa tertinggal.
Padahal, yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.
Kondisi keuangan setiap orang tentu berbeda. Memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain justru bisa membuat pengeluaran semakin sulit dikendalikan.
Masalah mulai muncul ketika keinginan terus bertambah, sementara pemasukan tetap sama.
Jika uang bulanan sudah habis tetapi keinginan membeli barang baru masih ada, sebagian orang mulai melirik layanan paylater atau bahkan pinjaman online.
Kemudahan pembayaran membuat transaksi terasa ringan di awal, tetapi tagihan yang datang kemudian bisa menjadi beban baru.
Karena itu, penting untuk menyadari bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi.
Menunda membeli sesuatu bukan berarti gagal menikmati hidup, melainkan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengambil keputusan dengan lebih bijak.
Bagaimana Cara Keluar dari Hedonic Treadmill?
Kabar baiknya, hedonic treadmill bukan kebiasaan yang tidak bisa diubah.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat mulai diterapkan agar pengeluaran lebih terkontrol.
Langkah pertama adalah mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran.
Kebiasaan ini membantu melihat ke mana uang paling banyak digunakan selama satu bulan.
Selanjutnya, kelompokkan pengeluaran ke dalam tiga pos utama, yaitu living, saving, dan playing.
Pos living digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, buku, dan biaya kuliah.
Pos saving diperuntukkan bagi tabungan, dana darurat, maupun investasi.
Sementara itu, pos playing digunakan untuk kebutuhan hiburan atau keinginan pribadi, seperti nongkrong, membeli pakaian, atau skincare.
Agar lebih mudah mengatur anggaran, pembagian tersebut bisa disesuaikan dengan rumus 50:20:30, yaitu 50 persen untuk kebutuhan hidup, 20 persen untuk hiburan, dan 30 persen untuk tabungan serta investasi.
Tribunners, uang memang bisa dicari kembali, tetapi kebiasaan mengelolanya perlu dibangun sejak sekarang.
Jangan biarkan keinginan sesaat mengambil alih rencana-rencana besar yang ingin diwujudkan di masa depan.
Sesekali menikmati hasil kerja keras tentu tidak masalah.
Namun, akan lebih menenangkan jika setiap rupiah yang dikeluarkan memang sesuai kemampuan dan membawa manfaat.
Sebab, bukan tentang siapa yang paling banyak membeli, melainkan siapa yang paling bijak mengelola apa yang dimiliki. (MG Natasya Aulia)