Ketua FPK NTT Sebut Kunjungan Jokowi ke Flobamora sebagai Momen 'Pulang Kampung'
Wahyu Aji July 31, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Nusa Tenggara Timur (NTT), Theodorus Widodo, memaknai kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Kota Kupang sebagai sebuah perjalanan pulang ke daerah yang dinilainya memiliki ikatan emosional kuat dengan mantan kepala negara tersebut.

FPK adalah forum yang dibentuk pemerintah sebagai wadah komunikasi, dialog, dan kerja sama antarunsur masyarakat untuk memperkuat persatuan dan pembauran kebangsaan di tengah keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan adat di Indonesia.

Theodorus menyebut Flobamora bukan sekadar wilayah yang berkali-kali dikunjungi Jokowi saat menjabat presiden, melainkan telah menjadi "kampung halaman kedua" yang menyimpan banyak jejak pengabdian selama satu dekade kepemimpinannya.

Menurutnya, hubungan Jokowi dengan masyarakat NTT dibangun melalui rangkaian kunjungan kerja yang intensif selama menjabat Presiden RI.

 

Ia menilai Jokowi berulang kali datang untuk melihat langsung kondisi masyarakat hingga perkembangan pembangunan di berbagai wilayah kepulauan tersebut.

"Bagi Jokowi, Flobamora adalah kampung halamannya yang kedua. Tanah ini menyimpan banyak cerita. Tanah ini memang kering karena terik matahari hampir sepanjang musim, tetapi ia tak pernah kering dari harapan di mata Jokowi," kata dia, Jumat (31/7/2026).

Dia juga menyinggung bahwa selama menjadi presiden, Jokowi tercatat beberapa kali mengunjungi NTT untuk meresmikan maupun meninjau berbagai proyek pembangunan.

"Di tanah ini Joko Widodo merasakan kehangatan persaudaraan. Delapan belas kali ia datang sebagai seorang pemimpin yang mengunjungi semua tempat tanpa kecuali. Ia selalu ingin melihat dari dekat kehidupan rakyatnya," tulisnya.

Theodorus menilai kunjungan Jokowi kali ini memiliki makna berbeda karena dilakukan setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Menurutnya, kepulangan Jokowi ke NTT bukan lagi dalam kapasitas sebagai kepala negara, melainkan sebagai warga negara yang ingin kembali mengunjungi daerah yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kepemimpinannya.

Theodorus juga mengenang berbagai pembangunan infrastruktur yang berlangsung di NTT selama pemerintahan Jokowi. Ia menyebut pembangunan jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan, bandara, rumah sakit, hingga pengembangan kawasan wisata Labuan Bajo sebagai bagian dari perubahan yang dirasakan masyarakat.

Menurut dia, pembangunan tersebut tidak hanya menghadirkan infrastruktur fisik, tetapi juga membuka akses ekonomi serta menumbuhkan harapan masyarakat di berbagai wilayah kepulauan.

Meski demikian, Theodorus mengingatkan bahwa NTT masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Ia menyebut persoalan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pelestarian lingkungan dan budaya masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diselesaikan oleh pemerintah.

"Pemimpin boleh datang dan pergi. Namun tanah ini tetap tinggal, dan rakyat terus melanjutkan kehidupan. Flobamora masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Masih ada kemiskinan yang harus diperangi, pendidikan yang harus terus diperkuat, kesehatan yang harus terus diperjuangkan, serta alam dan budaya yang perlu terus dirawat," kata dia.

Karena itu, Theodorus memandang kunjungan Jokowi ke Kupang bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan momentum mengenang perjalanan pembangunan yang pernah dijalankan di NTT sekaligus mempererat hubungan emosional antara mantan presiden dengan masyarakat Flobamora.

"Selamat datang Jokowi. Tanah ini pernah menyimpan langkahmu. Dan ia pasti akan selalu mampu mengenali kembali jejak yang engkau tinggalkan," pungkasnya.

Terpisah, Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali memberikan pandangan mengenai makna di balik kunjungan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026, mendatang.

Menurut Ahmad Ali, kunjungan tersebut tidak sekadar dimaknai sebagai agenda silaturahmi politik biasa, melainkan menjadi momentum penting untuk memperkokoh ikatan emosional historis yang telah terjalin lama bersama masyarakat NTT.

Ahmad Ali menjelaskan bahwa dalam tradisi masyarakat Flores Timur dan Lamaholot di NTT, gading gajah memegang kedudukan sakral yang tidak hanya dinilai sebagai benda pusaka bernilai tinggi. 

Gading tersebut merupakan simbol kehormatan, komitmen, tanggung jawab moral, serta ikatan kepercayaan antarkeluarga yang diwariskan lintas generasi.

"Filosofi gading gajah tersebut dapat menjadi refleksi berharga dalam kehidupan politik kita. Kepercayaan rakyat tidak dibangun melalui slogan atau simbol semata, tetapi melalui komitmen yang diwujudkan dalam tindakan nyata," kata Ahmad Ali, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, nilai utama dari sebatang gading bukanlah terletak pada wujud fisiknya, melainkan kesungguhan dalam menjaga amanat serta hubungan baik antarsesama manusia.

Pembangunan di Timur Indonesia

Jokowi disebut memberikan atensi yang besar terhadap pembangunan di kawasan timur Indonesia, termasuk wilayah NTT selama kepemimpinannya.

Langkah ini diwujudkan melalui akselerasi pembangunan infrastruktur transportasi, konektivitas antarpulau, bendungan, pengembangan destinasi wisata prioritas, hingga berbagai program jaring pengaman sosial.

Ahmad Ali menilai kunjungan Jokowi kali ini merupakan representasi dari upaya merawat hubungan secara konsisten.

Sebagaimana filosofi gading gajah yang melambangkan janji menjaga kehormatan, hubungan antara pemimpin dan rakyat juga memerlukan kehadiran yang berkelanjutan.

"Hubungan antara pemimpin dan rakyat memerlukan konsistensi dan kehadiran yang berkelanjutan," jelasnya.

Lebih lanjut, Ahmad Ali mengingatkan bahwa dalam dinamika politik modern, kepercayaan publik merupakan amanah konstitusional yang harus senantiasa dirawat secara bertanggung jawab. 

Atribut dan afiliasi partai politik dapat berganti dari waktu ke waktu, namun komitmen kerja nyata dan keberpihakan kepada masyarakat tetap menjadi ukuran utama dalam memperoleh legitimasi rakyat.

Baca juga: Kementerian HAM Gandeng UKAW Kupang Bangun Pusat Studi HAM di Bumi Flobamora

"Demikian pula dalam politik,nkepercayaan masyarakat tidak diperoleh hanya melalui identitas politik,nmelainkan melalui kerja nyata yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat," pungkas Ahmad Ali.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.