TRIBUNJATIM.COM - Ucapan sederhana seperti "kita tidak punya uang" ternyata dapat memengaruhi cara anak memandang keuangan sejak dini.
Hal itu menjadi sorotan setelah sebuah unggahan di media sosial menyebut kalimat tersebut bisa membentuk pola pikir anak hingga dewasa.
Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan anggapan tersebut memiliki dasar secara psikologis.
Menurutnya, jika anak terus-menerus mendengar kalimat itu, apalagi disampaikan dengan nada cemas atau frustrasi, mereka dapat tumbuh dengan pola pikir serba kekurangan.
Tak hanya itu, anak juga berisiko merasa dirinya menjadi beban bagi keluarga karena belum mampu memahami kondisi keuangan orangtua secara utuh.
Meski demikian, Danti menegaskan sebagian besar orangtua tidak bermaksud menyakiti anak saat mengucapkan kalimat tersebut.
Karena itu, ia menyarankan orangtua memilih penjelasan yang lebih positif dan mudah dipahami anak ketika harus menolak permintaan mereka.
Lantas, bagaimana seharusnya orangtua menjelaskan kondisi keuangan kepada anak?
Baca juga: Rezeki Khairul Penjual Martabak usai Uang Rp 10 Juta dan Ponsel Hadiah Ulang Tahun Anaknya Dicuri
Danti mengatakan, orangtua yang sedang mengalami keterbatasan finansial tetap dapat menjelaskan kondisi tersebut kepada anak dengan cara yang tepat.
"Kunci utamanya adalah memberikan penjelasan objektif, memvalidasi perasaannya yang kecewa, dan menawarkan alternatif yang tidak membutuhkan biaya, tanpa memposisikan diri sebagai korban keadaan," kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Kamis (30/7/2026).
Menurut Danti, cara menyampaikan kondisi finansial perlu disesuaikan dengan usia anak.
Pada usia 3-5 tahun, anak masih berpikir secara konkret dan belum memahami konsep waktu jangka panjang maupun nilai uang secara utuh.
Karena itu, orangtua dapat fokus memberikan batasan sederhana sekaligus mengalihkan perhatian anak.
Berikut contoh kalimat yang dapat disampaikan:
Baca juga: Pak Min Penjual Jamu Lemas Kehilangan Rp300 Ribu, Pelanggan Beli Rp15 Ribu Bayar Pakai Uang Palsu
Anak berusia 6-12 tahun umumnya sudah mulai memahami matematika dasar, konsep menabung, dan dapat diajak berdiskusi mengenai pengeluaran keluarga.
Pada tahap ini, orangtua dapat menjelaskan konsep anggaran atau budgeting sekaligus mengenalkan pentingnya menunda keinginan.
Contohnya:
Sementara itu, remaja berusia 13 tahun ke atas umumnya sudah mampu berpikir lebih abstrak dan memahami situasi ekonomi keluarga.
Menurut Danti, remaja membutuhkan transparansi agar tidak merasa dibohongi.
Namun, orangtua tetap perlu memberikan batasan agar beban sebagai tulang punggung keluarga tidak berpindah ke pundak anak.
"Fokus penyampaiannya ada pada transparansi, realitas, dan batasan tanggung jawab," kata Danti.
Berikut contoh kalimat yang dapat disampaikan:
"Kondisi keuangan kita beberapa bulan ini sedang agak ketat karena pendapatan Ayah/Ibu sedang turun. Jadi, kita semua harus menyesuaikan pengeluaran. Uang saku atau langganan internetmu mungkin akan Ibu kurangi sedikit. Ibu dan Ayah sedang mengusahakan yang terbaik agar situasi kembali stabil. Kamu fokus saja ke sekolahmu."
Baca juga: Warga yang Diejek Lurah Syerly Pasang Lampu Jalan Pakai Uang Sendiri, Resah karena Banyak Begal
Danti menjelaskan sejumlah kalimat yang lazim disampaikan bagi perkembangan mental finansial anak.
Ia menyebutkan beberapa kata-kata yang sebaiknya tidak diucapkan, antara lain:
Danti menjelaskan kalimat-kalimat tersebut dapat menciptakan rasa bersalah yang besar.
Anak merasa bahwa mereka adalah beban, dan kebutuhan mereka adalah sumber penderitaan orang tua.
Selain itu kalimat tersebut juga memvalidasi bahwa uang adalah sumber konflik utama di rumah dan membuat anak merasa tidak berharga.
"Dampak tersebut menanamkan identitas inferior dan ketidakberdayaan yang dipelajari," tambah Danti.
Menurutnya anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak layak sukses atau tidak pantas mendapatkan hal-hal baik.
Kalimat-kalimat tersebut juga dapat membuat anak menanamkan kebencian pada kekayaan atau kesuksesan.
Di alam bawah sadarnya, anak mungkin akan menyabotase kesuksesan finansialnya sendiri di masa depan karena takut menjadi "orang jahat".
Danti mengatakan menerapkan cara-cara tersebut memang butuh latihan regulasi emosi dari pihak orang tua terlebih dahulu.
"Ketika orang tua bisa tenang membicarakan uang, anak juga akan menyerap ketenangan tersebut," pungkas Danti.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com