Massa Sempat Lempari Petugas saat Aksi Solidaritas Pembacokan di Surabaya, Polisi: 1 Pelaku Diburu
Dwi Prastika July 31, 2026 11:22 PM

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Luhur Pambudi

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Aksi solidaritas terkait kasus pembacokan oknum debt collector di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, Jawa Timur, berangsur bubar pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 16.30 WIB setelah sempat diwarnai ketegangan dengan aparat di kawasan Jalan RA Kartini hingga Jalan Teuku Umar, Surabaya.

Di tengah aksi tersebut, Polrestabes Surabaya memastikan masih memburu satu terduga pelaku yang belum tertangkap.

Pantauan Tribun Madura Network di lokasi, badan jalan selebar empat meter tersebut penuh dengan massa yang mengenakan atribut pakaian pencak silat.

Mereka mengendarai motor.

Ada yang boncengan. Dan ada juga yang sendirian. 

Sesekali mereka memainkan gas mesin motor saat kerumunan massa terhenti (stuck) di persimpangan empat jalan. 

Beberapa di antaranya juga tampak membawa atribut pencak silat berbentuk bendera dan spanduk berlogo perguruan pencak silat yang mereka ikuti. 

Beberapa di antara mereka menyebutkan, mereka baru saja dari Mapolrestabes Surabaya untuk berorasi dan menemui Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, pada siang hari. 

Lalu, mereka bergerak menuju ke Jalan Teuku Umar, lokasi tempat keberadaan kubu kelompok oknum pelaku pembacokan diduga bersembunyi. 

Baca juga: Bentrok Berdarah Debt Collector Vs Petugas Kafe Pecah di Surabaya, Korban 3 Orang: Dipicu Karimun

Ternyata, beberapa saat sebelum itu, ketegangan di tengah kerumunan massa aksi sempat terjadi.

Mereka berusaha masuk menerobos barikade barisan pasukan polisi dan TNI di jalan tersebut, yang memegang tameng serta pentungan. 

Namun, upaya mereka gagal total karena ratusan personel polisi dan TNI berusaha menghalau massa.

Bahkan, beberapa orang peserta aksi tampak melempari bebatuan ke arah petugas yang bersiaga. Hingga beberapa personel pengamanan dikabarkan mengalami luka ringan.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, tak menjawab secara lugas mengenai dugaan adanya beberapa personel pengamanan yang terluka selama mengendalikan massa aksi. 

Namun, ia lebih memakluminya, dan menganggap itu merupakan bagian dari dinamika yang dialami personel pengamanan selama melaksanakan tugas.

Baca juga: Dibakar Alkohol dan Salah Paham, Bentrok di Pamekasan Berujung Maut

"Ah itu biasa itu namanya mah anak-anak. Tapi sudah kita sampaikan dan miskomunikasi saja," ujarnya setelah memeriksa barisan personel di lokasi. 

Luthfie menyebutkan, selama mengawal jalannya aksi solidaritas tersebut, pihaknya menyiagakan sekitar 1.200 orang personel gabungan dari Polri dan TNI. 

Menurutnya, massa aksi cuma ingin mengetahui perkembangan terbaru jalannya penyelidikan dan penyidikan atas kasus pembacokan dua orang pada peristiwa di Jalan Basuki Rahmat Surabaya, tempo hari. 

Oleh karena itu, pihaknya sempat memberikan kesempatan untuk beraudiensi di Mapolrestabes Surabaya guna mendengar langsung penjelasan dari Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Edy Herwiyanto. 

"Terus sudah disampaikan bahwa proses hukum kita lakukan secara profesional. Pelaku yang memang terbukti melakukan tindak pidana kemarin bacokan kami proses," katanya. 

Mengenai perkembangan terbaru penyidikan atas kasus tersebut, Luthfie tak menampik bahwa pihaknya masih berusaha mengejar seorang terduga pelaku lain yang dimungkinkan terlibat dalam aksi pembacokan tersebut. 

Namun, sebelumnya, sudah ada seorang pelaku berinisial SL (32) yang sudah berhasil diamankan dan ditahan selama proses penyidikan kasus tersebut bergulir. 

"Dan memang masih ada satu pelaku yang sampai sekarang masih kita cari," ujarnya. 

Oleh karena itu, Luthfie mengimbau masyarakat untuk mempercayakan penyelidikan atas kasus pembacokan tersebut kepada pihak kepolisian.

Sehingga, diharapkan tidak lagi ada aksi main hakim sendiri dari pihak manapun. 

Bahkan, ia juga menegaskan, pihaknya menyelidiki kasus tersebut secara profesional dan objektif. Tidak akan membedakan atau pandang bulu dengan kelompok masyarakat manapun. 

"Saya juga minta bantuan informasi barangkali warga masyarakat ada yang mengetahui tolong diinformasikan juga kepada kami dan segera kami lakukan upaya paksa untuk proses penangkapan," pungkasnya. 

Bukan Masalah Antara Organisasi

Sebelumnya, Ketua DPD Maluku Satu Rasa (M1R) Jatim, Baharudin Umasugi angkat bicara menanggapi adanya rencana aksi solidaritas dari kubu korban pembacokan di parkiran kafe Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, pada Sabtu (25/7/2026) dini hari, yang direncanakan mendatangi basecamp-nya, pada Jumat (31/7/2026) siang. 

Umasugi menegaskan, pihaknya tetap menghargai adanya aksi solidaritas dari kelompok masyarakat yang peduli dengan adanya insiden tersebut. 

Namun, jika aksi solidaritas tersebut memilih tempat di depan basecamp-nya; Jalan Teuku Umar, ia merasa kurang tepat.

Karena, kasus tersebut sudah diselidiki oleh pihak kepolisian, sehingga lokasi yang tepat untuk menggelar aksi solidaritas adalah di depan Mapolrestabes Surabaya. 

"Kalau aksi sih boleh-boleh saja kan namanya menyampaikan pendapat itu kan dijamin oleh undang-undang. Cuma kalau ke Jalan Tengku Umar kan jadi salah alamat tuh. Karena, rumah Jalan Tengku Umar itu kan rumah tinggal," ujarnya saat dihubungi Tribun Madura Network, pada Kamis (30/7/2026). 

"Kan kemarin juga penyidik sudah tahu saat penggeledahan ada seorang anak kecil, jadi kan cuma rumah tinggal gitu. Dan gak ada urusannya dengan insiden yang di Jalan Basuki Rahmat, kan gitu," tambahnya. 

Umasugi menegaskan, pihaknya tetap kooperatif dan siap berkolaborasi dengan Polrestabes Surabaya, terkait berlangsungnya proses penyelidikan atas insiden di Jalan Basuki Rahmat, beberapa waktu lalu. 

Bahkan, hingga kini, pihaknya tetap terbuka untuk berkomunikasi dengan pihak Polrestabes Surabaya.

Terbukti, beberapa waktu lalu, seorang pelaku dalam insiden tersebut telah menyerahkan diri. 

"Saya juga kan enggak putus-putus komunikasi dengan pihak kepolisian kan terkait hal ini. terkait ini ada kendala, polisi tanya, saya kooperatif, saya jawab. Apa yang saya tahu, saya kasihkan informasi," ungkapnya. 

Terlepas dari itu semua, Umasugi berharap semua pihak untuk menahan diri agar pihak kepolisian dapat bekerja secara objektif guna menyelidiki insiden tersebut. 

Sehingga, jangan sampai ada pihak manapun yang berusaha menarasikan informasi atas kejadian tersebut secara serampangan sehingga menimbulkan konflik horizontal yang melibatkan banyak orang. 

Karena, pada dasarnya, insiden pembacokan di Jalan Basuki Rahmat Surabaya merupakan permasalahan antarindividu dan tidak ada kaitannya dengan kelompok masyarakat manapun. 

"Jadi biarkan polisi bekerja kan gitu. Untuk mengungkap fakta. Saya sih berharap jangan ada framing ke mana-mana, karena ini itu bukan masalah antara organisasi dengan organisasi. kan bukan gitu. Ini kan masalah pekerjaan, individu gitu. Jadi jangan imbasnya ke mana-mana. Malah jadi isu sektoral, bisa jadi konflik horizontal," pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.