Wawancara Eksklusif Dirut PD Pasar Manado Lucky Senduk: Masa Kecil, Pekerjaan, hingga Isu Viral
Rizali Posumah July 31, 2026 11:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Direktur Utama PD Pasar Manado Lucky Senduk membagikan kisah hidup dan perjalanan kariernya dalam Podcast dengan Tribun Manado,  Jumat 31 Juli 2026 sekitar pukul 14.00 WITA.

Mulai dari masa kecil di Sonder, kiprahnya di organisasi, pengalaman menjadi Komisioner KPU, hingga menghadapi berbagai dinamika saat memimpin PD Pasar.

Lucky mengaku selalu berusaha bekerja sesuai aturan dan menyerahkan setiap proses kepada Tuhan.

Podcast kali ini berlangsung di Kantor PD Pasar Manado, Shopping Center, Jalan AA Maramis, Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Manado, Sulawesi Utara dan dipandu oleh Pemimpin Redaksi Tribun Manado, Jumadi Mappanganro. 

Simak selengkapnya:

Bisa diceritakan di mana anda lahir dan bagaimana masa kecil Anda?

Saya dilahirkan di Manado dari ayah seorang pengusaha di Manado, kemudian ibu saya seorang dosen, PNS dan juga seorang politisi.

Ibu saya dua periode menjadi anggota DPRD Kabupaten Minahasa.

Kami asal dari Kecamatan Sonder di mana ibu saya juga di samping sebagai PNS, waktu itu PNS juga bisa berpolitik maka ibu saya jadi anggota DPRD, dan juga sebagai Kepala Sekolah di Sekolah Swasta, di SMA Pembaruan Sonder. 

Jadi ayah dan ibu saya mereka juga mengabdi kepada masyarakat Sonder dengan membuat satu sekolah.

Waktu itu proseesnya bekerja sama dengan Pak Theo Sambuaga (Ketua AMPI waktu itu). Jadi ibu saya Kepala Sekolah di situ sekaligis penanggungjawab dan waktu itu dia juga anggota DPRD. 

Umur 6 tahun dari Sonder tinggal di Manado. Saya lahir tanggal 7 Maret tahun 1972.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena dititipkan di keluarga yang menengah ke atas atau dikatakan sebagai orang mampu.

Kami menikmati masa jayanya cengkih di Sonder.

Orang tua juga punya kebun cengkih. Orang tua kami aktif di gereka sehingga jadi tokoh masyarakat di Sonder.

Ayah saya seorang pengusaha di Manado dan di samping itu dia juga buka bioskop di Sonder di tahun 70an. Nama bioskopnya bioskop sonder.

Jadi saya walapun SD sekolah di Manado tiap weekend pulang ke sonder dan membantu jual karcis bioskop.

Saya bersaudara tiga orang, saya anak ketiga.

Kakak saya yang tertua Hengky kemudian kakak yang kedua Selia sekarang dia (Selia) di Malaysia dan saya yang ketiga. Kami besar di Sonder.

Kalau orang Sonder mungkin banyak yang kenal kami karena memang asal kami dari sana.

Ibu saya juga asal dari Sonder total ada 13 bersaudara kalau bapak saya cuman tiga bersaudara di Manado semua.

Saya SD sekolah di SD Frater Don Bosco, SMP Frater Don Bosco dan tamat di SMA Kristen Tomohon.

Jadi sempat di SMA Don Bosco Manado lalu pindah ke Tomohon.

Setelah tamat ikut SNPTN waktu itu dan bersykur lulus Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado yang waktu itu masuk kedokteran sulit.

Banyak teman-teman yang bilang anak satu ini kok bisa masuk Kedokteran, saya juga kaget, karena motivasi keinginan saya waktu itu ingin masuk Fakultas Teknik. Eh ternyata Tuhan berkata lain lulusnya malah di kedokteran. Sayad i Fakultas Kedokteran Unsrat angkatan tahun 1991.

Teman saya waktu itu banyak, dan mungkin yang dikenal luas saat ini salah satunya Direktur Utama RS Kandouw. D

an banyak teman-teman yang dosen, Kepala Bagian, Spesialis dan lain-lain. Kita semua mengabdi untuk masyarakat. Saya sendiri mengabdi sebagai Direktur Pasar.

Dulu waktu kecil itu cita-citanya Pak Lucki apa sebenarnya? 

Waktu kecil di zaman kita, era tahun 70an 80an itu saya pikir banyak yang suka jadi tentara. Saya juga cita-cita waktu kecil ingin jadi tentara.

Tapi di saat sekolah udah pakai kaca mata oh kayaknya sudah tidak mungkin masuk tentara. Saya mulai pakai kacamata sejak kelas 2 SMP.

Sejak sudah pakai kacamata itu cita-cita sudah beralih jadi Insinyur saja. Tapi akhirnya jadi Sarjana Krdokteran. 

Saya juga di organisasi aktif cukup lama. Di organisasi gereja saya pernah menjabat di gereja Katedral karena kebetulan saya beragama katolik, gereja Katedral di Jalan Sam Ratulangi itu di depan SMA Rex Mundi.

Saya pernah menjabat sebagai Ketua Pemuda di Katedral, kemudian saya juga pernah menjabat sebagai Ketua Kaum Bapak Katedral, pernah juga menjabat Sekertaris Dewan Paroki Katedral.

Kemudian saya sampai hari ini masih menjabat sebagai Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Manado. Jadi saya aktif di organisasi keagamaan. Karena mungkin sudah terbentuk dari kecil ikut orang tua.

Di luar gereja. Saya waktu SMP pengurus OSIS, SMA pengurus OSIS juga, dan waktu kuliah Wakil Ketua Senat. 

Saya juga pernah menjabat Ketua KNPI di Kota Manado, tahun 2005 sampai 2008. Juga aktif di KNPI Sulut.

Teman-teman saya waktu itu banyak. Sekertaris saya di KNPI Manado teman saya Basso Afandi, Bendahara saya Gerarld Taroreh. Banyak dari mereka yang sekarang sudah aktivis juga yang bersama-sama waktu itu. 

Di saat saya Ketua KNPI, saya juga tahun 2003 KPU terbentuk saya termasuk jadi Komisioner pertama KPU di Kota Manado. Sempat hampir dua periode. Karena tahuun 2003 sampai 2010 di KPU. 

Saya menikah tahun 1998 dengan Venny Nangka dan punya dua anak saat ini, Jio Senduk dan Regina Senduk.

Anak saya yang tertua sudah menikah dan punya dua anak, jadi sudah opa ini sudah dua cucu.

Anak saya yang kedua sudah selesai kuliah di Uniersitas Atma Jaya Yogyakarta dan saat ini bekerja di Bali di kantor konstruksi.

Kebetulan dia Sarjana Teknik, jadi dia meneruskan cita-cita saya yang tertunda.

Padahal saya bilang masuk Kedokteran saja, tapi dia bilang tidak dan akhirnya dia diterima di Fakultas Teknik Atma Jaya dan sudah lulus tahun lalu 2025 dan baru lulus langsung sambung kerja di Bali.

Dan kakaknya di Manado juga sudah kerja.

Istri juga saat ini sebagai Amggota DPRD Kota Manado. Jadi kami sekeluarga masing-masing punya kesibukan kerja. Jadi di rumah saat ini cuman kita berdua yang tinggal, saya dan istri. 

Pak Lucky pernah masuk Partai Politik?

Ya. Tahun 2011 saya tidak di KPU saya masuk PDI Perjuangan dari tahun 2011 sampai 2021.

Kenapa 2021? Karena di saat kami mendaftar di BUMD syarat paling utama adalah mengundurkan diri dari kepengurusan Partai Politik makanya saya mundur.

Padahal waktu itu jabatan saya Wakil Ketua PDI Perjuangan Sulawesi Utara, salah satu wakil ketua.

Saya pernah menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Sulut.

Tapi karena saya pernah juga di KPU jadi saya juga banyak berteman dengan orang-orang dari banyak partai karena sebagai anggota KPU harus berteman dengan semua partai.

Jadi ada banyak hal yang kami kerjakan bersama. 

Kadang-kadang ada orang mengatakan, oh kenapa dia jadi Dirut? Tapi ya, saya merasa saya bisa menjalankan tata kelola di Perumda Pasar ini sesuai regulasi yang ada karena terbiasa saya delapan tahun di KPU.

KPU itu regulasinya sangat ketat. Kita setiap hari harus membaca peraturan. Setiap ada perubahan aturan kita harus selesai. Karena sebagai pihak Penyelenggara Pemilu kita harus lebih dulu menguasai aturan daripada Peserta Pemilu.

Makanya karena kebiasaan itu, saat saya di PD Pasar, pekerjaan yang dulu sering saya lakukan di KPU juga saya kerjakan.

Dan juga kan sama-sama dibiayai oleh negara. Pertanggungjawabannya jelas, BPK juga terus memeriksa.

Yang penting kita sesuai aturan sesuai regulasi, kita jalan saja dengan betul-betul dan tulus.

Karena kalau kerja dengan maksud lain maka ujungnya pasti bahaya.

Namanya kerja tentu ada tekanan dan tekanan banyak, tapi ya itulah.

Kita harus kuat berdoa, yang penting kita yakin akan Tuhan, kehidupan kita Tuhan yang mengatur dan kita jalani lalu kita serahkan semua kepada Tuhan. 

Pak Lucky waktu kecil sampai remaja dulu hobinya apa pak? 

Saya dulu di SMP sebagai pemain voli. Pernah ikut kejuaraan antar sekolah. Ada Tim Don Bosco A ada Tim Don Bosco B. SMA juga. Tapi saat kuliah main basket.

Waktu kuliah saja Pengurus Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) juga, jadi belajar-belajar sedikit panjat tebing juga.

Kebetulan waktu di Senat saya Ketua Bidang Minat dan Bakat. Sambil kuliah ikut kegiatan ekstra malah kebanyakan ikut ekstra.

Saya pernah pimpin teman-teman ikut Festival Band di Surabaya antar mahasiswa.

Jadi kehidupan saya bisa dibilang sangat banyak ikut organisasi, banyak ikut kegiatan. Dan itu yang membuat saya jadi banyak teman. Dan pada prinsipnya ya banyak yang medoakan, banyak yang membantu. 

Kalau hobi dari remaja sampai mahasiswa yang sampai selarang masih dilakukan apa?

Kalau sekarang tinggal jalan-jalan. Kadang-kadang di kantor main pimpong (tenis meja), tapi kan kalau kita beraktivitas dari pagi kan terasa kayak olahraga. Di pasar itu saya keliling semua, jalan. 

Sebagai Dirut PD Pasar ini kan tingkat stresnya tinggi, tentu butuh healing juga. Nah apa yang dilakukan Pak Dirut untuk merilekskan lagi pikiran? 

Kita biasa kumpul-kumpul keluarga.

Kalau sudah ada cucu weekend begitu bersama istri main-main dengan cucu di rumah anak saya. Kadang-kadang ajak cucu jalan-jalan. Tapi kadang-kadang di kantor sini cucu saya datang ke sini.

Kalau yang lain-lain ya kita akhir tahun saya dan istri, kadang-kadang minta izin empat lima hari ke Bali bersama istri dengan anak perempuan saya di sana. 

Dua tahun lalu saya ke Yogya waktu dia masih kuliah di Yogya. Dia KKN di Gunung Kidul saya malam Natal malam tahun baru di Gunung Kidul temani dia. Itu bikin saya lebih fresh.

Tekanan banyak, persoalan dan dinamika banyak tapi ya itu, kita kerja dengan tulus dan kita percaya semua sudah diatur oleh Tuhan. Kita bedoa dan jalani dengan santai saja. 

Pak Dir, sebagai Direktur Utama kan beberapa kali sempat viral dengan dinamika yang terjadi di PD Pasar, macam-macamlah yang terjadi menimpa Pak Lucky. Nah apa biasanya kata-kata istri atau kata-kata anak yang bisa menyemangati Pak Dir?

Memang, kadang-kadang ada pasang surut. Maksudnya kadang-kadang mereka kasi semangat: kuat bedoa, jangan lupa ikut misa.

Tapi kadang-kadang mereka juga khawatir seperti yang viral-viral waktu itu ada tuduhan korupsilah dan lain-lain, anak saya yang di Bali bilang: Pak kalau apa berhenti saja kerja. Ini sampai ke saya di Bali mereka kirim-kirim papak korupsi.

Saya bilang: sudah, percaya saja selama (papa) berjalan di jalan yang benar dan yakin tidak pernah bikin itu percaya saja. Akhirnya dia menerima. 

Jadi sebenarnya paling banyak justru anak-anak saya yang khawatir karena ada yang meme-meme itu dikirim juga ke akun medsos anak saya yang ada di Bali. Itu malah ditag ke akun instagram, facebook anak saya.

Tapi ya itu yang penting saya bilang kita komunikasi lancar. Dia (anak yang di Bali) banyak kali video call, cerita. Hubungan kita dekat jadi saling menguatkan. Saya yakinkan bahwa percaya saja bahwa bapak tidak berbuat itu. 

Pak Dir, inikan kesibukan di PD Pasar tinggi dan di organisasi gereja serta organisai lain juga kesibukannya tinggi, bagaimana cara anda membagi waktu antara urusan pekerjaan, organisasi dan keluarga? 

Jadi kita pahami apa yang harus diprioritaskan terlebihdulu.

Jadi kalau pagi itu berarti yang pertama kita prioritaskan ya urusan kantor.

Memang kadang-kadang sampai jam 5 jam 6 sore masih kerja urusan kantor, urusan organisasi saya jalani setelah urusan kantor selesai.

Baru kemudian pulang di rumah sama keluarga tapi hari Sabtu dan Minggu itu harus sama keluarga.

Kadang-kadang saya jalan bersama istri dan anak cucu, jalan ke Mantos ke mana, dan selesai gereja kita makan bersama.

Ya kadang-kadang banyak tidak terlayani undangan sebagai Dirut di hari Minggu ya karena itu, harus saya fokus keluarga.

Ada undangan pesta nikah pesta ini, ya biarlah saya kirim ada papan ucapan dan lain-lain karena harus ada hari bagi saya untuk bersama keluarga. 

Kesibukan ini tentu juga menguras tenaga, lantas apa yang dilakukan Pak Dir supaya tetap selalu sehat? 

Jadi yang pertama tentu pola makan ya, memang kadang-kadang berlebihan tapi tetap dijaga.

Saya kadang-kadang kalau merasa ini bahaya ini kolesterol, yang pertama makan nasi putih saya kurangi, tapi perbanyak minum air putih.

Minum vitamin, ginseng. Kebetulan ada yang kasi ginseng dari Korea saya minum dan terasa fit. 

Kalau olahraga, apa biasa yang dilakukan? 

Kalau saya hanya tenis meja. Dan kadang-kadang ke Pasar ya jalan saja. Dari Calaca jalan saja ke sini. Lalu keliling-keliling pasar juga itu lumayan. 

Pak Dir, dalam beberapa hari terakhir ini kan ada masalah antara pihak PD Pasar dengan pedagang. Ada tidak saran-saran dari Pak Wali Kota? 

Jadi pertama tentunya Pak Wali meminta kami mengelola ini harus juga persuasif. Menjadi penertib harus humanis. Harus pula mendengar keluhan-keluhan dari pedagang.

Pak Wali menyampaikan coba di kaji baik-baik apakah bisa dipertimbangkan kalau ada jumlah pedagang yang katanya lebih apa bisa masuk ke dalam, buatkan kajian coba lihat dulu baik-baik jangan langsung diambil tindakan.

Jadi Pak Wali kebanyakan menyarankan untuk buat kajian-kajian. 

Tapi Pak Wali fokus kalau terkait kebersihan. Nah dalam persoalan kebersihan ini tidak ada kompromi Pak Wali. Bersih ya harus bersih.

Jadi kalau beliau turun ke Manado Bay, Daseng dan lain-lain, lihat yang kotor-kotor langsung bilang ini bagaimana ini. Jadi dia sangat fokus di kebersihan.

Kalau persoalan kebersihan memang tidak ada kompromi, langsung. Malah dimarahi. Tapi kita bersyukur karena kalau pemimpin peduli maka pasti ada teguran. Kalau sudah mendiamkan nah bahaya itu. 

Secara umum apa tantangan dalam mengelola urusan yang diserahkan kepada PD Pasar? 

Menjadi Dirut PD Pasar banyak sekali tantangan. Tantangan yang pertama terkait imej. Imej yang ada, menjadi Dirut PD Pasar itu berarti potensi korupsi besar karena sepanjang periode-periode ini selalu ada yang bermasalah hukum.

Jadi itu. Saat kita duduk kita sudah menjadi target juga bahwa ini potensi korupsi.

Untuk menyikapi ini kita harus tahu tahan diri, lalu kita juga harus tahu mana hak dan kewajiban kita. Jangan kita sembarang. Kalau saya yang penting administrasi lengkap saya terima. Kalau tidak ya tidak. 

Banyak godaan? Pasti. Ada bilang: oh sudah Pak Dirut kita selesaikan itu, Pak Dirut duduk saja, nanti ada. Banyak sekali godaan-godaan seperti begitu. Tapi ya, dari diri kita sendiri, kalau cepat tergoda dengan itu ya selesai.

Kita berhadapan dengan bermacam-macam karakter, ada yang mengerti dan berpendidikan tapi ada juga yang tidak. Dari segala lapisan, dari segaka suku bangsa.

Salah bergerak bisa dibawa ke isu primordial, bisa ke sara. Malah dibawa-bawa ke warna-warni partai. Itu tantangannya.

Saya selalu mengumpulkan teman-teman pimpinan, kita harus mampu menempatkan diri kita. Kita di sini selaku pengelola tidak ada campur tangan dari siapapun. Yang dulu pernah urus partai silakan lepas kita kerja hanya untuk kepentingan pasar.

Saya bilang: kita melayani Kota Manado, pasar bagus maka masyarakat Kota Manado akan merasa puas, maka kita juga merasa terpuaskan atas kerja kita. 

Banyak yang bilang: Pak boleh pakai politik ini pasar sekian ratus pedagang, sekian ribu pedagang suruh mereka jadi tim sukses. Saya bilang: salah itu. Jangan melihat ini secara politik, kalau kita bikin bagus ini pasar pada akhirnya masyarakat akan menilai itu.

Jadi salah jika kita mengarahkan pegawai, salah jika kita mengarahkan pedagang, jangan. Sekali-kali jangan. Lebih baik kita bekerja dengan baik dan biarkan masyarakat menilai dan ikut merasakan manfaatnya dan nanti akan melihat kita di mana dan malah secata politis keuntungannya cukup besar. 

Pak Lucky, ke depan misalnya tidak lagi menjabat PD Pasar apa yang menjadi rencana? 

Pertama kita berupaya bekerja sesuai dengan masa jabatan. Kemudian kebetulan kita bersyukur kepada Tuhan, jabatan saya sebagai Dirut baru diperpanjang sampai tahun 2031.

Ke depan kami masih berharap dipercayakan entah jadi Dewan Pengawas atau apa, karena kalau di saat tahun 2031 kalau bicara politik tidak ada membengkengi politik, karena Pemilu sudah lewat.

Kalau sudah tidak dipercayakan ya kami mengabdi sebagai rakyat.

Entah sebagai aktivis independen yang bisa membantu berbekal pengalaman di KPU, pengalaman di PD Pasar, kita kan boleh juga mengabdi di tempat lain. Menjadi pemerhatilah, melihat kepemiluan hingga mengamati kondisi pasar.

Siapa tahu ada yang panggil jadi konsultan ya kita juga bersyukur.

Karena kan kalau hitung-hitung usia sekarang sudah 54, lima tahun lagi 59. Satu dua tahun dipercayakan dewan pengawas atau direksi lagi 64, kalau sudah di umur begitu ya nikmati sebagai pemerhati saja. Nikmati sebagai umur tua.

Santai, jalani saja, mengabdi di gereja, mengabdi di masyarakat. Nikmati masa tua.

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.