- Persediaan amunisi Amerika Serikat (AS) yang terus menyusut akibat perang melawan Iran menjadi sorotan para analis pertahanan.
Namun, menurut sejumlah pakar, sebagaimana dilansir Newswek, Rabu (29/7/2026), persoalan terbesar Washington bukan hanya stok rudal yang menipis, melainkan semakin lemahnya dukungan politik di dalam negeri serta kegagalan strategi militer mencapai tujuan perang.
Sejumlah ahli menilai kedua faktor tersebut justru lebih berbahaya dibanding habisnya persediaan rudal pencegat Patriot maupun THAAD.
Dukungan politik dinilai jadi kendala terbesar
Kelly Grieco, peneliti senior Program Reimagining US Grand Strategy di Stimson Center, mengatakan, perang biasanya diawali dengan dukungan publik yang tinggi sebelum perlahan menurun.
Berbeda dengan konflik sebelumnya, dukungan masyarakat terhadap perang Iran disebut sudah berada di bawah 40 persen sejak awal dan kini hanya sekitar sepertiga warga yang masih mendukung.
Kondisi tersebut membuat pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai tidak memiliki "cadangan politik" untuk mempertahankan perang dalam jangka panjang.
Kondisi tersebut membuat pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai tidak memiliki "cadangan politik" untuk mempertahankan perang dalam jangka panjang.
Persediaan rudal AS terus menyusut
Berdasarkan analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), AS telah menghabiskan sekitar sepertiga hingga setengah stok tujuh jenis amunisi utama.
Persediaan rudal pencegat Patriot diperkirakan turun dari sekitar 2.500 unit sebelum perang menjadi sekitar 1.000 unit. Sementara stok rudal THAAD menyusut dari sekitar 360 unit menjadi hanya sekitar 70-170 unit.
Selain itu, persediaan rudal SM-3, SM-6, Precision Strike Missile (PrSM), Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM), hingga rudal jelajah Tomahawk juga ikut berkurang. (*)